Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

Tiara Uci oleh Tiara Uci
15 Desember 2025
A A
Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO

Ilustrasi Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selama enam bulan tinggal di Pulau Bawean, saya merasa menjadi anak tiri di negeri sendiri. Padahal masih bagian dari Pulau Jawa.

Ombak besar dan angin kencang membuat Kapal Roro Gili Iyang yang saya tumpangi tak bisa berlayar dengan tenang. Perjalanan selama delapan jam di atas kapal menggembosi nyali saya yang tidak bisa berenang. 

Iklan

Perut terasa dikocok dan kepala kliyengan tidak keruan. Beruntung, badan saya mudah beradaptasi sehingga tubuh bisa kembali bugar setelah kapal mulai bersandar di tujuan yaitu Pulau Bawean. 

Saya datang dari Surabaya ke Pulau Bawean untuk bekerja. Ada proyek pembangunan dermaga yang lokasinya tidak jauh dari tempat para nelayan parkir kapal. 

Setiap malam, saya melihat nelayan berangkat melaut dengan membawa perbekalan makanan. Esok, di siang harinya, mereka akan kembali dengan tangkapan ikan yang melimpah, satu ember tongkol berukuran besar hanya dijual Rp50 ribu. 

Pulau Bawean berada di Jawa, tapi terasa seperti di Malaysia

Di Pulau Bawean, tidak ada Indomaret, Alfamart, apalagi kedai kopi kekinian. Pom bensinnya saja hanya buka tak lebih dari satu jam, kemudian tutup lagi karena stok bahan bakar habis. Kondisi seperti ini membuat kehidupan di Bawean terasa serba tradisional, namun tetap bersahaja. 

Motor dan mobil parkir di pinggir jalan raya dengan kunci yang masih menempel adalah pemandangan sehari-hari. Warga Pulau Bawean hidup saling mengenal satu sama lain sehingga lingkungan aman dan minim pencurian. 

Secara administrasi, Bawean masuk dalam Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Namun, kultur warganya sangat jauh berbeda dengan yang biasa saya lihat di Jawa. 

Budaya Pulau Bawean lebih dekat dengan Melayu. Banyak warga yang berbicara dengan aksen Melayu, bukan Jawa. Kalau sedang berbelanja di Pasar Sangkapura, saya merasa seperti di Malaysia karena banyak orang berbicara dengan aksen khas serial Upin dan Ipin.

Bahkan, warga di sana kurang suka belanja emas dari Indonesia (Antam dan UBS). Mereka lebih suka membeli perhiasan emas Singapura, Malaysia, Dubai, atau negara Timur Tengah lainnya. 

Bagi warga Pulau Bawean, mereka lebih familiar mendengar tetangganya liburan ke Singapura dan Malaysia ketimbang ke Jogja. Banyaknya warga yang merantau ke Singapore dan Malaysia ditengarai menjadi penyebab akulturasi budaya Melayu di pulau ini. 

Baca halaman selanjutnya: Ketika masyarakat dipaksa untuk mandiri.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2025 oleh

Tags: anak tirigresikjawaJawa Timurkabupaten gresikmalaysiaPawang Hujanpulau baweanpulau jawasunan bonangSurabayaTuban
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

Artikel Terkait

Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)
Pojokan

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.