Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Jupiter MX, Si Motor Bebek Super

Iman Musyaffa oleh Iman Musyaffa
9 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jupiter MX bisa dikatakan motor yang agak nanggung. Dia bukan motor sport, bukan pula bebek. Makelar motor biasa menyebutnya sebagai Si Bebek Super.

Motor irit dan pelan itu wajar, boros dan kencang itu lumrah. Nah kalau irit dan kencang, jelas itu motor yang diidamkan banyak orang. Apalagi syukur kalau murah, dapat cash back dan kalau bisa dapat hadiah umrah sekalian.

Iklan

Adalah Yamaha Jupiter MX, motor yang anti mainstream, tidak begitu irit namun juga tidak begitu kencang. Bukan motor sport namun juga tidak terlalu bebek. Makelar motor menyebutnya sebagai bebek super.

Motor yang sekarang sudah disebut OJMX (Old Jupiter MX), telah saya idolakan sejak MX pertama kali lahir di bumi. Tepatnya saat awal saya masuk MTs tahun 2005.

“Wuiiihh, motornya Komeng! Kok bibirnya enggak ndower dan bajunya enggak robek-robek kaya di iklannya?”, begitu kurang lebih pertanyaan yang membenak dihati saat MX mengaspal, yang saya amati dari atas sepeda onthel sepulang sekolah.

Sayang, keinginan menunggangi Jupiter MX harus menunggu 6 tahun. Syukur, tidak lebih parah dari menunggu keberangkatan haji yang sampai 20 tahun itu.

Tidak seperti anak Pak Lurah yang jika punya keinginan bisa sakdeg saknyet. Orang tua saya janji membelikan Suzuki Satria Fu jika saya bisa menyelesaikan mondok di Kebumen dan membawa pulang ijazah SMK. Mungkin pemahaman orang tua saya ketika itu, karena Satria Fu sangat tersohor, maka motor ini menjadi syarat wajib pemuda ganteng desa.

Berbeda dengan keyakinan mereka, saya tidak butuh Satria Fu. Bagi saya, seorang kesatria dapat mengalahkan musuh dengan senjata, sedangkan seorang raja bisa mengalahkan musuh hanya dengan tatapan mata. Maka saya tidak butuh senjata berupa Satria Fu untuk menang menaklukan wanita. Saya hanya butuh Raja King! Eh, enggak ding. Soalnya Yamaha King terkenal sebagai motornya preman. Hehe

Maka, keputusan saya telah bulat. Saya memilih Jupiter MX, si adiknya King, sesama 135 cc. Itu pun MX second tahun 2009, yang baru saya tunggangi di tahun 2011, dan pada saat itu, sudah lahir New Jupiter MX tahun 2010. Jadi, MX idaman itu enggak ada baru-barunya.

Memilih MX lawas sebenarnya pertimbangan kedua. Saat itu, kondisi orang tua yang harus mendaftarkan saya kuliah, menjadi skala prioritas. Saya memilih untuk tidak minta Jupiter MX yang baru, apalagi menagih Satria Fu yang dijanjikan, karena pasti akan jauh lebih mahal. Raja yang bijak, memang harus sering tahu diri.

Maximize yang kemudian disingkat menjadi MX itu, pada zamannya memang bukan motor jelek yang dipaksa kerja rodi untuk ngarit seperti nasibnya Astrea. Bukan pula motor para priyayi yang biasanya lebih suka menggunakan Supra X 125. Namun MX juga bukan motor balap karena sudah ada Ninja, King, Fiz R, Satria Fu dan sederet motor penikung pacar orang lainnya.

Selain agak boros dan agak pelan, ada beberapa titik kelemahan MX lainnya. Seperti kapasitas tangki yang ciut, tarikan gas yang berat, komstir yang tidak pernah awet, baut body yang jumlahnya hampir sama dengan bulu kucing, sehingga akan menyusahkan Om Montir yang kebagian jatah nyervis.

Semua kekurangan itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap kasih sayang saya terhadap MX. Bagi saya, MX itu seperti Indonesia. Sangat banyak yang saya tidak sepakat, tapi tetap saya cinta.

Di SMK dulu, saya diajari bagaimana menyayangi mesin. Karena saya baru menunggangi MX selulus SMK, maka stok kasih sayang kepada mesin saya luapkan sepenuhnya padanya. Dengan rutin servis, ganti oli, ngurusin air radiator dan air aki, serta rajin memandikan walau kondisinya masih bersih.

Iklan

Jika sewaktu-waktu si MX meminta ganti shock, gear seat, ban, stang piston dan spare part mahal lainnya, dengan lapang dada saya kumpulkan receh sisa fotokopi tugas kuliah demi memenuhi kebutuhan MX.

Semua perhatian, saya curahkan padanya. Hampir seperti kasih sayang orang tua kepada anaknya. Bukan seperti Ninja dan Satria Fu yang membuat penunggangnya auto-sombong dan sok ganteng, MX mengajarkan saya bagaimana menjadi raja yang low profile, tanpa memaksa orang lain untuk mengakui kegantengan melalui knalpotnya yang bising.

Konsekuensi logis dari suara langsam MX yang bekerjasama dengan tatapan misterius penunggangnya, dapat membuat wanita mendadak pasrah. Tercatat jok MX saya pernah membonceng 10 mantan khilaf yang kelasnya jauh lebih elegan dibanding kimcil.

Bukan berarti saya playboy dan sebenarnya saya juga sangat tidak layak dibilang ganteng. Semua itu berkat MX, motor kalem yang cukup pandai menyembunyikan kewibawaannya.

Puas dikerjain kampus selama hampir lima tahun, dan satu tahun lebih meresapi lagu sarjana mudanya Om Iwan Fals. Akhirnya saya murtad dari idealisme anti kapitalis yang saya yakini semasa kuliah. Bekerja pada kapitalisme global membuat saya mampu menukar tambah MX dengan motor lain. Hanya karena ingin pamer kepada tetangga bahwa saya sudah bekerja, sebab pamer dengan pesta hajat nikahan masih dirasa terlalu mahal.

Pertama, MX saya tukar tambah dengan Vario 125 warna putih. Vario mengikis kasih sayang saya, menjadi sering marah dan bingung diparkiran mencari motor karena banyak yang menyamai. Kemudian, Vario saya tukar dengan Old Vixion, namun masih saja belum sreg dihati.

Lalu ganti lagi dengan Mio Soul GT, ternyata matic berteknologi blue core yang desainnya laki itu sama sekali tidak membuat saya menjadi lebih laki.

Setelah merenung setiap malam, kini saya akui lebih gampang move on dari para mantan, dibanding harus move on dari Old Jupiter MX.

Ahhh, Jupiter MX-ku. Terima kasih atas keikhlasanmu yang sempat menemaniku, sumpah aku rindu!

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2018 oleh

Tags: Jupiter MxMotor Bekasmotor idamansatria fusepeda motor lawasVario 125
Iman Musyaffa

Iman Musyaffa

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO
Sehari-hari

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO
Sehari-hari

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO
Pojokan

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.