MOJOK.CO – Menjadi pengurus KDMP saat ini memunculkan tekanan batin tersendiri. Diajak bermimpi ke sana ke mari, tapi akal sehatnya pelan-pelan dipinggirkan.
Izinkan saya menyampaikan disclaimer bahwa tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kalurahan Sidoarum di mana saya menjadi salah satu pengurusnya.=
Meninggalnya lima orang calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam pelatihan dasar militer membuat kita semua merasa berduka dan prihatin.
Sebagai umat beragama tentu kita mengimani bahwa umur seseorang adalah takdir Yang Maha Kuasa. Meskipun begitu, tragedi ini harusnya menjadi peringatan keras sekaligus tanda tanya besar, masih relevankah pendidikan gaya militer dipakai untuk menyiapkan manajer-manajer unit usaha desa?
Bekal mengurus koperasi itu harusnya bukan dengan cara militeristik
Istilah ‘militerisasi’ di sini memang tidak kemudian memaknai pelatihan calon manajer itu layaknya tentara, melainkan mengacu pada diterapkannya pendekatan militeristik. Seperti budaya komando, komunikasi satu arah, atau kegiatan fisik ekstrem ke para personel koperasi.
Mereka ini punya latar belakang warga sipil yang lebih membutuhkan asupan kemampuan memecahkan masalah, berdialog, dan mendorong partisipasi warga.
Mari kita gunakan analogi sederhana sebagai ilustrasi. Saat ini pemerintah merekrut anak-anak muda yang baru lulus kuliah, belum kenal sepak bola, tapi dipersiapkan menjadi manajer tim sepak bola.
Anehnya, alih-alih menugasi insan sepak bola atau jurusan pendidikan olah raga, pemerintah memilih tentara untuk mengajari calon-calon manajer tim sepak bola itu.
Maka, anak-anak muda itu dipaksa menguasai tiga hal sekaligus. Pertama, konsep dan aturan-aturan dalam sepak bola. Kedua, ilmu manajerial ala militer, dan ketiga, disiplin serta gaya hidup ala militer. Bisakah Anda membayangkan akan seperti apa tim sepak bola yang akan dipimpin nanti?
Kabar baik, Latsarmil untuk manajer KDMP akhirnya berubah, tapi masalah utamanya bukan itu
Memang ada tim sepak bola profesional yang sesekali mengirim atletnya ke kamp militer. Namun, agenda itu dapat dipastikan dalam rangka membangun kekompakan tim atau melatih mental. Bukan mengajari seorang calon pelatih dan atlet tentang seluk beluk sepak bola dari nol.
Sementara, mengurus koperasi adalah mengelola dinamika perkumpulan, mulai dari dinamika anggota, operasional sehari-hari, sampai menjaga keberlanjutan usahanya. Semestinya pendidikan yang diberikan kepada pengurus koperasi berbeda dengan pendidikan dan latihan layaknya anggota militer.
Kabar baiknya, menanggapi desakan dari berbagai pihak, Kementerian Pertahanan mengambil langkah perbaikan dan mengubah fokus materi latihan dasar militer (latsarmil) tersebut menjadi pembekalan bela negara dan manajerial.
Langkah ini patut kita apresiasi. Namun, revisi kurikulum di tengah jalan ini sebenarnya juga membuktikan bahwa sejak awal persiapan personel atau pengurus KDMP memang cenderung lemah dan pragmatis.
Baca halaman selanjutnya














