MOJOK.COSalah satu duka penyiar radio adalah sering diganggu setan ketika siaran malam. Seperti saya ini, yang diganggu setan yang dulunya jualan nasi goreng.

Sebagai seorang penyiar radio di salah satu radio swasta, saya dituntut untuk selalu ramah dan berusaha memberikan kenyamanan kepada khalayak yang menelepon saat siaran berlangsung. Tak terkecuali kepada Mbah Entun, sang peneror para penyiar.

Saya dan operator radio menjadi salah satu korban kejahilannya. Saat itu kebetulan saya dijadwalkan untuk siaran malam hari. Tepatnya dari pukul 10 malam hingga satu dini hari.

Risiko siaran malam, kantor menjadi sangat sepi, hanya ada saya dan seorang operator di tempat siaran saat itu. Seperti biasa, saat siaran berlangsung kami mengisi waktu dengan memutar lagu, dan sesekali menerima telepon dari para pendengar yang ingin request lagu atau hanya sekadar bercerita tentang masalah kehidupannya yang kadang nggak penting-penting amat.

Sampai suatu malam, siaran telepon radio berdering. Saat itu tepat pukul 00.03. Saya mengangkatnya.

“Halo, dengan siapa ini?”

Dari seberang hanya terdengar suara orang berbisik dan sesekali terdengar suara tawa cekikikan. Begitu terus selama sekitar satu menit. Karena menyadari ada yang nggak beres, saya menutup telepon tersebut. Semua penelepon yang harus kami hormati. Namun, denger suaranya yang kayak gitu di tengah malam, sumpah nyeremin….

Telepon dari sosok gaib tersebut sukses membuat bulu kuduk saya berdiri. Bang Rian, operator siaran pun sama kaget dan takutnya. Tak lama setelah itu, si operator langsung mengalihkan perhatian dengan kembali memutar lagu.

Di balik suara dari lagu yang diputar, saya dan operator siaran membahas tentang si penelepon misterius tadi.

“Tadi lo denger nggak, Bang? Ini dia alasan gue males siaran malam.”

“Iya parah, suaranya nyeremin. Asli gue merinding.”

Bukan hanya suaranya yang nyeremin, tapi juga ada hal aneh yang kami rasakan. Bang Rian mendengar dengan jelas kalau suara penelepon tadi adalah suara nenek-nenek. Sementara saya dengar dengan jelas suara tersebut adalah suara perempuan yang sepertinya masih muda.

Akhirnya, sebisa mungkin kami melupakan kejadian tersebut dan melanjutkan siaran sebagaimana mestinya. Bang Rian menyuruh saya untuk terus berzikir supaya nggak diganggu lagi. Lagu yang diputar di ruangan tersebut begitu keras, jangankan untuk zikir, untuk mikirin masalah hidup saja nggak fokus. Pikiran Bang Rian memang sama misteriusnya dengan penelepon tadi.

Nggak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 00.35. Bang Rian nawarin saya makan nasi goreng yang dia pesan lewat layanan ojek online. Selang waktu dua puluh menit, pesanan itu datang diantar oleh bapak-bapak driver yang pakaiannya lusuh banget.

Pengantar makanan tersebut hanya memberikan pesanan kami, menerima uang, dan langsung pergi. Tanpa berkata sedikit pun.

Kami makan dengan sangat lahap. Bukan karena lapar, melainkan nasi gorengnya sumpah deh, endul banget.

Keesokan harinya, saya kembali bekerja di jam yang sama, dengan orang yang sama dengan malam sebelumnya. Di malam kedua ini hal misterius kembali terjadi, tepat di pukul yang sama, yakni 00.03.

Menengar bunyi telepon membuat saya ragu untuk menjawab. Setelah tiga kali berdering, akhirnya dari kejauhan Bang Rian mengisyaratkan agar saya menjawab.

“Halo, selamat malam. Dari siapa dan di mana?”

“Entun….”

Penelpon tersebut menjawab dengan suara lirih.

“Baik Entun, mau request lagu atau berbagi cerita?”

Jawaban yang saya dengar adalah helaan napas yang begitu berat.

Saya mencoba bertanya kembali. Namun yang terdengar tetap sama, hanya helaan napas yang kembali membuat saya merinding. Saya mencoba untuk tenang.

“Maaf ya Mbak, kami tidak bisa mendengar suara mbaknya.”

Kali ini tiba-tiba terdengar suara cekikikan yang sangat keras. Refleks, saya langsung melepas dan membanting headphone yang saya kenakan. Bang Rian dengan sigap memutar lagu, dan nggak lama kemudian telepon terputus.

Melihat saya yang kaget dan gemetaran, Bang Rian langsung menghampiri dan mencoba menenangkan.

“Gue takut, Bang.”

“Ada yang gak beres, nih. Kayanya kita diteror. Suaranya sama kayak yang kemarin.”

“Iya Bang, sumpah gue merinding.”

Bang Rian lagi-lagi tetap meyakini bahwa yang dia dengar adalah suara nenek-nenek, sementara saya mendengar suara itu adalah suara perempuan yang rasanya masih muda.

Singkat cerita, jam kerja kami sudah habis. Tepat pukul satu dini hari sebelum pulang, tiba-tiba Bang Rian mengajak saya untuk makan nasi goreng di tempat dia memesan malam sebelumnya.

“Tenang aja, nanti pulangnya gue antar sampai rumah.”

Akhirnya, dengan bantuan GPS, kami menyusuri jalan menuju warung nasi goreng tersebut. Tempatnya cukup jauh dan pelosok, sepanjang jalan gelap gulita dan sepi, hanya ada lampu sorot dari motor Bang Rian.

Setelah sekitar 25 menit perjalanan, kami sampai di warung tersebut. Nggak disangka, warungnya ramai banget. Sampai dini hari pun masih banyak pelanggan yang mengantre.

Warungnya hanya diterangi lampu corong. Uniknya, hampir semua pelanggannya mengenakan pakaian khas orang zaman dulu. Kenapa begini ya. Saya keheranan.

Ibu-ibu penjual nasi goreng itu kelihatan masih muda. Kulitnya terlihat masih kenceng, tapi rambutnya sudah banyak beruban. Tanpa curiga, setelah menunggu nasi goreng dimasak, dengan cepat kami menandaskan satu porsi yang rasanya enak banget.

Setelah selesai, kami bergegas pulang. Saat di jalan pulang….

“Bang, perasaan tadi waktu berangkat nggak lewat sini. Kok lewat kuburan segala sih.”

“Nggak tahu deh, tapi jalannya cuma ini, kok.”

Besoknya, kami kembali siaran malam. Dan lagi-lagi kami menerima telepon di pukul 00.03 yang sudah pasti ini telepon dari orang yang misterius.

“Angkat dong teleponnya,” kata Bang Rian.

“Nggak mau, gue takut.”

Karena telepon terus-terusan berdering, akhirnya dengan terpaksa saya mengangkat.

“Tolong jangan ganggu saya!” Bentak saya tanpa basa-basi.

Dengan suara yang masih lirih, “orang” di seberang itu berkata.

“Hhhhggg… bagaimana rasanya nasi goreng buatan saya? Enak bukan?”

Saya terperanjat. Kali ini bukan headphone saja yang saya banting, tetapi juga telepon sialan itu.

Setelah terbanting, saya masih bisa mendengar suara nenek-nenek tertawa dari seberang. Mengerikan sekali. Seketika, perut saya menjadi mulas.

Menurut keterangan penjaga kantor, dahulunya, Mbah Entun adalah penjual nasi goreng. Usianya memang sudah tua, namun terlihat awet muda dan cantik di usia yang tak lagi muda. Karena kecantikannya, Mbah Entun dibunuh oleh seorang pemuda. Konon, ayah si pemuda itu tergoda dengan Mbah Entun dan berselingkuh dengannya.

Mbah Entun kerap mencari korban untuk dijadikan sebagai “pelanggan nasi goreng” di alamnya. Sudah ada beberapa orang yang terjebak. Konon, beberapa hari setelah makan nasi goreng Mbah Entun, si korban akan merasakan sakit perut yang luar biasa selama beberapa hari.

Sama seperti yang saya dan bang Rian rasakan sehari kemudian… duh!

BACA JUGA Kisah Jenazah Makan Sate di Mall Bekas Rumah Sakit dan pengalaman horor lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Baca juga:  Refleksi Sebulan Bom Surabaya: Ke Gereja Sekarang Berasa ke Barak Tentara