Hari-hari saat anak-anak harus belajar di rumah karena krisis akibat berjangkitnya Covid-19 adalah masa-masa stres bagi sebagian orang yang punya anak usia sekolah. Tanpa pernah direncanakan, tiba-tiba mereka harus menjalankan sistem homeschooling. Tidak sedikit yang kelabakan bahkan panik. Selama ini banyak orang yang berpikir bahwa mendidik anak itu identik dengan mengirim anak ke sekolah. Dengan mengirim anak ke sekolah, tugas mendidik anak sebagai orang tua dianggap selesai. Kalau anak ternyata kurang memahami materi pelajaran di sekolah, solusi tambahan yang dicari orang tua adalah bimbingan belajar atau guru les.

Intinya, para orang tua tidak ingin terlibat dalam proses belajar anak-anak mereka. Banyak orang yang merasakan bahwa belajar itu siksaan. Lulus sekolah bagi mereka berarti pula bahwa mereka sudah boleh berhenti belajar. Belajar adalah pengalaman buruk yang tidak ingin mereka ulangi lagi. Maka ketika anak-anak butuh pendampingan saat belajar, mereka tidak mau mendampingi. Sudah tidak ingat materinya, begitu alasan mereka.

Saya menempatkan diri saya sebagai guru bagi anak-anak saya. Saya mendampingi mereka belajar, menjelaskan materi yang mereka tidak paham. Apa istimewanya? Banyak juga orang tua yang mendampingi anak-anak mereka saat belajar. Nanti dulu. Mungkin detilnya berbeda. Saya amati, banyak orang tua yang memang mendampingi anak-anak mereka belajar. Lebih tepat lagi, membantu anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah atau PR. Keterlibatannya hanya sebatas itu. Bahkan lebih konyol lagi, mereka tidak mendampingi anak belajar, tapi mengerjakan PR untuk anak-anaknya. Tujuannya adalah, biar cepat selesai, atau biar nilai anaknya bagus.

Yang saya maksud tentu bukan itu. Menjadi guru bagi anak-anak artinya kita menjadi pengendali dalam proses belajar anak-anak. Prinsipnya, pendidikan itu adalah tanggung jawab orang tua. Sekolah adalah institusi yang membantu kita dalam mendidik anak. Jadi jangan sampai terbalik, seolah semua urusan pendidikan anak kita sudah beres dengan menyerahkannya ke sekolah. Idealnya, orang tua paham isi kurikulum pendidikan anak-anak mereka dan berperan memastikan anak-anaknya belajar sesuai kandungan kurikulum itu.

Baca juga:  Akui Saja, Sejak Kecil Kita Memang Dididik untuk Rasis

Langkah praktis yang saya jalankan adalah mendampingi anak saat mereka belajar, menjelaskan materi pelajaran pada bagian yang mereka tidak paham. Poin pentingnya adalah menjelaskan materi, bukan membantu mengerjakan soal. Menjelaskan itu artinya mencarikan pendekatan agar anak paham materi pelajaran mereka. Apa bedanya dengan guru di sekolah? Guru itu mengajar dengan pendekatan massal. Guru mengajar di kelas, yang isinya 30-40 murid. Guru akan mengambil pendekatan umum, yang dianggap cocok untuk semua anak. Sementara itu, anak-anak selalu punya sisi unik. Ada anak yang mungkin tidak cocok dengan pendekatan umum tadi. Dalam hal ini dia memerlukan pendekatan khusus. Nah, pendekatan khusus inilah yang harus kita sediakan bagi anak kita.

Coba kita ingat waktu kita sekolah dulu. Mungkin ada begitu banyak bagian pelajaran yang kita tidak paham. Kita terus tidak paham, meskipun usia kita bertambah dan kita naik kelas. Ada pula saatnya kita menemukan pemahaman, dan itu kita ingat terus sampai kita dewasa. Nah, tugas orang tua adalah melakukan pendekatan individu kepada anak, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh guru di sekolah, agar banyak bagian yang tidak dipahami anak-anak bisa mereka pahami.

Guru di sekolah, sekali lagi, berhadapan dengan murid secara massal. Mereka tidak punya banyak kesempatan untuk melakukan pendekatan individual. Sedangkan kita, tentu lebih mengenal anak-anak kita. Kita paham potensi kecerdasannya, kita juga paham karakternya. Tidak kalah penting, kita paham setiap fase perkembangannya. Maka ketika sistem belajar massal tadi tidak membuat anak kita paham, kita harus melakukan pendekatan individual.

Apa yang terjadi kalau anak tidak paham dan dibiarkan begitu saja? Mereka akan merasa bahwa materi pelajaran itu sulit, dan mereka tidak akan sanggup memahaminya. Akibatnya, timbul rasa kurang percaya diri. Minat mereka terhadap pelajaran juga akan berkurang. Tidak ada kepercayaan diri bahwa mereka bisa. Lambat laun, mereka tak tertarik lagi untuk belajar. Belajar menjadi siksaan. Kita tentu tak ingin hal ini terjadi.

Baca juga:  Pada Akhirnya Kita Harus Realistis

Saya menempuh berbagai jalan untuk menjelaskan materi pelajaran kepada anak-anak, sesuai karakter mereka. Ada yang memakai penjelasan verbal. Ada yang memakai materi yang tersedia di internet. Tidak jarang pula saya bimbing mereka melakukan percobaan, melakukan pengamatan langsung ke objek yang sedang dipelajari. Banyak hal yang tadinya begitu sulit dipahami oleh anak-anak, akhirnya bisa mereka pahami. Ketika mereka paham, mereka menemukan kenikmatan belajar. Inilah yang harus terus kita tumbuhkan dalam diri anak-anak kita. Bagian ini, sekali lagi, tidak bisa banyak kita harapkan dari guru-guru di sekolah.

Pahami materi pelajaran anak. Ramu materi itu ke dalam format yang mudah dipahami oleh anak kita. Itu kuncinya. Banyak orang mengeluh, katanya hal itu berat, karena mereka harus belajar kembali. Ingatlah, menjadi orang tua itu memang menuntut kita untuk belajar. Ketika anak masih dalam kandungan kita harus belajar bagaimana memperlakukan kandungan, apa yang harus dimakan ibunya, apa saja perkembangan yang harus diperhatikan agar janin tumbuh sehat. Ketika anak lahir kita belajar tentang bagaimana merawat bayi. Kita juga harus belajar proses tumbuh kembangnya. Semua itu ada basis ilmunya, dan kita harus belajar.

Proses itu tidak berhenti. Mendidik anak memang menuntut kita untuk terus belajar. Ketika anak-anak kita mulai sekolah, kita harus belajar atau belajar kembali materi pelajaran yang mereka pelajari. Tidak hanya itu, kita harus belajar bagaimana mengajarkannya.

Adanya perubahan situasi akibat virus corona ini adalah momen yang tepat bagi orang tua untuk menyadari kembali peran mereka. Ayah dan ibu seharusnya adalah guru bagi anak-anak mereka. Momen ini memberi kita kesempatan untuk mengoreksi berbagai kelalaian kita selama ini dalam mendidik anak.

BACA JUGA Teknologi Pembuatan Alat Pelindung Diri dan esai sains Hasanudin Abdurakhman lainnya di kolom TEMAN SEKELAS