Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

M Sholahuddin Nurazmy oleh M Sholahuddin Nurazmy
3 Juli 2026
A A
Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO

Ilustrasi Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebingungan yang jadi menu sehari-hari para pengurus KDMP 

Tragedi dan perubahan kurikulum ini boleh jadi hanya puncak gunung es dari disorientasi yang lebih besar di tubuh KDMP. Jika kita menilik ke balik meja pengurus koperasi tersebut di tingkat akar rumput, kebingungan seakan menjadi menu sehari-hari yang harus kami telan.

Sebagian besar pengurus KDMP adalah hasil penunjukan musyawarah desa. Umumnya, pengurus dipilih karena dianggap memiliki kepedulian dan semangat membangun desa, menjalani usaha, atau jiwa kewirausahaan lokal. Sebagian besar adalah orang-orang dengan niat baik memberdayakan potensi lokal. =

Namun, semangat pemberdayaan dan wirausaha ini tiba-tiba dibenturkan dengan langkah birokrasi yang melompat jauh. Misalnya, tanpa bekal pengetahuan perkoperasian yang matang, para pengurus disodori kewajiban membuat usaha bernilai miliaran rupiah.

Ada “angin surga” berupa janji pinjaman lunak Rp3 miliar sebagai modal. Terdengar fantastis, tapi praktiknya menyisakan ironi. Sebagian besar pos penggunaan dana sudah diplot dari pusat, sementara pemerintah desa/kelurahan diminta pasang badan sebagai penjamin. 

Pengurus di desa diajak bermimpi ke sana ke mari, namun otonomi dan akal sehat kami pelan-pelan dipinggirkan.

Munculnya “manajer titipan” KDMP dari pemerintah, pengurus kena getahnya

Puncak anomali ini adalah kemunculan “manajer titipan”. Impian awal bahwa KDMP akan menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi warga desa harus menguap begitu saja. Tiba-tiba muncul kebijakan bahwa untuk mengawal usaha dengan modal miliaran tersebut, manajer akan disiapkan oleh pemerintah.

Ibaratnya, pemerintah meminta warga desa bergotong-royong memeras keringat membangun arena permainan. Namun, setelah arena itu jadi dan berdiri, aturan main didikte dari atas. 

Pemainnya didatangkan dari pusat, dan warga desa dipaksa legawa hanya menjadi penonton. Atau paling banter, diberi jatah mengelola uang parkir atau penjaga malam gudang dan aset.

Menjadi pengurus KDMP di tengah situasi seperti ini pun memunculkan tekanan batin tersendiri. Rasanya–tanpa mengurangi rasa hormat pada para tahanan politik dan keluarganya– mungkin seperti yang dialami anak cucu tahanan politik di zaman dulu. 

Kami harus menanggung getah dan kesemrawutan yang disebabkan pihak lain di hadapan warga. 

Dipandang kepanjangan penguasa, jadi korban nyinyiran warga

Di mata masyarakat, kami dipandang sebagai kepanjangan tangan penguasa. Padahal, pemerintah sendiri tidak membekali kami dengan panduan yang utuh. Kebijakan terkesan dipaksakan, membuat kami seperti berjalan meraba-raba dalam gelap.

Dampak sosialnya menguras energi. Di lapangan, kami berhadapan dengan warga yang nyinyir, anggota yang ragu-ragu berpartisipasi lebih jauh. 

Hingga tetangga pedagang kecil yang waswas mata pencahariannya akan diambil alih. Belum lagi masyarakat yang hanya melirik koperasi saat ada iming-iming pinjaman lunak atau tanpa agunan.

Muncul pula kekhawatiran keliru di antara pengurus, “Jangan banyak-banyak cari anggota, nanti Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagi jadi kecil.” Paradigma ini menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman kita tentang koperasi. 

Koperasi dipandang layaknya perseroan terbatas bagi para pemodal, bukan wadah kesejahteraan bersama.

Yang didahulukan harusnya bukan kucuran dana miliaran atau manajer karbitan KDMP 

Di sinilah akar persoalannya: edukasi yang terlewatkan. Karena itu hal mendasar yang perlu ditegaskan kembali adalah urgensi pendidikan literasi tentang koperasi secara menyeluruh. 

Bagi pengurus, literasi berarti kecakapan mengelola yang luwes sekaligus tangguh menghadapi dinamika warga. Bagi anggota, ini adalah proses memahami konsep bahwa koperasi adalah alat perjuangan menuju kesejahteraan bersama.

Saya menyadari, menjalankan koperasi desa bukan menjalankan mesin pencetak laba dalam waktu singkat. Ini adalah lari maraton, di mana garis finisnya adalah kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. 

Iklan

Yang paling mendesak didahulukan saat ini bukanlah kucuran dana miliaran yang digelontorkan paksa dari atas atau manajer karbitan hasil revisi kurikulum, melainkan edukasi berkelanjutan yang lebih memanusiakan manusia.

Membangun koperasi desa sejatinya adalah memupuk kesadaran kolektif warganya. Sekali lagi, koperasi lebih butuh penguatan literasi, bukan militerisasi.

Penulis: M Sholahuddin Nur’azmy
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Berkompetisi Memperebutkan Kasir Penjaga Minimarket Koperasi dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2026 oleh

Tags: KDMPkoperasikoperasi desa merah putihpilihan redaksi
M Sholahuddin Nurazmy

M Sholahuddin Nurazmy

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.