Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lagu-lagu Kangen Band di Masa Lalu, Ternyata Jadi Pemicu Beberapa Kekacauan Hari ini

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
19 November 2020
A A
Lagu-lagu Kangen Band di Masa Lalu, Ternyata Jadi Pemicu Beberapa Kekacauan Hari ini

Lagu-lagu Kangen Band di Masa Lalu, Ternyata Jadi Pemicu Beberapa Kekacauan Hari ini

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Siapa yang mengira kalau banyak kejadian di hari ini yang terjadi karena kemunculan lagu Kangen Band di masa lalu?

Kabar comeback-nya Kangen Band ke belantika musik tanah air membuat saya flashback tentang pengaruh band asal Lampung tersebut terhadap budaya pop bangsa ini.

Nyatanya, kepopuleran Kangen Band di masa lalu juga berefek pada pertikaian yang sedang terjadi di antara Nikita Mirzani vs jamaah Habib Rizieq.

Film The Butterfly Effect yang dibintangi Ashton Kutcher telah menanamkan teori kekacauan dalam benak penonton. Disebutkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Begitu pula dengan lagu Kangen Band yang diputar di radio-radio lokal pada awal tahun 2000-an, bermuara pada orasi Habib Rizieq yang menyasar Nikita Mirzani.

Bagaimana bisa tukang cendol dan kuli bangunan di selatan Pulau Sumatera yang memutuskan bermain musik pada 15 tahun lalu, bisa mempengaruhi reaksi warga Petamburan saat ini?

Mari, kita putar mundur waktu.

Pada sekitar tahun 2005, anak muda pada zaman itu menggemari band yang menyanyikan lagu “Tentang Aku, Kau, dan Dia”. Kemisteriusan band tersebut bikin penasaran para penikmat musik. Lantas mereka kompak request lagu Kangen Band di radio. Belum cukup sampai situ, CD album musik bajakan Kangen Band pun diputar di rumah, warnet, dan toko bangunan.

Gerakan kolektif itu membuat nama Kangen Band naik ke permukaan. Band tersebut dicap oleh masyarakat sebagai band hantu karena terkenal lewat album bajakan. Membuat produser musik tertarik dan mencari band tersebut untuk diorbitkan secara legal dan halal.

Setelah Kangen Band resmi merilis album asli, mulailah bermunculan band-band dengan genre musik serupa. Bisa dibilang Kangen Band telah menciptakan tren baru saat itu. Sebagai pendahulu, Dodhy dan kawan-kawan berjasa membuka jalan di jalur sutera bernama pop Melayu.

Produser musik saat itu menggenjot band-band untuk turun berduyun-duyun ke ranah industri untuk memeriahkan arus pop Melayu. Setiap daerah seolah mengirimkan bandnya ke ibu kota untuk mengadu nasib. Sebutlah ST 12, Armada (saat itu masih bernama Kertas), D’Bagindas, Vagetoz, Hijau Daun, Angkasa, Wali, Matta, dll.

Nah, di antara puluhan grup musik itu, ada satu band pop Melayu yang turut memanfaatkan ombak, yaitu The Potters.

Sampai saat ini, JK Rowling belum konfirmasi apakah band ini adalah benar bentukannya dan termasuk dalam waralaba The Magical Worlds of Harry Potter. The Potters bisa dibilang one-hit wonder dengan lagu berjudul “Keterlauan”.

Namun, drama percintaan vokalis The Potters bernama Kiki adalah titik balik dalam cerita ini. Di infotainment saat itu, muncul pemberitaan bahwa Kiki The Potters dituduh melakukan penganiayaan terhadap mantan pacarnya yang bernama Nikita Mirzani.

Iklan

Yups, dari sinilah Nikita Mirzani mendapatkan momentum untuk melesat sebagai figur di dunia keartisan.

Dimulai dari acara Take Me Out Indonesia pada 2010, jadi bintang film khusus adegan hot, dan 10 tahun kemudian, blio menjadi salah satu artis terkaya di Indonesia. Membuatnya punya tenaga ketika mengeluarkan opini dan dapat atensi sehingga jadi kontroversi.

Kunci eksistensinya di dunia hiburan, Nikita Mirzani selalu menjaga relevansinya dengan mengikuti isu terkini. Dari mulai kritik Puan Maharani yang mematikan mic saat sidang di DPR, sampai menyenggol jamaah Habib Rizieq yang bikin bandara lumpuh.

Bayangkan, jika Andika dan kawan-kawan tidak menceburkan diri ke dunia musik saat itu, Kangen Band tidak akan ada. Lantas musim pop Melayu tidak pernah terjadi di Indonesia.

The Potters tetaplah menjadi nama keluarga penyihir di novel fantasi, tidak dijadikan nama band oleh si Kiki. Kiki pun mungkin tidak akan berkesempatan pacaran dengan Nikita Mirzani, apalagi sampai masuk infotainment ketika putus.

Nyatanya, preferensi musik masyarakat memang bisa menciptakan pasar. Pasar menciptakan budaya. Budaya berpengaruh terhadap nasib bangsa.

Namun, kita tetap harus haturkan terima kasih kepada Kangen Band. Berkat musiknya, kita jadi mengenal sosok Nikita Mirzani melalui kronologi di atas. Sebagai gantinya, Nikita Mirzani mengenalkan kita kepada sebuah sikap independen.

Saat ini, Habib Rizieq bisa dikatakan menjadi oposisi nomor wahid di negeri ini. Sementara pemerintahan dikangkangi oligarki duet maut kubu Jokowi dan Prabowo. Namun, Nyai bisa menunjukkan dirinya tetap bisa melawan tirani petahana.

Di sisi lain masih punya tenaga mengkritik golongan konservatif (oposisi) yang berseberangan ideologi dengannya. Tak perlu repot-repot merapat dengan kubu “lesser evil” seperti ketika pemilu.

Jadi kalau kamu nggak satu suara dengan Nyai, kamu pun nggak perlu gabung jadi Laskar-Nikita-Mirzani juga sih.

BACA JUGA Kamu Rindu Sukarno? Kangen Soeharto? Tenang, Ada Pak Jokowi dan tulisan Haris Firmansyah lainnya.

Terakhir diperbarui pada 19 November 2020 oleh

Tags: Habib RizieqKangen BandlaskarmelayuNikita Mirzanist12
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Ragam

Selamat Datang, Post-Truth: Era di Mana Influencer Problematik Promotor Judol Lebih Dipercaya Ketimbang Ahlinya Ahli

30 Oktober 2024
Judi Online, judol.MOJOK.CO
Esai

Iklan Judi Online Nikita Mirzani Itu Ganggu Banget, tapi Siapa yang Berani Melawan?

17 Februari 2024
Kiki Ucup: Pestapora, Lagu 2000an, hingga Musisi Reunian
Video

Kiki Ucup: Pestapora, Lagu 2000an, hingga Musisi Reunian

15 Agustus 2022
Raja Ali Haji: Peletak Dasar Tata Bahasa Melayu, Acuan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pemersatu
Video

Raja Ali Haji: Peletak Dasar Tata Bahasa Melayu, Acuan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pemersatu

7 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.