Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Balasan untuk Tulisan Iqbal Aji Daryono dan Alasan Tepat Menyalahkan Pandji Pragiwaksono

Ilham Ibrahim oleh Ilham Ibrahim
24 Januari 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Balasan untuk tulisan Iqbal Aji Daryono yang merasa Pandji Pragiwaksono tidak salah-salah amat soal FPI, NU, dan Muhammadiyah.

Pertama-tama saya harus menyampaikan disclaimer. Saya simpatisan Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia. Saya juga tidak pernah terlibat twitwar dengan Pandji Pragiwaksono (Ya mau gimana nggak pernah ditanggapi. Idih, sebel!).

Iklan

Disclaimer ini penting saya utarakan agar pembaca sekalian tidak kaget kenapa saya kelewat semongkoo menanggapi paparan Mas Iqbal Aji Daryono. Kamu bisa baca paparan itu di sini.

Ada persoalan serius yang mesti ditanggapi dari paparan Mas Iqbal Aji Daryono. Saya pribadi sempat kaget kenapa eks supir truk ini nggak ikut-ikutan misuh sama Pandji Pragiwaksono.

Sebagai seleb-fesbuk semestinya beliau berada di garda terdepan menumpas segala kekeliruan. Mungkin obsesi mencari pandangan yang berbeda dengan harapan naskahnya masuk Mojok telah membuatnya mengaburkan persoalan.

Dalam paparannya, Mas Iqbal mempertanyakan kenapa sasaran tembak amukan warganet Muhammadiyah dan NU malah jatuh kepada Pandji Pragiwaksono dan bukan Pak Thamrin Amal Tomagola?

Pria kelahiran Bantul itu menulis bahwa semua orang telah mafhum peran dua ormas Islam terbesar itu di level akar rumput, dan semua sepakat bahwa tuduhan elitis itu ngawur.

Dirinya juga setuju bahwa Pak Thamrin Sosiolog UI itu keliru menilai Muhammadiyah dan NU tidak berbaur dengan masyarakat. Terus di mana letak kesalahan Pandji Pragiwaksono, hingga menurut saya pantas mendapat amukan netizen?

Ya, Anda betul! Letak kesalahannya adalah Pandji telah mengutip pendapat yang jelas-jelas keliru! Sekiranya Pandji hanya membicarakan FPI dan tidak terkesan menjatuhkan Muhammadiyah-NU, mungkin nggak akan mendapat serangan berlipat-lipat dari netizen.

Perkara banding-membandingkan kerja dan kontribusi bagi negeri ini emang persoalan yang agak-agak sensitif. Siapa-siapa yang mengangkat persoalan sensitif maka bersiap-siaplah mendapat teguran.

Teguran akan lebih keras lagi bila memunculkan persoalan sensitif yang ditopang dari data yang tidak tepat. Mas Iqbal mungkin akan berkilah, ‘Yowes kalau gitu tegur Pak Thamrin dong! Beliau ‘kan sumber pertama!’

Bukan seperti itu cara melihat persoalan ini, Mas Iqbal.

Begini, meskipun kutipan Pak Thamrin, namun sejatinya pandangan yang mengatakan bahwa Muhammadiyah dan NU terlalu elitis itu juga pandangan Pandji. Mas Iqbal mungkin akan protes keras, ‘Lha kenapa bisa begitu, kan Pandji Pragiwaksono cuman ngutip Pak Thamrin? Nggak hubungannya dong sama Pandji! Wong itu kutipan thok.’

Yaa… iya, Mas Iqbal.

Iklan

Jangan terlalu polos, deh. Coba perhatikan dengan saksama omongan Pandji ini. Dalam paparannya, terdapat persetujuan tidak langsung antara penyataan Pak Thamrin dan bangunan argumen Pandji.

Pengutipan itu dilakukan untuk memperkuat hipotesis Pandji bahwa “betapa merakyatnya FPI” dan “elitisnya Muhammadiyah-NU”. Saya kira keliru bila dikatakan ini sama sekali bukan termasuk pandangan Pandji Pragiwaksono.

Kalau saya ngomong begitu langsung ke Mas Iqbal, mungkin blio akan tanya balik sambil merasa gusar, “Pondja-pandji-pondja-pandji terus, Pak Thamrin-nya mannaaaa??”

Begini, Mas Iqbal.

Orang yang pertama kali mengutarakan dan bikin ramai itu Pandji bukan Pak Thamrin. Publik juga belum mendengar atau membaca langsung paparan Pak Thamrin. Kita juga nggak tahu argumen utuh dari Pak Thamrin sampai memiliki kesimpulan yang terkesan menihilkan peran Muhammadiyah-NU di tengah masyarakat.

Makanya, saya heran aja gitu sama Mas Iqbal, letak salahnya di mana kalau Pandji jadi sasaran tembak?

Betul dengan fakta bahwa Pandji lebih populer dari Pak Thamrin. Mencatut nama Pandji Pragiwaksono memang menawarkan traffic yang cukup tinggi dan menjanjikan clicking money yang lumayan banyak. Beberapa media sudah pasti paham betul kesempatan emas ini.

Tapi sebenarnya, ini teguran bagus agar micro-seleb dan influencer kita tidak nebeng serta tidak menjadi “humas”-nya pandangan yang tidak menggambarkan realitas utuh di lapangan. Oleh karena itu, netizen yang menanggapi pernyataan Pandji Pragiwaksono itu sebenarnya tidak salah tembak, Mas Iqbal. Mereka ini justru tepat sasaran.

Pandji emang pantas mendapatkannya. Membuat dirinya sulit tidur dan kehilangan nafsu makan gegara persoalan ini mungkin harga yang sepadan.

Mengerikan sekali bila Pandji aman-aman saja lantaran berlindung di balik kesimpulan seorang pakar sosiologi. Sebab bukan kali ini saja penjaja nasionalis ini mengutarakan pernyataan yang dangkal, pembacaan data yang keliru, dan kesimpulan over-generalisir.

Nah, sekiranya moncong amukan dan buli dari netizen dialihkan pada Pak Thamrin, sebagaimana saran Mas Iqbal, saya pikir justru keadaan bakal semakin runyaaam dan ra mashoook.

“Haduh rusak negara ini. Pandangan pakar bukannya diuji tapi malah dibuli!”

BACA JUGA 777 Kesamaan Jonru Ginting dengan Iqbal Aji Daryono dan tulisan Ilham Ibrahim lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2021 oleh

Tags: FPIIqbal Aji DaryonoMuhammadiyahnuPandji Pragiwaksono
Ilham Ibrahim

Ilham Ibrahim

Artikel Terkait

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO
Sekolahan

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.