Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Sosial

Fenomena Orang Tajir Pamer Kekayaan, Pakar UGM Ungkap Alasan Flexing

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
1 Maret 2023
A A
kebiasaan flexing mojok.co

Ilustrasi anak orang kaya (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Pejabat publik yang hobi pamer kekayaan atau flexing di sosial media lagi ramai jadi pembicaraan. Kebiasaan ini ternyata ada penjelasannya secara psikologis.

Gaya hidup mewah pejabat publik banyak diperbincangkan akhir-akhir ini. Hal ini bermuara usai kasus penganiayaan yang dilakukan Maria Dandy Satrio, anak pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo terhadap anak salah satu putra kader GP Ansor, David Ozora.

Dandy ternyata memiliki kebiasaan gemar pamer harta kekayaan alias flexing di media sosial. Termasuk yang paling ramai dirujak warganet adalah sikap arogannya pamer moge di jalanan—yang belakangan diketahui belum dibayar pajaknya.

Lantas, muncul pertanyaan, mengapa orang-orang tajir termasuk anak pejabat seperti Dandy gemar flexing?

Flexing dan haus pengakuan orang lain

Pengamat psikologi sosial UGM Lu’luatul Chizanah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan flexing di media sosial, salah satunya bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain terutama dalam kelompoknya.

“Teknik manajemen impresi dengan memamerkan barang-barang mewah dilakukan untuk membuktikan jika ia layak masuk dalam komunitas tertentu,” jelas Lu’luatul, dikutip dari laman ugm.ac.id, Rabu (1/3/2023).

“Harapannya dengan memamerkan tas branded atau barang mewah lain, maka orang lain akan menilai ‘saya layak masuk ke kalangan elite’,”paparnya melanjutkan.

Lebih jauh, menurut Dosen Fakultas Psikologi ini, perilaku flexing di media sosial sebetulnya juga menunjukkan self-esteem yang lemah dari seseorang.

Kajian psikologi mendefinisikan self-esteem sebagai pikiran, perasaan, atau pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Kesehatan self-esteem penentunya adalah seberapa orang dapat percaya dengan diri sendiri, mencintai diri sendiri, mengapresiasi diri sendiri, dan menghargai diri sendiri.

Dengan demikian, kata Lu’luatul, orang yang melakukan flexing sebenarnya tidak mempunyai kepercayaan terhadap nilai dirinya. Akhirnya, pamer harta secara gila-gilaan sebagai upaya untuk menutupi kekurangan harga diri dengan membuat orang lain terkesan.

“Dengan memposting sesuatu yang berharga bagi kebanyakan orang dan di-like ini seperti divalidasi, merasa hebat dan berharga karena orang-orang menjadi kagum pada dirinya,”terangnya.

Fenomena gunung es pejabat pamer kekayaan

Perilaku flexing salah satu anak pegawai Ditjen Pajak merupakan fenomena gunung es. Ada dugaan praktik-praktik serupa telah menjamur di kalangan pejabat lain.

Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta menyebut, bahwa fenomena tersebut berbahaya karena bakal membawa masyarakat masuk ke jebakan besar liberalisasi ekonomi. Dampaknya, orang akan mewajarkan perilaku konsumerisme dan gaya hidup elite.

“Gaya hidup semacam itu membawa dampak berat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi tidak pernah punya kepekaan, ada begitu banyak orang yang sumber keuangan negara akan dihabiskan dengan perlombaan gaya hidup seperti itu,” papar Dosen Departemen Sosiologi UGM ini.

Iklan

Lebih lanjut, ia menyebutkan, liberalisasi ekonomi dengan praktik gaya hidup yang kompetitif dan berlomba mengejar kelas elite, tanpa sadar telah mengkhianati kehidupan bersama sebagai sesama warga negara.

“Ini menjadi bentuk pengkhianatan solidaritas hidup bersama sebagai bangsa-negara,”tuturnya.

Lu’luatul juga mengatakan hal yang senada. Menurutnya perilaku flexing hanya bakal menimbulkan pandangan keliru di masyarakat terkait kepemilikan material. Banyak orang akhirnya akan berpikir bahwa untuk dihargai harus punya gaya hidup seperti yang dipamerkan para pelaku flexing.

“Bisa terbentuk pandangan, akan dihargai kalau punya sesuatu. Ini kan jadi pemahaman yang berbahaya sementara aspek lainnya akan diabaikan,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Pejabat Bea Cukai Yogyakarta Viral Pamer Kekayaan, Cederai Tingginya Angka Kemiskinan

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2023 oleh

Tags: anak orang kayaflexingMario Dandyorang kayapamer kekayaanrafael alun
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Kampus

Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja Dihujat karena Flexing dan Dianggap Glamor, padahal Hidupnya Nelangsa

30 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

8 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.