0   +   6   =  

MOJOK.CO Tanya alamat berujung dikepoin adalah aktivitas kikuk yang menyebalkan. Kalau yang ditanya menjawab yang tidak perlu rasanya pengin segera kabur.

Setelah teknologi Google Maps dan Waze makin canggih, tanya alamat saat lagi nyasar sudah dianggap tidak populer. Tapi kalau kebetulan di lokasi yang ruwetnya kayak labirin, terpaksa harus kembali ke cara tradisional. Hmmm, kalau nggak percaya coba terjun ke negeri Sawojajar atau Condongcatur yang jalannya bercabang-cabang itu, langsung terasa buta arah karena banyak rumah yang kembar.

Tanya alamat juga jadi andalan di kala kerabat kita belum mengenal teknologi share loc karena masih boomer. Bahkan orang-orang dengan passion nggoleki balung pisah alias cari keberadaan kerabat yang sudah lama tidak bertemu juga sadar betul pentingnya tanya alamat ke penduduk setempat. Biasanya orang dengan passion demikian hanya mengadalkan sekelumit informasi kalau si A alamatnya di desa X kawasan Y.

Masalahnya, memilih orang saat tanya alamat itu ngaruh banget sama keberhasilan kita sampai tujuan. Semua orang berharap jawaban yang praktis, efektif, dan efisien. Kalau emang nggak tahu, ya jawab nggak tahu, kalau emang tahu ya dijelaskan dengan bahasa yang tidak ambigu.

Yang terjadi di lapangan, orang yang aslinya nggak tahu alamat yang ditanyakan justru tanya balik. Tujuannya buat menutupi rasa bersalah dan rasanya pengin banget berguna bagi yang sedang kebingungan. Mulai dari kepo soal tujuan kita, mau ada acara apa, sampai curcol soal status dirinya yang merupkan pendatang. Defensif amat, padahal yang tanya juga nggak butuh tahu tentang itu. Begini contoh skenarionya.

Baca juga:  Kemauan untuk Didominasi Terwujud dari Pengurus BEM yang Rela Fotonya Diblur

“Permisi, Pak…” Tanya seseorang sambil melepas helm. “Saya mau tanya alamatnya Bu Setyorini bapak tahu nggak ya? Katanya sih di sekitar persawahan di desa Sukatajir gitu, Pak.”

Si bapak mikir sejenak.

“Eee Setyorini ya? Nama suaminya siapa, Mbak?” Si bapak berhenti beraktivitas dan matanya memandang jauh.

“Suaminya orang kelautan, jarang di rumah sih, Pak. Namanya Pak Edi.” Menjawab dengan ekspresi penuh harap.

“Wah, saya tahunya Pak Edi yang punya angkringan, Mbak. Mbaknya nggak punya kontaknya Bu Setyorini? Udah janjian belum, Mbak?”

“Nggak ada pak, hehehe.” Sudah pasang helm bersiap kabur.

“Wah susah ya, Mbak, ada urusan penting ya?” Masih tanya aja.

“Iya, pak.”

“Maaf ya saya nggak bisa bantu. Soalnya saya juga pendatang di sini, baru setengah tahun. Mungkin Bu Setyorini juga bukan tipe yang suka kumpul warga, Mbak, jadiii…” Oalah malah curcol.

Sebenarnya percakapan di atas bisa hanya terjadi dalam tiga puluh detik saja jika si bapak nggak berujung tanya balik saat seseorang sedang tanya alamat. Jawaban-jawaban beliau yang terbilang nggak perlu ini bikin geregetan memang. Tapi mari kita apresiasi usahanya untuk berusaha berguna bagi orang asing yang baru ditemuinya.

Pertanyaan yang jawabannya sering tidak perlu nggak cuma soal tanya alamat. Terkadang orang yang ditanyai jawab macam-macam demi reputasinya sendiri. Misalnya topik soal perkuliahan, ilmu pengetahuan, sampai jaringan pergaulan.

Baca juga:  Pidato Jokowi Soal Diajak Berantem Juga Berani, Gerindra Nilai Itu Anjuran Kekerasan

“Kak, kakak tahu nggak makam Hitler yang katanya ada di Magetan?”

“Wah, emang Hitler meninggal di Magetan? Wah kalau itu nggak tahu, tapi setahuku di Magetan itu ada makamnya Ki Mageti sih. Nah itu wali tuh…”

Jawabannya nggak tahu, tapi malah jadi ngobrolin makam wali-wali. Hmmm, kan lagi nyari makam Fuhrer, Hyung.

Ini baru soal tanya alamat dan pertanyaan-pertanyaan selipan lain dalam kehidupan. Kalau pertanyaannya “Man Robbuka?” tapi jawabannya ngalor ngidul apa nggak gawat tuh.

BACA JUGA Membela Pacaran Duduk Sebelahan saat Makan dengan 7 Alasan atau artikel lainnya di POJOKAN.