Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kedunguan Kabinet Prabowo dan Cara Pandang pada Papua yang Tak Berubah

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
30 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemerintahan Indonesia sudah berganti di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dengan Kabinet Merah Putih. Pergantian ini tak lepas dari perhatian Rocky Gerung yang sudah gatal mengkritik pemerintahan Prabowo meski baru dilantik. Dia mengimbau pemuda tak boleh pesimis melakukan perubahan, terutama terhadap isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM), misalnya, di Papua. 

***

Iklan

Lalu, apa yang bisa dilakukan pemuda saat ini? Perubahan apa yang mereka inginkan?

Pertanyaan itu membuat saya dan ratusan pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum pada Senin sore, (28/10/2024).

Kami berdiskusi tentang semangat awal yang dibawa pemuda di zaman dulu dan bagaimana membawa semangat itu di masa sekarang. Salah satu pembicaranya adalah Rocky Gerung, 

Kritik Rocky Gerung soal persatuan vs kemajemukan

Peringatan Sumpah Pemuda berangkat dari sekumpulan anak muda tahun 1928 yang menyadari bahwa bangsanya sedang bergejolak. Sementara, mereka berupaya membawa perubahan dengan menginginkan kebebasan. 

Menurut Rocky Gerung, aksi yang dilakukan pemuda itu hasil dari proses berpikir mereka, yang kemudian diucapkan menjadi sumpah. Dia menegaskan ontologi dari sumpah itu adalah kesepakatan tentang kemajemukan bukan persatuan.

“Mereka (pemuda) memantau bahwa situasi Indonesia dari awal dalam kondisi majemuk, plural, karena itu mereka bersumpah satu bahasa, satu tanah air, karena ada kondisi kemajemukan,” ucap Rocky dalam diskusi Kaum Muda: Seni dan Aktivisme pada Senin, (28/10/2024).

Pemuda menyadari bahwa Indonesia memiliki banyak perbedaan. Oleh karena itu butuh persatuan. Namun, konsepsi majemuk kemudian disalahartikan bahwa demi persatuan tidak boleh ada perbedaan. Padahal, tidak ada sumpah keempat misalnya, bahwa masyarakat harus satu agama.

Kedunguan menurut Rocky Gerung dalam Kabinet Prabowo

Miskonsepsi soal kemajemukan vs persatuan dalam Sumpah Pemuda dapat dilihat pada kondisi politik Indonesia saat ini. Menurut Rocky, partai di Indonesia seolah-olah tidak boleh memiliki perbedaan alias menjadi opisisi untuk pemerintah. Alasannya, demi persatuan. 

Rocky Gerung dalam diskusi peringatan Hari Sumpah Pemuda. MOJOK.CO
Rocky Gerung dalam diskusi peringatan Hari Sumpah Pemuda Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

Prabowo Subianto mulanya membentuk Koalisi Indonesia Maju (KIM) dengan 9 anggota partai, yakni Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, PSI, PBB, Gelora, Garuda, dan Prima. 

Karena anggotanya bertambah maka namanya diubah menjadi KIM Plus. Partai-partai lain yang memutuskan bergabung yakni PKS, PKB, PPP, Perindo, dan Nasdem.

KIM Plus itulah yang mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam kontestasi Pilpres 2024. Tujuannya untuk meningkatkan peluang anggota partai memenangkan kursi di parlemen. 

Kini, Prabowo sudah terpilih menjadi presiden dengan Kabinet Merah Putih. Dia sudah mengumumkan nama-nama menteri dan wakilnya.

Iklan

“Reverse logic yang dungu dan akan diikuti juga oleh mereka (Kabinet Prabowo) yang sedang latihan baris-berbaris,” ujar Rocky Gerung.

“Jadi buat apa ada konsep NKRI harga mati, dia justru mematikan keragaman,” lanjutnya.

Katanya Sumpah Pemuda persatuan Indonesia, tapi kok…

Dalam diskusi yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, panitia juga menghadirkan anggota aliansi mahasiswa Papua. Panitia memberikan kesempatan bagi pemuda Papua untuk berbicara. 

Saat itu, Rocky Gerung ikut bertanya, mana yang lebih penting, sila ke-tiga tentang persatuan atau sila ke-dua soal kemanusiaan yang adil dan beradab? 

Salah satu pemuda Papua, Pho, menjawab, tentu masyarakat Papua lebih memprioritaskan sila ke-dua. Pho mengungkapkan kondisi tanah kelahirannya itu sedang tidak baik-baik saja. 

Semua mata tertuju pada Pho ketika dia mengungkap data bahwa ada sekitar 60 ribu orang yang mengungsi dari tempat tinggalnya. Setidaknya ada 6 daerah yang mengalami operasi militer sejak 2018-2020. Data itu masih terbilang kasar, kemungkinan lebih banyak lagi yang merugi.

“Di dalamnya banyak warga yang mengungsi, orang tua berpisah dengan anak-anak mereka, mereka harus meninggalkan tempat atau rumah yang (sebelumnya) nyaman,” ucap Pho.

Memicingkan mata kepada warga Papua

Pho juga bercerita banyak terjadi pelanggaran HAM di Papua, misalnya kasus perampasan tanah, penyiksaan, hingga pembunuhan. Namun, ketika masyarakat Papua menyuarakan isu tersebut mereka sering mendapat stigma buruk. 

Pemuda Papua yang akrab dipanggil Bung Pho menyampaikan keresahannya dalam diskusi peringatan Sumpah Pemuda. MOJOK.CO
Pemuda Papua yang akrab dipanggil Bung Pho menyampaikan keresahannya dalam diskusi peringatan Sumpah Pemuda di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum. (Mojok.co/Aisyah A. Wakang)

Pho berujar masyarakat yang berani menyuarakan isu Papua justru dianggap teroris, pelaku kriminal, atau penyusup asing. Dia merasa tidak dianggap sebagai bagian dari warga negara Indonesia. Tempat tinggal mereka dirampas dan kekayaan alamnya dibabat.

“Kami seolah-olah dianggap bukan sebagai manusia, padahal satu nyawa itu berharga buat kami,” kata Pho.

Pho sepakat dengan imbauan Rocky Gerung agar pemuda tidak berhenti bersuara di kabinet Prabowo. Peringatan Sumpah Pemuda, kata dia, membangkitkan semangatnya untuk tidak melupakan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM masa lalu. Bukan hanya masalah sekarang.

Pemuda menggerakkan perubahan di Kabinet Prabowo

Pemerintahan Indonesia telah berganti dan akan berlangsung di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo pada periode 2024-2029. Jika pemuda menginginkan perubahan, maka perlu adanya argumentatif society bukan disipliner society.

Rocky Gerung menjelaskan pemuda harus bisa membawa kembali intelektual ke ranah politik. Hal itu bisa dilakukan lewat diskusi di kampus, galeri seni, atau imajinasi pikiran kita sendiri.

Namun, hasil perpikir itu seharusnya tidak berhenti sampai diskusi. Jangan jadi pemuda yang fear of missing out (FOMO). Dia berharap pemuda membentuk suatu organisasi atau komunitas yang menyuarakan sekaligus memperjuangkan segala keresahan mereka. 

Perubahan, kata dia, bukan tukar tambah pengetahuan. Melainkan tukar tambah kekuatan. Kekuatan itu yang melahirkan aktivisme. 

“Jadi kalau ingin ada perubahan, lembagakan kemarahanmu dan lakukan dengan cara yang seksama dengan tempo yang sesingkat-singkatnya,” ucap Rocky Gerung.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mari Kita Sambut: Para Pemuda Kekinian Harapan Bangsa!

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2024 oleh

Tags: aktivismeberpikirdiskusi jogjahari sumpah pemudaJogjaPersatuanpersatuan indonesiarocky gerungSumpah PemudaYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO
Sekolahan

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.