Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pak Jus Badudu: Utang Negara itu Dilunasi, Bukan Dicicil

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
18 Agustus 2017
A A
170818 ESAI utang negara mojok

170818 ESAI utang negara mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang-orang yang gemar berbahasa dengan baik dan benar suatu saat nanti pasti akan sampai pada polemik perbedaan antara pinjam uang dan utang. Jika waktu tersebut tiba, tanpa ragu kita harus membangkitkan roh pahlawan bahasa Indonesia: Bapak Jusuf Sjarif Badudu.

“Pak Jus, mohon maaf sekali mengganggu istirahat Anda. Apa perbedaan pinjaman dan utang?”

“Beda tulisannya, Mas, tetapi maknanya sama, kewajiban yang harus dilunasi.”

Bandingkan kalau kita bertanya kepada seorang bankir atau ahli ekonomi, jawabannya hanya berbeda sedikit, tapi menimbulkan konsekuensi yang lain sama sekali.

“Pak Ekonom, apa perbedaan pinjaman dan utang?”

“Beda tulisannya, Mas, tetapi maknanya sama, bisa dicicil.”

Bayangkan saja kalau kita sedang berkecukupan harta dan tengah berniat melunasi utang, bertemu Pak Jus Badudu jelas membuat kita akan berteriak “Merdeka!” dengan los dan lantang. Sementara, kalau bertemu ekonom, kita akan senang karena bisa mencicil utang lainnya.

Itu salah satu paradoks hidup dalam sistem keuangan saat ini. Mau melunasi utang justru diimbau untuk mencicil saja.

“Sayang sekali, Pak, kalau dilunasi. Dana yang ada kan bisa diputar untuk usaha lainnya. Malah akan semakin menghasilkan, Pak,” begitu para kaki tangan kreditur lanyah berbicara.

Iya kalau punya usaha, kalau tidak? Banyak orang terprovokasi untuk menjadi pengusaha. Mencoba berubah dari karyawan menjadi pengusaha. Kalau usahanya jalan dan untung sih enak. Kalau rugi? Mau utang lagi? Tidak semua orang punya kemampuan menjadi pengusaha, tetapi hampir semua orang punya kemampuan menjadi pengutang

Itu utang di level individu. Bagaimana dengan negara?

Sampai hari ini, masalah utang negara yang semakin banyak terus menjadi polemik. Terakhir, berita tentang presiden terdahulu yang gencar menyoroti utang pemerintah. Beliau bilang, “Dua tahun ini pemerintah kita utang lagi untuk pembangunan infrastruktur.”

Kuda-kuda Pak Presiden Mantan itu kurang kokoh. Dalam beberapa saat saja pernyataan itu segera dibalas dengan trengginas oleh ekonom dari partai pendukung presiden sekarang.

“Loh, loh, loh … tak masalah utang negara digunakan untuk membangun infrastruktur. Sebab, penggunaan utang untuk infrastruktur merupakan kebijakan yang baik dan produktif.”

Iklan

Maaf saja, Pak Jus Badudu sepertinya akan tersenyum simpul melihat dua pihak yang heboh dan cenderung saling serang tersebut.

Untuk menanggapi pernyataan SBY, Pak Jus tampaknya tidak akan berpanjang lebar: “Kalau utang sebelumnya sudah habis digunakan pemerintah terdahulu, tentu saja Jokowi berhak utang lagi.”

Kemudian, atas pernyataan politisi dari partai pendukung pemerintah terkait penggunaan utang untuk infrastruktur merupakan kebijakan yang “baik dan produktif”, Pak Jus akan mengernyitkan dahi dan bertanya, “Apa kalau utang digunakan untuk BLT (bantuan langsung tunai) bagi masyarakat miskin, juga untuk subsidi BBM, itu tidak bersifat produktif?”

Ada kecenderungan setiap pemerintah baru mengeluhkan betapa berat mewarisi salah urus pengelolaan negara dari pemerintah sebelumnya. Dulu, SBY terkenal dengan ucapannya, “Pesta telah selesai, saatnya bersih-bersih.” Sekarang, pemerintah menganggap bahwa pemerintah sebelumnya terlalu banyak membakar subsidi.

Kita harus melihatnya dari berbagai sudut pandang. Kalau Indonesia ibarat orang tua kita, kita harus menerima bahwa orang tua kita tidak mewariskan harta saja, tetapi juga kewajiban bernama utang. Ini harus disadari betul. Bahkan pendahulu Indonesia, Hindia Belanda, dengan akal-akalan sudah mewariskan utang ke negara kita. Indonesia menyanggupi poin tersebut agar Belanda mengakui kedaulatan. Fakta di balik perundingan KMB tersebut tidak banyak diajarkan di mata pelajaran sejarah kita.

Pengibaratan lainnya: Indonesia seperti gadis cantik. Orang luar tidak hanya menerima keindahan yang terpancar (dari hartanya), tetapi juga ingin si gadis cantik bergantung kepada mereka (lewat utang). Maka, dari dulu para kreditur itu sangat mencintai Indonesia. Kaya, tapi bisa dengan mudah diarahkan untuk terus berutang.

Bisakah kita tegak berdiri, tangan terkepal meninjau langit, dan meneriakkan “Merdeka!” sementara utang kita menumpuk dan tidak kunjung berkurang?

Bisa dong. Tidak ada susahnya memekikkan “Merdeka!”. Sayangnya, pengutang yang bermartabat adalah pengutang untuk melakukan hal-hal produktif agar tidak terlalu membebani anak cucunya.

Utang produktif itu bagaimana?

Utang yang dilakukan bukan demi kelas menengah ngehek. Kelas menengah ngehek itu kalau berutang biasanya untuk memenuhi hasrat konsumtif. Contohnya: beli hape pakai kartu kredit, makan hanya di resto yang menyediakan alat gesek, beli kendaraan mahal walau belum punya rumah, dan seterusnya. Pendeknya, mereka berutang bukan untuk menghasikan tambahan pendapatan yang lebih besar dari cicilannya.

Tentu saja contoh ketiga utang di atas dapat dikonversi menjadi utang produktif, tergantung niat dan amal perbuatan. Hape baru yang dibeli dapat dijadikan sarana untuk berniaga online. Makanan yang kita beli melalui utang dapat memberikan energi berlebih agar tidak pernah capek bekerja. Kendaraan yang kita beli bisa kita pergunakan untuk mencari penumpang setelah jam kantor.

Dalam pidato penyampaian nota keuangan dua hari lalu, Presiden Jokowi cukup hati-hati menyampaikan besaran utang, tambahan utang, dan macam penggunaannya. Menurut Presiden, utang dimaksudkan untuk menghasilkan dampak positif bagi pembangunan yang maksimal dan manfaatnya dapat dinikmati masyarakat luas.

Dari data yang ada, utang kita memang tidak hanya untuk infrastruktur, tetapi juga mendukung bidang pendidikan, belanja sosial, transfer daerah, kesehatan, dan dana desa.

Jadi, memang salah kalau ada mantan yang menuduh utang pemerintah untuk memenuhi ambisi pemerintah membangun infrastruktur. Utang yang ada ternyata memang sudah mendarah daging.

Untuk menguji apakah utang pemerintah tersebut merupakan utang produktif, tentu perlu data sangat banyak. Cara paling sederhana yakni dengan melihat angka pertumbuhan nasional. Pertumbuhan kita berada di angka 5,01%. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan kita stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Nah, seumpama ada klaim bahwa rapor kemiskinan turun, pengangguran berkurang, ketimpangan menurun; hal pertama yang harus kita lakukan adalah bahagia. Semoga itu semua benar adanya. Walau kita tetap harus mengkritiknya.

Benarkah pertumbuhan stabil dapat menurunkan jumlah kemiskinan dan pengangguran? Secara teori, pertumbuhan ekonomi lebih menyerupai kebijakan “sapu jagat”. Itu kelemahan paling mendasar. Semua permasalahan yang ada selesai hanya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sementara dari data yang ada, kelompok bottom-40 (menengah bawah) terus menunjukkan kecenderungan penurunan konsumsi.

Kritik terhadap utang pemerintah tidak semata untuk menjegal atau menjatuhkan pemerintah. Utang punya dimensi lain soal kepedulian kita sebagai pihak yang “turut berutang”. Apakah kita akan melanggengkan pendapat “Sebelum lahir perjanjian utang dibuat orang tua, begitu lahir anak harus mulai mencicilnya”?

Pada akhirnya, merdeka bukan soal kita punya utang atau tidak, tetapi soal kita bisa melunasinya atau tidak.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2018 oleh

Tags: Ekonomijokowijs badudunegarasbyutang
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO
Esai

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Urban

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO
Catatan

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.