Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Curhat Petani Kopi dari Lampung: Sedih, Indonesia Terancam Keluar dari Zona Liga Champions Kopi

Redaksi oleh Redaksi
29 Juli 2023
A A
Curhat Petani Kopi dari Lampung: Sedih, Indonesia Terancam Keluar dari Zona Liga Champions Kopi. MOJOK.CO

Ilustrasi Curhat Petani Kopi dari Lampung: Sedih, Indonesia Terancam Keluar dari Zona Liga Champions Kopi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya, seorang petani kopi dari Lampung Barat yang tengah menimba ilmu di Jogjakarta, jaraknya sekitar 600-700 km dari kampung halaman. Setiap akhir pekan, ritme hidup saya menjadi semarak ketika orang tua, si ibu dan bapak, menelpon atau melakukan video call. 

Namun, belakangan ini, perbincangan kita tak lagi segembira biasanya. Gara-gara musim panen kopi robusta yang bikin kepala pening.

Kok gagal panen di Lampung

Kejadian aneh terjadi di kebun kami dan seluruh kabupaten. Sepertinya iklim lagi bikin ulah. Saat kopi berbunga dan pembuahan, hujan terus menerus datang, bikin bunga gagal jadi buah atau malah jadi biji kopong. 

Jangan salah, bukan hanya di kebun kami, tetapi di kampung-kampung lain yang menjadi basis produksi kopi juga gitu. Jadi, kita bertanya-tanya, apakah ibu bumi lagi nyinyir dan memutuskan nggak suka sama kopi? 

Kopi adalah nafas kami, keluh bapak, ibu dan semua petani di sini. Jika gagal panen terus-menerus, bagaimana kami bisa bertahan? Selain merugikan pendapatan, ini juga mempengaruhi kualitas hidup kami. 

Menyaksikan tanaman kopi yang kami rawat dengan penuh cinta gagal berbuah, seperti menyaksikan kisah cinta gagal tanpa akhir yang bahagia. Namun, semangat petani tak pernah padam. 

Kami tetap berusaha mencari solusi dan mendukung satu sama lain. Sembari bersandar pada kisah-kisah lucu di ladang, kami menghadapi tantangan ini dengan tawa dan gigih.

Liga Champions Produksi Kopi, eits bisa degradasi?

Kemarin-kemarin, kita bangga banget, Indonesia posisi keempat dari sepuluh negara terbesar produsen kopi di dunia. Hore! Zona Liga Champions bagi dunia kopi! Tapi, berita terakhir bikin ge-er. Ada kemungkinan degradasi dari posisi itu, bisa-bisa kita di-relegasi. Apa nggak lucu? Dari liga elite kok bisa terjatuh begitu saja? Jangan sampe deh!

Ini bukan sekadar lelucon semata. Degradasi dari posisi Liga Champions Kopi bisa berdampak besar pada kesejahteraan para petani kopi. Sudah banyak perjuangan yang kami lakukan untuk mencapai prestasi ini, tapi seperti ada ‘hakim garis’ tak adil yang menghadang. 

Pemerintah harus lebih serius mengatasi masalah ini. Mungkin kita tak bisa mengendalikan iklim, tapi pemerintah bisa melakukan langkah-langkah strategis untuk mendukung petani menghadapi tantangan ini.

Degradasi Kok Ngeri, Pemerintah Mesti PD!

Kita semua takut degradasi, termasuk pemerintah. Harusnya, pemerintah jadi PD dalam menghadapi masalah. Saling bekerjasama, saling mendukung, jangan ada yang mau melepaskan gengsi. Ini tentang masa depan industri kopi dan petani yang jadi garda terdepan menghadapi tantangan alam yang tak kenal ampun.

Sebagai petani, kami selalu siap bekerja keras dan menghadapi cobaan alam. Tapi kami juga butuh dukungan dan kejelasan arah dari pemerintah. Jangan biarkan degradasi meruntuhkan semangat kami untuk terus berjuang dan berkontribusi bagi negeri ini. 

Jika pemerintah dan seluruh pihak terkait solid dalam menangani masalah ini, kami yakin keajaiban kopi Indonesia akan tetap terjaga, dan kami bisa berbagi tawa dan kemenangan bersama.

Iklan

Kopi lagi ngetrend, petani kopi malah KO

Dunia kopi lagi ngetrend. Semakin banyak coffee shop dan skena kopi yang berkembang. Saking asyiknya, kita kayak lupa kalau petani adalah ujung tombak itu semua. Kalau nggak ada petani, nggak bakal ada kopi, kan? 

Harusnya, sambil merayakan tren kopi, petani juga harus dijaga dan diberdayakan, dong. Bukan cuma fokus bisnis, tapi juga sama-sama mikirin penanganan masalah seperti iklim yang bikin nggak karuan.

Kita bahkan jadi bingung sendiri kalau urusan permodalan atau riset dan pengembangan untuk petani sering terabaikan. Padahal, di zaman digital ini, banyak teknologi yang bisa membantu petani menghadapi perubahan iklim. 

Jangan hanya sibuk dengan cupping dan roasting, tapi juga bantu petani mencari cara adaptasi yang lebih baik. Jangan sampai petani yang kerja keras akhirnya jadi hanya penonton di panggung kopi yang semakin rame ini.

Pengolahan kopi ke, penanggulangan iklim ngaco

Pelatihan pengolahan kopi sih banyak, tapi nggak ada yang serius ngurusin penanggulangan masalah iklim yang makin kacau ini. Mungkin pihak terkait pada sibuk dengan resep-resep baru buat minuman kopi, sampe lupa hal-hal yang lebih penting. Padahal, kalau nggak ada kopi yang berkualitas, minuman kopi baru juga nggak bakal bergengsi, kan? Lucu deh!

Kami sangat mengapresiasi upaya untuk meningkatkan kualitas dan inovasi di industri kopi. Tapi, tolong jangan lupa sama kami, para petani. Kita butuh bantuan dan penanganan yang lebih serius dalam menghadapi perubahan iklim. 

Selain itu, mungkin saatnya pemerintah mendengarkan para ahli pertanian dan botani yang mumpuni, agar strategi yang efektif bisa dirumuskan untuk menanggulangi tantangan ini.

Panggih Suseno Jl. Flamboyan II No.34,, Depok, Sleman, D.I.Y [email protected]

BACA JUGA Uneg-uneg dari Ketua Kos di Solo untuk Teman-teman Kosnya di Masa Lalu yang Super Jorok dan keluh kesah lain dari pembaca Mojok di UNEG-UNEG.

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2023 oleh

Tags: kopiLampungpetanipetani kopi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO
Esai

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO
Catatan

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO
Esai

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh Petani adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani MOJOK.CO
Esai

Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani

2 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.