Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Ekonomi

Gerabah Klaten, Warisan Sunan Pandanaran dengan Teknik Cetak Miring

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 September 2023
A A
gerabah klaten warisan sunan pandanaran mojok.co

Perajin gerabah di Klaten (klatenkab.go.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Industri gerabah Klaten punya sejarah yang panjang. Salah satu ciri khasnya menggunakan teknik cetak miring warisan Sunan Pandanaran.

Desa Wisata Melikan, yang terletak di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, merupakan salah satu sentra kerajinan gerabah paling terkenal di Jawa Tengah.

Wilayah ini terkenal dengan produk “gerabah Bayat” karena lokasinya berbatasan langsung Kecamatan Bayat. Kerajinan gerabah di desa ini punya ciri khas tersendiri, yakni dibikin dengan teknik putaran miring.

Namun, tahukah kalian bahwa tokoh penyebar agama Islam di Klaten yakni Sunan Pandanaran jadi orang yang mewariskan teknik tersebut di Desa Wisata Melikan? 

Gerabah Klaten dan peran Sunan Pandanaran 

Pangeran Mangkubumi atau yang punya nama lain Sunan Tembayat alias Sunan Pandanaran merupakan putra bupati pertama Semarang, Ki Ageng Pandanaran. Sunan Pandanaran sendiri merupakan tokoh yang menyebarkan agama Islam di Bayat, Klaten.

Dalam catatan historis, memang tak terlalu jelas sejak kapan tradisi pembuatan gerabah dimulai oleh Sunan Pandanaran. Namun, sebagaimana melansir klatenkab.go.id, para pengrajin meyakini bahwa kerajinan gerabah Klaten sudah ada sejak abad ke-15. Hal ini diperkuat dengan keberadaan Gentong Sinogo yang merupakan tempayan berisi air untuk berwudu.

Keberadaan Gentong Sinogo sendiri punya nilai historis. Pada abad ke-15, Sunan Kalijaga mengutus Sunan Pandanaran untuk berdakwah di wilayah yang saat ini bernama Kecamatan Bayat.

Konon saat sampai di Bayat, sekawanan perampok mengikuti Sunan Pandanaran. Tapi, setelah tahu bahwa yang dirampok itu adalah Sunan Pandanaran, para perampok ini ketakutan dan meminta ampun.

Sunan Pandanaran pun mengajak para perampok untuk bertobat dan menjadikan mereka murid pertamanya di Bayat. Murid-muridnya inilah yang kemudian membuat gentong sebagai tempat wudu. Itulah yang kemudian jadi awal mula pembuatan gerabah di sana.

Sejak berabad-abad, tradisi membuat gerabah ini terus dirawat. Kini, ribuan warga telah mewarisi keahlian membuat gerabah dan menjadikannya sebuah industri seperti di Desa Wisata Melikan.

Teknik putaran miring jadi keunikan

Dalam seni pembuatan gerabah, teknik putaran miring dengan menggunakan roda putar datar sebenarnya ada di beberapa daerah. Tapi, jika kita mengamati secara saksama ada yang beda di Desa Melikan: roda putar yang digunakan tidak datar, melainkan dimiringkan beberapa derajat ke depan sehingga teknik pembuatannya disebut teknik putaran miring.

Secara kuantitas, produksi gerabah dengan teknik putaran miring memang dapat menghasilkan produk lebih banyak jika daripada teknik lainnya, seperti celup tuang dan teknik putar biasa.

Akan tetapi, ada alasan lain mengapa warga Desa Wisata Melikan memilih menggunakan teknik ini. Ternyata, dulu para pengrajin gerabah di sini mayoritas adalah perempuan. Pada masa itu, mereka masih memakai pakaian adat Jawa yaitu dengan menggunakan kebaya dan kain jarik.

Oleh karena itu, untuk menjaga kesopanan para perempuan ini menggunakan teknik putaran miring yang mengharuskan mereka duduk miring. Dengan posisi miring seperti itu, mereka menjaga etika kesopanan dengan tidak membuka paha ketika bekerja. 

Iklan

Secara fleksibilitas pun, teknik putaran miring juga memberikan kemudahan bagi pekerja perempuan yang memakai kain jarik panjang. Sebab, mereka tidak perlu menekuk kakinya saat bekerja.

Menarik perhatian peneliti

Keunikan teknik gerabah Klaten ini pun menarik perhatian para akademisi di belahan dunia. Guru besar Fakultas Seni Kyoto Seika University di Jepang bernama Chitaru Kawasaki adalah salah satunya.

Chitaru rela jauh-jauh datang dari Jepang ke Klaten pada 1992 untuk meneliti tentang teknik putaran miring karena di sini merupakan satu-satunya daerah yang menggunakan teknik ini. Selain itu, ia juga mendirikan laboratorium gerabah di daerah tersebut.

Chitaru sendiri populer sebagai salah seorang penggagas berdirinya SMK jurusan seni kerajinan pertama di Indonesia bersama yayasan Titian Foundation dan Qatar Foundation. Pada 2009, sekolah itu resmi beroperasi bernama SMK N 1 ROTA (Reach Out To Asia) Bayat.

Jika kita menilik catatan ini, gerabah Klaten yang ada di Desa Melikan terbukti mempunyai sejarah yang panjang dan keunikan tersendiri. Jadi penasaran mau datang sentra gerabah di sana dan mengoleksi produknya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Mengenal HR Soeharto, Pahlawan Nasional Asal Klaten: Pernah Temani Bung Karno ‘Nembung’ Calon Istri Hatta
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 6 September 2023 oleh

Tags: Gerabah Klatenklaten
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO
Sosok

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co
Pojokan

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.