Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Okefaiyn, Whatsapp Istri Dicuekin, Nongkrong Malam Jalan Terooos

Wulan Darmanto oleh Wulan Darmanto
13 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Notifikasi whatsapp istri di pelupuk hape tak tampak, teman tongkrongan di seberang angkringan tampak. Ealah, Pak, Pak.

Kalau melihat bapak-bapak yang sampai tengah malam masih kumpul-kumpul ngobrol cantik dengan sesamanya di pengkolan atau di angkringan pinggir jalan, sambil udad udud gemes dan terbahak lepas, kadang batin saya sering bertanya-tanya.

Bukan mempertanyakan apa yang mereka obrolkan. Melainkan kepo akan isi whatsapp mereka.

Akankah terdapat sebaris whatsapp istri di sana?

“Pulang nggak usah lewat pintu! Itu genteng udah kubolongin satu, tinggal manjat.”

Atau kalau rasa geregetan sudah memuncaki ubun-ubun, bisa-bisa hak asasi para bapak yang paling asasi pun ikut dipapras.

“Nggak usah pulang sekalian, tidur aja sana di musala, sekalian pendalaman iman.”

Untung bapak-bapak ini menikahi perempuan yang tinggi kesabarannya meski tahu whatsapp istri nggak ada yang centang biru berjam-jam. Nggak tahu juga sih kalau di belakang layar terjadi pertempuran akbar. Tapi nyatanya selang beberapa hari kemudian, si bapak masih saja menekuni hobi keluyurannya sambil cuekin whatsapp istrinya.

Dan tentu saja saya tidak bisa menebak, apa isi whatsapp istri mereka untuk selanjutnya.

Kenapa lelaki masih suka keluyuran malam meski sudah menikah? Padahal di rumah ada anak istri yang menunggu. Jika tanpa tujuan jelas, mbok ya mending bapak-bapak yang sudah berkeluarga ini di rumah saja. Menghabiskan waktunya di rumah, bersama anak dan istri.

Kecuali jika si bapak memang keluar malam untuk urusan pekerjaan lho ya. Misalnya pekerja yang sesekali dapat shift malam atau kerja lembur. Itu ya artinya berada di luar area pembahasan ini.

Okelah, mari sejenak kita menghitung. Berapa banyak sih laki-laki yang sudah menikah itu memberikan waktu mereka untuk keluarga? Apalagi yang tinggal di Ibukota dengan keluhan utama berupa waktu yang habis di jalan.

Katakanlah keluar dari rumah jam 6 pagi, lalu sampai rumah jam 6 petang. Makan, mandi, tahu-tahu sudah pukul 9 malam, waktunya memeluk guling sambil memadamkan lampu. Itu pun kalau pulangnya tepat waktu lho ya.

Dari hitung-hitungan kasar ini, berarti waktu untuk anak istri cuma 3 jam per hari. Masa tega sih, waktu yang cuma tiga jam ini pun masih terenggut untuk agenda kongkow-kongkow?

Iklan

Sewot aja sih kamu, Mbak. Kan masih ada weekend?

Lhaaa… ini masalahnya. Setelah saya perhatikan, bapak-bapak pegiat kehidupan malam ini kalau weekend waktunya ya tetap habis untuk hobi mereka.

Kalau bukan mancing, touring, golf, bongkar pasang spion, lap-lap mobil, panjat tebing, atau tidur seharian dengan alasan di hari kerja sudah sibuk banting tulang.

Dengan fakta seperti ini gimana barisan istri-istri nggak tambah menjerit coba? Kalau waktu luang yang dimiliki selalu diberikan untuk pihak ketiga yang bernama hobi, kenapa dulu nggak dikawinin sekalian aja itu hobi. Ya kan?

Kembali ke alasan mengapa bapak-bapak masih saja suka keluyuran tanpa alasan jelas? Berdasarkan hasil penyelidikan dan wawancara mendalam, saya setidaknya menemukan empat jawaban besar.

Pertama, bosan di rumah. Kedua, cari angin. Ketiga, nggak enak sama teman. Keempat, sejak muda memang senang kongkow dan sulit menghentikan kebiasaan ini.

Pertama, bosan di rumah. Seorang lelaki yang senang sekali kumpul di warung HIK sampai tengah malam, sebut saja namanya Ali, mengaku angkringan dan perkumpulan para pria ini bisa mengobati kebosanannya di rumah.

“Lha gimana. Saya nikah udah bertahun-tahun tapi belum punya anak. Di rumah juga jadi bingung mau ngobrol apa sama istri. Ya daripada saya kumpul sama cewek, mending ke angkringan to, Mbak? Karuan cowok semua.”

Ini barangkali sedikit bisa dimaklumi. Bapak ini mati gaya di rumahnya sendiri dan merasa kesepian, meskipun tidak bisa dibenarkan juga. Emangnya istri di rumah tidak kesepian juga, Pak?

Lha tapi kalau sudah punya anak serenteng kok masih doyan kumpul-kumpul malam? Celakanya, justru keberadaan anak ini yang jadi alasan utama kebosanan.

“Waah… mumet, Mbak. Anak-anak di rumah pada smackdown, berantem jerit-jeritan seperti Perang Teluk berulang. Saya di kantor udah stres, di rumah tambah stres.”

Kesimpulan: ada atau tidak ada anak, bapak-bapak tetap bisa menjadikan kebosanan sebagai sebuah alasan untuk kumpul-kumpul malam.

Alasan berikutnya. Kedua, cari angin. Jawaban cari angin adalah jawaban paling pendek dan cepat untuk dilontarkan saat dihadapkan pada pertanyaan, “Mau ke mana?”

Padahal ini adalah alasan paling konyol. Angin kok dicari. Ketika orang lain menabung agar bisa membeli kipas angin untuk mendinginkan kamar mereka, justru bapak-bapak ini keluar rumah untuk mencari angin yang sebenarnya bisa mereka ciptakan dari rumah. Bisa dibilang jawaban ini muncul karena sebenarnya ya… emang nggak ada alasan aja untuk keluar rumah.

Ketiga, nggak enak sama teman.

Oke, alasan ini masuk akal jika keluar malam cuma dilakukan sesekali. Misalnya sebulan sekali, dan itu pun karena ajakan teman dan memang waktunya sudah dijadwalkan.

Menjadi rancu ketika alasan nggak enak sama teman ini dipakai untuk keluar rutin setiap malam. Itu sih bukan nggak enak sama teman, tapi saking enaknya sama teman.

Keempat, kongkow sebagai hobi. Banyak pemuda yang kecanduan kumpul malam semasa muda sulit menghentikan kebiasaan ini setelah menikah. Kalau nggak keluar malam, maka insomnia melanda. Gelisah jiwa raga.

Dan alasan keempat ini adalah alasan paling ndableg dan sulit dihentikan meski istri jejeritan sekali pun. Butuh tekad kuat untuk bisa lepas dari hobi yang satu ini. Dan masalahnya, jarang ada suami yang punya tekad kayak begitu.

Kabar buruknya adalah, sebenarnya istri pun sangat beralasan juga memiliki keempat masalah itu. Terutama yang nomor satu. Hah! Dikira berada di rumah selama 24 jam dengan teriakan anak dan gunjingan tetangga itu tidak membosankan?

Sebenarnya kalau mau impas-impasan, para istri bisa saja kok melakukan ini. keluar rumah untuk keempat alasan tadi.

Tapi rata-rata istri punya alasan kuat untuk tidak melakukan itu. Dan alasan itu ada pada kata: tanggung jawab.

Mikir anak yang ditinggal sendirian, mikir suami yang tidak terurus kalau dia sering ke luar rumah, mikir kepatutan, dan lain sebagainya.

Setelah menikah, mau tidak mau, senang tidak senang, seorang perempuan sudah berubah statusnya. Dan perubahan status ini membawa konsekuensi berupa tambahan porsi tanggung jawab.

Yang mana, sebenarnya, suami dan istri punya porsi yang sama besar untuk bertanggung jawab terhadap perjalanan rumah tangga, juga kebahagiaan seluruh penghuninya.

Jadi, apa nih solusinya?

Ya boleh aja sih nongkrong, boleh kok, tapi ya mbok dibatasi. Dua pekan sekali cukup lah kalau alasannya karena ingin menjaga kerukunan pertemanan dengan sesama lelaki.

Selebihnya, mungkin suami ini bisa menekuni hobi baru, yakni membantu istri melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak. Kalau dikalkulasi, hobi baru ini selain bisa menekan pengeluaran, juga menambah keharmonisan rumah tangga.

Kalau udah begitu, suami kan jadi nggak perlu sering-sering harus cek notifikasi whatsapp istri. Ya kali whatsapp segala, kan si istri tinggal teriak aja.

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2019 oleh

Tags: bapak-bapakmenikahsuamiwhatsapp istri
Wulan Darmanto

Wulan Darmanto

Artikel Terkait

Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Tepuk Sakinah saat bimbingan kawin bikin Gen Z takut menikah. Tapi punya pesan penting bagi calon pengantin (catin) sebelum ke jenjang pernikahan MOJOK.CO
Ragam

Terngiang-ngiang Tepuk Sakinah: Gen Z Malah Jadi Males Menikah, Tapi Manjur Juga Pas Diterapkan di Rumah Tangga

26 September 2025
Menentukan Waktu yang Tepat untuk Menikah | Semenjana Eps. 4
Video

Menentukan Waktu yang Tepat untuk Menikah | Semenjana Eps. 4

24 Februari 2025
Mendengar Penyesalan Gen Z yang Nikah Muda: Jangan Buru-Buru Kawin Kalau Gajimu Masih Setara UMR Jogja MOJOK.CO
Ragam

Mendengar Penyesalan Gen Z yang Nikah Muda: Jangan Buru-Buru Kawin Kalau Gajimu Masih Setara UMR Jogja

10 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.