Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Anak Muda Raja Ampat Menantang Tambang Nikel: Ketika Tambang Nikel Merusak Amazon Laut Milik Rakyat Dunia

Moh. Yusran oleh Moh. Yusran
5 Juni 2025
A A
Raja Ampat, Amazon Laut Papua Rusak karena Tambang Nikel MOJOK.CO

Ilustrasi Raja Ampat, Amazon Laut Papua Rusak karena Tambang Nikel. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Industrialisasi Nikel: Harapan ekonomi atau ancaman bagi Raja Ampat dan bumi ini?

Dampak tambang nikel tidak hanya terlihat pada kehancuran fisik ekosistem, tapi juga pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat adat Raja Ampat dan Papua. Dalam tradisi mereka, alam bukan sekadar sumber daya, tapi bagian tak terpisahkan dari identitas dan kesejahteraan kolektif.

Namun kini, konflik dan ketegangan mulai merayap ke dalam komunitas yang selama ini hidup harmonis dengan alamnya. Kehadiran tambang membawa perubahan besar, mulai dari hilangnya mata pencaharian berbasis kelautan hingga pergeseran budaya yang menyakitkan.

Ronisel Mambrasar, salah satu anak muda Raja Ampat yang aktif dalam “Aliansi Jaga Alam Raja Ampat”, menuturkan betapa tambang nikel telah mengancam kelangsungan hidup masyarakat di kampung halamannya: Manyaifun dan Pulau Batang Pele.

“Kami bukan penolak pembangunan, tapi kami menolak kehancuran. Laut yang selama ini menghidupi kami kini terancam, dan kehidupan kami berubah menjadi penuh konflik,” katanya.

Kisah mereka adalah pengingat bahwa pembangunan berkelanjutan tidak bisa sekadar soal angka-angka pertumbuhan ekonomi atau ekspor mineral. Ada harga sosial dan ekologis yang sangat tinggi yang sering tidak terlihat dalam perdebatan kebijakan nasional.

Tinjauan regulasi dan tanggung jawab pemerintah

Pemerintah Indonesia memang menempatkan industri nikel sebagai tulang punggung ekonomi baru. Apalagi dalam kerangka hilirisasi mineral untuk mendukung transisi energi hijau.

Tapi, apakah transisi energi itu akan bermakna jika justru merusak habitat dan menindas masyarakat adat yang menjadi penjaga alam seperti di Raja Ampat? Moratorium dan evaluasi izin tambang sudah menjadi wacana sejak lama, tapi implementasi nyata belum terlihat.

Krisis iklim global membutuhkan solusi yang adil dan inklusif, bukan yang menindas satu wilayah demi menguntungkan pihak lain. Ekowisata dan konservasi yang melibatkan langsung masyarakat lokal bisa menjadi alternatif yang tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati tapi juga memperkuat ekonomi masyarakat Raja Ampat.

Transisi energi yang berkeadilan: Sebuah keniscayaan

Kita di hadapan persimpangan penting. Apakah Indonesia akan dikenang sebagai negara yang melindungi “Amazon” lautnya, atau justru sebagai negara yang mengorbankan surga terakhir itu demi sepotong logam?

Nikel adalah kunci untuk masa depan energi bersih, tetapi bukan dengan cara mengorbankan ekosistem dan hak masyarakat adat. Mari kita dorong kebijakan yang tidak hanya mengedepankan keuntungan jangka pendek, tapi juga keberlanjutan dan keadilan sosial. Raja Ampat bukan hanya aset nasional, tapi warisan dunia yang wajib kita jaga.

Sudah saatnya pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat lokal duduk bersama dengan itikad tulus. Pembangunan harus berakar pada penghormatan terhadap kehidupan dan alam, bukan merusaknya. Karena pada akhirnya, tidak ada baterai kendaraan listrik yang cukup mahal untuk menebus hilangnya surga hidup di muka bumi ini.

Penulis: Moh. Yusran

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bahaya Sabunisasi di Papua dan catatan lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2025 oleh

Tags: Indonesia Critical Minerals ConferencePapuaPapua Barat DayaRaja Ampatraja ampat global geoparktambang nikeltambang nikel raja ampattolak tambang nikel
Moh. Yusran

Moh. Yusran

Penulis independen dan pengamat lingkungan.

Artikel Terkait

papua.MOJOK.CO
Lipsus

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO
Sosial

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
papua.MOJOK.CO
Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.