Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Uniknya Homo Jakartanicus, Menderita karena Mati Listrik tapi Tetap Pingin Eksis

Yohanes Baptista Fandis Nggarang oleh Yohanes Baptista Fandis Nggarang
7 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saat Jakarta mengalami mati listrik berjam-jam, Homo Jakartanicus malah memamerkan kepanikannya di media sosial. Menderita sih, tapi tetep pingin eksis.

Tumbuh kembang pada 2000-an awal, di Flores, Nusa Tenggara Timur, saya dan teman-teman sudah terbiasa dengan mati listrik. Maklum, saat itu, pemadaman lampu bisa terjadi beberapa hari dalam satu minggu, dimulai sejak sore hingga pagi dini hari.

Iklan

Mati listrik model begini merupakan siklus normal di wilayah sekelas ibu kota kabupaten. Wajar. Biasa. Di kampung-kampung pedalaman, persoalannya bisa jauh lebih pelik. Apalagi saat musim hujan. Hidup dalam gelap sambil ditemani ritme ritmis air hujan sudah jadi kebudayaan.

Saya masih ingat dengan baik, saat itu, saya dan teman-teman mengatur waktu untuk mengerjakan PR lebih awal sebelum matahari terbenam. Kami benar-benar dikejar waktu, karena mengerjakan PR pada malam dalam terang cahaya yang kami sebut lampu pelita bukanlah situasi yang asyik. Iya sih romantis, tapi bikin mata sakit. Apalagi lampu pelita kerap mengeluarkan asap hitam dengan bau menyengat.

Kalau jadwal mengerjakan PR sampai terlewat, maka kami harus siap-siap bangun pagi hari untuk mengerjakan tugas sekolah dalam suhu yang cukup dingin ketika lampu sudah kembali nyala.

Di wilayah saya, tepatnya di Manggarai, suhu pagi hari bisa turun sampai 10 derajat celcius. Sering, saya mengerjakan tugas di depan tungku perapian agar tubuh lebih hangat sambil tetap mengenakan kain tidur. Percaya sama saya, bangun pagi saat suhu sedang dingin-dinginnya tidak mudah. Lebih tidak mudah lagi karena cuma buat mengerjakan PR.

Di kampung, ketika saya berlibur ke rumah Kakek, jadwal pemadaman listrik membuat siapapun bergegas ke pemandian. Tujuannya? Untuk bersih diri dan menimba air lebih cepat.

Di sana, air tidak hadir satu per satu ke rumah. Siapapun yang butuh air harus datang ke sumbernya. Generasi yang pernah menenteng jerigen ke sumber air pada sore hari pasti ingat betul.

Biasanya saya menenteng jerigen ini bareng-bareng dengan teman lain. Saat berjalan menuju sumber, jerigen kami ketuk-ketuk bak alat musik dan bernyanyi sesuka hati. Di antara kami, pasti ada anak-anak yang lebih kreatif. Mereka biasanya membawa jerigen lebih banyak dengan gerobak bambu yang bertumpu pada roda buatan dari kayu. Tapi kalau ada mereka, itu artinya antrenya bisa lebih lama.

Bayangkan, saat jerigen sudah terisi penuh, kami semua harus menentengnya sambil berlari kalau matahari mulai terbenam. Kampung yang semakin gelap membuat siapapun ingin bergegas masuk rumah. Saat itu, di pojok rumah akan diletakkan beberapa lampu pelita. Asapnya yang gelap membuat dinding berwarna hitam. Tapi tenang, parahnya nggak bakal seberbahaya polusi kota Jakarta kok.

Waktu itu, kami tidak memiliki hubungan mesra dengan alat elektronik. Satu-satunya relasi terbaik adalah pembicaraan tatap muka. Telepon akan dilakukan bila pulsa ada, sehingga tuntutan untuk ngecas hape pun jarang.

Apakah “ketertinggalan” seperti ini membuat kami stres? Sepertinya tidak. Yang muncul adalah semacam solidaritas bagi peran.

Anak-anak seumuran saya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Bila minyak tanah habis, maka kami akan bergegas membantu orang tua ke warung untuk membelinya. Bila cucian piring makan siang belum diselesaikan, maka pekerjaan itu akan segera dibereskan. Pemadaman lampu yang rutin bikin kami semua hidup serba tergesa-gesa membereskan segala hal sebelum matahari total terbenam.

Saat Jakarta mengalami mati listrik berjam-jam, banyak orang yang menunjukkan kepanikannya di media sosial. Banyak meme atau postingan teman saya yang berasal dari Indonesia Timur bermunculan di linimasa merespons situasi ini.

Iklan

Hampir semuanya merasa bangga, merujuk pada pengalaman, bahwa mereka lebih “tahan banting”. Tidak sedikit yang menilai penduduk kota sebagai penghuni metropolitan yang lemah. Hm, saya sih malah kurang sepakat dengan anggapan itu.

Ketidaksepakatan saya juga muncul saat membaca tulisan Denny Siregar berjudul “Mati Lampu Ala Orang Papua”. Denny menilai kalau orang Jakarta itu cengeng. Denny bahkan mengatakan yang ribut adalah orang yang panik karena tidak berselancar di Internet.

Wow, yakin cuma karena itu saja nih? Mas Denny mungkin tidak memperhatikan orang-orang yang sedang terjebak di MRT atau lift. Situasinya lumayan menegangkan juga lho kalau saya bayangkan.

Atau mereka yang mobilitas hidupnya bergantung pada transportasi seperti KRL. Masa harus naik ojek—yang karena permintaan tinggi—harganya bisa mendadak mahal dan berpotensi kena macet? Transjakarta sih tetap jalan meski mati listrik. Namun haltenya kan tetap gelap gulita.

Esok harinya usai mati lampu, alias hari Senin, ada teman yang tinggal di Jakarta ngaku nggak mandi saat berangkat kerja karena air di rumahnya tidak mengalir.

Mas Denny barangkali mau mengatakan bahwa betapa cepatnya Homo Jakartanicus panik dalam situasi seperti ini. Tetapi, paniknya Homo Jakartanicus memang cukup unik bagi saya. Di satu sisi mereka menderita, di sisi lain mereka malah menunjukkannya.

Saat listrik mati, muncul berbagai macam orang di medsos yang “berlomba-lomba” menampilkan betapa menderitanya mereka. Saya jadi heran, apa perlu sih orang tahu kalau kamu nggak mandi saat berangkat ke kantor pagi hari?

Apa dengan menunjukkan itu, kamu bisa dianggap sebagai orang hebat yang bisa menghadapi hal berat di dalam hidupnya? Apa dengan itu, kamu tengah memberitahu yang lain bahwa kamu turut menderita dan solider dengan persoalan mati listrik yang sering kami alami ini?

Kalau boleh jujur, kepanikan karena mati listrik sebenarnya juga dialami oleh mereka yang di beberapa daerah Indonesia Timur. Di NTT—misalnya, di desa saya, masyarakat juga panik kok kalau listrik tak kunjung nyala. Ibu-ibu, misalkan, akan begitu kecewa ketika sinetron kesayangannya tak jadi ditonton.

Jangankan nonton sinetron, yang hapenya low baterai sama paniknya juga. Soalnya, meski kami ini kaum udik, kami juga bisa lho main media sosial dan berkomunikasi lewat video whatsapp. Saya pernah mengalami sendiri situasi seperti ini. Karena listrik tak kunjung nyala, teman satu kampung nebeng ngecas di rumah Pak Kades yang kebetulan punya genset.

Bedanya, kalau listrik mati, orang-orang di kampung saya nggak bakal pamer bahwa mereka tengah menderita. Di kampung, mati listrik adalah pengalaman harian, di Jakarta hal ini mungkin dianggap sebagai keajaiban, makanya perlu diabadikan. Situasi ini mirip seperti orang kota yang masuk hutan di desa, lalu menamainya sebagai wisata alam. Padahal bagi kami sih, ya itu kampung halaman.

Saya jadi penasaran, apakah saat listrik mati kemarin, Homo Jacartanicus sedang merasakan sensasi berada di hutan? Sehingga menganggap itu sebagai sebuah hal yang menyenangkan karena jarang-jarang dirasakan? Hm, entahlah.

Bagi orang kampung seperti kami, mati listrik adalah persoalan teknis. Mengerjakan PR tidak bisa, masak jadi sulit, episode sinetron jadi terlewat. Di Jakarta, hal kayak gini malah bisa jadi persoalan politis bahkan mungkin bisa sampai teologis.

Ya kita tunggu saja, apakah ada yang bakal sodorin ayat suci untuk menjawab pertanyaan, “Kok bisa kota sebesar Jakarta mati listrik?”

Lalu dijawab, “mungkin, Tuhan sedang murka lalu mengirim peringatan.”

Murka pada siapa? Warga Jakarta? Pfft, ya mana mungkin.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2019 oleh

Tags: jakartamati listrikmati listrik Jakarta
Yohanes Baptista Fandis Nggarang

Yohanes Baptista Fandis Nggarang

Artikel Terkait

kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Inisiatif warga Dusun Kedungrong, Samigaluh, Kulon Progo, lewat PLTMH membuat dusun mereka tetap. Tak takut pemadaman listrik MOJOK.CO

Inisiatif dan Semangat Handarbeni Warga Kedungrong Kulon Progo, Bikin Dusun “Tak Terdampak” Pemadaman Listrik

2 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.