Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Psikolog UGM: Ada Dua Tujuan Orang Melakukan Mutilasi

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
22 Maret 2023
A A
Jenazah korban mutilasi di rumah duka. MOJOK.CO

Jenazah korban mutilasi di rumah duka. (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Psikolog forensik Universitas Gadjah Mada (UGM), Koentjoro mengatakan pelaku mutilasi biasanya ada dua tujuan. Tujuan mutilasi seperti peristiwa yang terjadi di Pakem, Sleman bisa dilihat dari kondisi korban serta keadaan di tempat kejadian perkara. 

Menurut Koentjoro, dua tujuan yang melatarbelakangi kasus mutilasi biasanya untuk menghilangkan jejak atau kesadisan karena melampiaskan kemarahan kepada korban. Konteksnya pelaku mempelajari 

Iklan

Guru Besar Psikologi itu menyebutkan, melihat kasus mutilasi yang terjadi di Pakem, Sleman ada unsur ‘belajar’ yang dilakukan tersangka. Pelaku mempelajari ketika mereka kalap dan membunuh maka kemudian ia memutilasi korban.

Bila tujuannya untuk menghilangkan jejak, maka pelaku melakukan mutilasi saat korban sudah meninggal dunia. Sedangkan bila mutilasinya saat korban masih hidup maka hal itu sebagai bentuk kemarahan atau kesadisan.

“Kalau saat masih hidup kemudian pelaku memutilasi-kan korban masih merasakan kesakitan, ini bentuk kesadisan,” ujarnya.

Untuk mengetahui perbedaan mutilasi saat korban masih hidup atau sudah meninggal bisa melihatnya dari kondisi darah korban di TKP. Bila masih hidup maka banyak darah yang terpercik di mana-mana karena saat itu jantung korban masih memompa darah. 

Namun, bila mutilasi terjadi saat korban sudah meninggal dunia, maka tidak akan banyak darah tercecer. Sebab jantung korban sudah tidak berfungsi memompa darah.

Dugaan disiksa, tujuan mutilasi bisa karena kemarahan

Karenanya Koentjoro menduga korban mutilasi di Pakem terlebih dulu mendapat siksaan sampai meninggal dunia. Baru kemudian pelaku melakukan mutilasi.  Pelaku melakukannya karena kalap yang akibat eskalasi kemarahan. 

“Jujur, perlu mengetahui juga si perempuan kenapa berada di hotel, apa profesinya, kemudian kenapa ia mau dibawa ke hotel di Kaliurang, apakah ada suatu masalah. Baru bisa menyimpulkan [kenapa korban bisa sampai memutilasi korbannya]. Tetapi ada kemungkinan besar adanya eskalasi kemarahan, sehingga pelaku kalap,” imbuhnya.

Berita sebelumnya, kasus mutilasi menghebohkan Yogyakarta setelah penjaga hotel menemukan mayat dalam kondisi terpotong di sebuah penginapan di Pakem, Sleman. Korban AI (35) warga Patehan Yogyakarta. Polisi sendiri telah melakukan penangkapan terhadap pelaku yang bersembunyi di Temanggung.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sempat Bersembunyi di Temanggung, Polisi Tangkap Pelaku Mutilasi dan tulisan menarik lainnya di Kilas.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2023 oleh

Tags: Kriminalmutilasipakempembunuhan
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO
Esai

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum MOJOK.CO
Esai

Jalan Lintas Sumatra Dibuat untuk Mengangkut Kekayaan ke Jawa: Tempat Lahirnya Shinobi Kriminal Jalinsum

1 Juli 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO
Esai

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO
Esai

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Konferensi pers menuju lima tahun Cherrypop sebagai lebaran skena MOJOK.CO

Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang

10 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.