Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Stasiun Tugu Jogja, Stasiun Modern yang Terus Bersolek tapi Ternyata Belum Ramah Driver Ojol dan Para Penggunanya

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
19 November 2023
A A
Stasiun Maguwo, Saksi Bisu Penglaju Solo yang Kerja di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Stasiun Maguwo, Saksi Bisu Penglaju Solo yang Kerja di Jogja: Berangkat Gelap Pulang Gelap demi UMR yang Tak Seberapa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika ojek online menjadi opsi paling ideal ketimbang Trans Jogja  

Bagi orang asli Jogja, atau yang sudah lama menetap, pasti merasakan bahwa kendaraan pribadi adalah pilihan paling logis. Khususnya bagi mereka yang dikejar oleh waktu harus segera menuju stasiun atau terminal. Salah satu yang membuat kendaraan pribadi sulit ditinggalkan adalah soal jarak dan waktu.

Iya, Jogja memang punya Bus Trans. Namun, bus umum ini punya masalah dalam hal kedatangan. Orang yang, misalnya, harus segera menuju Stasiun Tugu Jogja, tidak mungkin mau menunggu 20 hingga 30 menit lebih lama. Sudah begitu, Jogja tidak punya kendaraan feeder, yang mengantar/menjemput dari rumah sampai hale terdekat.

Oleh sebab itu, demi menghemat waktu, kebanyakan orang memilih ojek online. Apalagi bagi mereka yang rumahnya tidak begitu jauh dari Stasiun Lempuyangan atau Stasiun Tugu Jogja. Tarifnya saja murah. Misalnya, rumah teman saya ada di Baciro atau dekat Stadion Mandala Krida. Untuk sampai Stasiun Tugu Jogja, dia hanya perlu mengeluarkan uang Rp14 ribu.

Perjalanan paling lama 10 menit saja. Sudah begitu, driver ojek online mengantarnya sampai ke depan pintu masuk sebelah timur. Ini pintu masuk yang berhadapan dengan Jalan Mangkubumi (Jalan Margo Utomo). Teman saya bisa juga berhenti di gerbang Pasar Kembang. Tarif dan durasi perjalanan hampir tidak berbeda.

Jadi, untuk “menuju” Stasiun Tugu Jogja, memang jauh lebih enak naik ojek online. Saya membayangkan betapa pengguna kereta api akan sangat bahagia apabila ada Trans Jogja bisa masuk sampai depan pintu masuk. Yah, maklum, tidak semua orang Jogja mau agak repot mencari halte terdekat dari stasiun tersebut. Kalau ada yang lebih praktis, kenapa kudu repot baik Trans yang peminatnya semakin turun itu?

Nah, jika untuk “menuju” tidak menjadi masalah, lantas bagaimana dengan pengguna kereta api yang mau “meninggalkan” Stasiun Tugu Jogja? Nah, di sini, ada sedikit masalah.

Harga yang terlampau tinggi

Untuk “meninggalkan” Stasiun Tugu Jogja, menurut saya, paling enak tetap naik ojek online. Mau kamu pelancong yang belum pernah main ke kota pelajar sampai akamsi. Naik ojek online itu praktis dan murah. Nah, izinkan saya menjelaskan masalah di Stasiun Tugu lewat cerita teman saya.

Suatu malam, sekitar pukul 9 malam, dia turun di Stasiun Tugu Jogja. Teman saya ini baru saja meliput Piala Dunia U17 di Surabaya. Lelah, dia ingin segera pulang. Maka, begitu sampai Tugu, dia langsung memesan ojek online. Namun, malam itu, dia hendak memilih cara berbeda. Dia ingin naik ojek stasiun.

Begitu keluar dari area steril pengantar, beberapa driver ojek stasiun menawarkan jasanya. Setelah basa-basi sebentar, teman saya menanyakan tarif sekali antar menuju daerah dekat Stadion Mandala Krida. Si driver ojek stasiun menjawab: “Tiga puluh lima ribu, Mas.” MAHAL SEKALI.

Teman saya membatin. “Kalau dari rumah ke stasiun cuma Rp14 ribu, berarti pulangnya ya nggak berbeda jauh.” 

Setelah mendengar jawaban dari si bapak driver, teman saya senyum lalu pamit. Eh, si bapak driver masih berusaha menahan. 

“Mas, kalau macet begini, susah dapat ojol.” Si bapak tahu saja kalau teman saya sudah mau membuka aplikasi Gojek tepat setelah balik badan.

Ya, di depan Stasiun Tugu Jogja, arah Pasar Kembang, memang macet. Maklum, malam minggu plus ada acara kebudayaan di Malioboro. Lantas, benarkah susah mendapatkan ojol di saat-saat seperti ini? Teman saya membuka aplikasi Gojek, lalu memesan GoRide. Tidak sampai 30 detik, dia sudah mendapat driver. Cepat dan komunikatif pula driver-nya.

Lokasi penjemputan yang kurang manusiawi

Nah, di sinilah masalah sebenarnya. Tarif ojek stasiun memang mahal, tapi harga selalu relatif untuk masing-masing orang. Namun tidak dengan lokasi penjemputan.

Iklan

Yah, kita sama-sama tahu kalau dulu ada gesekan antara ojek pangakalan dengan ojek online. Oleh sebab itu, di Stasiun Tugu Jogja, driver ojol tidak bisa sembarangan “mengangkut” penumpang. 

Biasanya ada 2 lokasi penjemputan, yaitu di depan Hotel Neo Malioboro dan Hotel Arte. Driver ojol tidak boleh menjemput di depan Hotel Abadi, yang terletak persis di seberang stasiun. Artinya, calon penumpang harus berjalan ke kiri atau kanan stasiun, yang mana ini bukan masalah besar.

Masalah ada di titik penjemputan di depan Hotel Arte. Titik tersebut memang seperti disiapkan oleh pihak stasiun, supaya calon penumpang ojol bisa menunggu. Namun, lokasinya, menurut saya, kurang manusiawi. Lokasinya ada persis di trotoar pinggir jalan.

Sudah begitu, lokasinya tanpa peneduh. Jadi, kala siang dan panas menyengat Jogja, calon penumpang ojol harus mandi sinar matahari. Kalau malam dan hujan, ya tentu jadi perkara. Malam minggu dan jalanan super padat, calon penumpang bisa terserempet pengendara yang tidak waspada. Bahaya sekali.

Sudah begitu, lokasi tersebut BAU PESING! Entah bagaimana awalnya, tapi kok ya ada manusia yang tega kencing sembarangan di tempat orang menunggu ojol. Lokasi tersebut sama sekali tidak nyaman dan aman. Menurut saya, pihak Stasiun Tugu Jogja tidak akan kesulitan secara keuangan jika membuatkan peneduh yang cukup menampung banyak orang.

Pengelola Stasiun Tugu Jogja perlu memikirkan ini

Saya, sih, punya saran kepada pengelola Stasiun Tugu Jogja untuk mengatasi masalah ini. Pertama, membuat peneduh seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Bakal jadi lebih indah jika lokasi penjemputan tersebut dibuat menjadi semacam taman. Pihak pengelola bisa juga membuatkan semacam “kantin kecil”. Jadi, semua orang yang menunggu di sana bisa membeli minuman. Ah, semua dapat cuan, bukan.

Kedua, membuka kembali akses keluar ke arah Jalan Margo Utomo. Saat ini, pintu tersebut hanya boleh dipakai untuk masuk saja (mengantar). Saya, sih, memahami bahwa kebijakan ini untuk mencegah antrean dan penumpukan kendaraan. Maklum, di sana ada rel kereta yang sangat aktif dan bisa membahayakan.

Namun, dengan manajemen yang baik, saya rasa bahaya itu bisa dihindari. Jadi, mereka yang akan “meninggalkan” Stasiun Tugu Jogja, bisa menuju ke sana. Sudah begitu, driver ojol juga jadi enak untuk menjemput. Tidak ada penumpukan dan calon penumpang ojol bisa menunggu di lokasi yang lebih manusiawi.

Ingat, calon penumpang ojol artinya pengguna jasa Stasiun Tugu Jogja dan PT KAI. Moda transportasi yang saling terhubung pasti menguntungkan semua pihak. Cuan pasti mengalir dan yang paling diuntungkan adalah masyarakat. Kalau begitu, bukankah ini win-win solution? Enak, kan?

Penulis: Moddie Alvianto W.

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Stasiun Lempuyangan Jogja, Stasiun Sederhana Saksi Pertemuan yang Manis dan Perpisahan yang Tragis dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 19 November 2023 oleh

Tags: DIYdriver gojekdriver ojolgojekJogjamalioboroojek stasiunojolpasar kembangsarkemStasiun LempuyanganStasiun TuguStasiun Tugu Jogja
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co
Pojokan

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.