Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

NU Hadapi Dunia Metaverse: Melihat Fikih Bekerja di Semesta para Avatar

NU sih sudah terbiasa ngurus hal-hal metafisik, tapi masalahnya ini metafisik yang lain.

Mita Idhatul Khumaidah oleh Mita Idhatul Khumaidah
9 Januari 2022
A A
NU Hadapi Dunia Metaverse: Melihat Fikih Bekerja di Semesta para Avatar. (Mojok.co / Ega Fansuri).

NU Hadapi Dunia Metaverse: Melihat Fikih Bekerja di Semesta para Avatar. (Mojok.co / Ega Fansuri).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – NU perlu menyiapkan diri untuk hadapi dunia metaverse. Sebab, prinsip fikih untuk menghukumi avatar bisa jadi jauh lebih pelik.

Banyak hal menarik yang terjadi pada acara Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Lampung tempo hari. Keterpilihan Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU adalah salah satunya, sedangkan persaingan sengit antar-kubu yang membuat muktamar kali ini beraura pilpres adalah contoh lain.

Namun, buat saya, hal paling menarik terjadi justru pada saat Presiden Joko Widodo memberi sambutan. Di hadapan ribuan nahdliyin, di acara penetapan pemimpin organisasi keagamaan berhaluan tradisionalis, Pak Jokowi berpidato soal teknologi mutakhir bernama metaverse.

“NU di dalam temanya berkhidmat untuk peradaban dunia, hati-hati memang, peradaban itu harus kita pengaruhi, agar maslahat bagi umat manusia di seluruh dunia, khususnya di negara kita Indonesia. Nanti semuanya dakwah virtual, pengajian virtual, tapi betul-betul kayak kita bertemu seperti ini, bukan seperti sekarang yang masih vicon,” ujar Pak Jokowi.

Pak Jokowi juga menceritakan pengalamannya bermain ping-pong virtual dengan Mark Zuckerberg lima tahun lalu dan kisikan yang diterimanya dari bos Meta tersebut.

“Ini baru awal. Nantinya semuanya akan virtual, semuanya akan muncul yang namanya metaverse, restoran virtual, kantor virtual, wisata virtual, mal virtual, hati-hati menyikapi ini.”

Pak Jokowi memang benar: kita mesti berhati-hati dalam menyikapi metaverse. Masalahnya, blio tidak menjelaskan makhluk macam apa metaverse itu, dan kenapa pula orang-orang NU, yang lebih akrab dengan kata “metafisik” ketimbang meta-meta yang lain, harus bersikap waspada?

Sebagai nahdliyin sejak dalam kandungan, izinkanlah saya membantu presiden kita tercinta untuk menjelaskan kepada orang-orang NU mengenai metaverse dan peluang serta tantangan apa yang mungkin dibawanya.

Bagaimanapun NU ingin berkhidmat bagi peradaban dunia; maka sudah semestinya NU mula-mula tahu peradaban dunia macam apa yang sedang dan akan mereka tinggali.

Definisi metaverse sudah dijabarkan dengan apik oleh Mas Isidorus di dalam esainya tempo hari. Ringkasnya, metaverse adalah semesta virtual tiga dimensi yang memungkinkan interaksi antar-penggunanya.

Menurut Mark Zuckerberg, metaverse adalah versi selanjutnya dari media sosial: tidak ada lagi ruang dan layar yang memisahkan pengguna.

Contohnya begini: katakanlah saya dan Mas Bojo terpisah ratusan kilometer karena alasan tertentu. Pada suatu sore saya merasa luar biasa kangen lalu memutuskan untuk membuat panggilan video WhatsApp dengannya.

Sekalipun kami bisa saling memandang dan mewek bersama, ada layar dan ruang yang membatasi kami; Mas Bojo tidak bisa benar-benar terasa hadir di dekat saya.

Keterbatasan itulah yang ingin dihapus melalui metaverse. Ketika saya merasa kangen, saya tinggal menghubungi Mas Bojo sebelum kami memakai peranti keras tertentu.

Iklan

Fisik kami memang masih berjauhan, tapi representasi diri kami bisa duduk berduaan di ruang virtual. Saya bisa memandangnya tanpa penghalang layar, dan dia bisa memeluk saya seolah kami berada di teras rumah.

Sampai di sini tidak ada yang benar-benar baru pada teknologi metaverse. Seperti yang ada di Twitter atau Facebook, apa-apa yang ada di metaverse hadir sebagai representasi.

Bedanya, jika diri kita di medsos hanya diwakili oleh gambar diam dan teks, maka metaverse memungkinkan kita untuk membikin tubuh representatif bernama avatar.

Avatar itulah yang nantinya menyediakan banyak tantangan bagi NU. Dalam jangka pendek, NU mesti menemukan jawaban atas pertanyaan fikih berikut ini: bisakah representasi diri berupa avatar itu dikenai hukum dan norma yang sama dengan diri fisik?

Di era medsos sebelumnya, pertanyaan di atas mungkin bakal terdengar kocak. Kita jelas tidak bisa menggelar salat Jumat via Zoom karena secara fisik kita berada di ruang yang berbeda, sekalipun berada pada waktu yang sama.

Tapi dengan metaverse, keterbatasan itu bisa diatasi. Sekalipun sang khotib berada di Maroko, muazinnya mengumandangkan azan dari Siberia, dan seratus jamaah lainnya duduk dengan takzim di kamarnya masing-masing, avatar mereka bisa berkumpul bersama di masjid virtual demi melangsungkan salat Jumat.

Dan ingat, gerakan avatar bergantung pada gerakan tubuh fisik: kita tidak bisa menyebut jamaah avatar itu tidak sedang salat karena nyatanya tubuh fisik mereka benar-benar melakukan gerakan salat.

Sah atau tidaknya salat Jumat model begitu tentu bakal bergantung pada keputusan ahli fikih dalam menentukan jawaban atas pertanyaan tadi.

Jika ruang virtual itu bisa dipakai untuk menggelar muktamar dan salat Jumat menurut ahli fikih, maka ia alat ini pun pasti bisa dipakai juga untuk urusan lain. Berzina, misalnya.

Ketika Romeo di era medsos merasa kangen dengan Juliet, ia akan membuka aplikasi medsos tertentu dan menghubungi kekasihnya tercinta. Mereka mungkin akan saling mengirim pesan teks dan suara, dan jika kerinduan itu tak kunjung tertuntaskan mereka bakal melakukan panggilan video.

Romeo kita ini ternyata sedang kepingin, tetapi keberadaan jarak menghalanginya untuk berkimochi dengan Juliet. Mereka akhirnya sama-sama bermasturbasi di panggilan video itu.

Apa yang dilakukan Romeo dan Juliet di atas tentu salah dari perspektif agama, tapi keduanya tak bisa disebut berzina. Mau seheboh apa pun desahan Juliet dan secabul apa pun ucapan Romeo, tak ada penetrasi penis masuk ke vagina, yang menjadi definisi atas zina.

Lalu tibalah era metaverse. Romeo dan Juliet telah membeli peranti keras tertentu, dan keduanya sepakat bertemu di ruang virtual demi menuntaskan rindu. Katakanlah bahwa teknologi metaverse telah cukup matang sehingga mampu menampilkan bukan hanya audio-visual, melainkan juga tekstur dan kontur benda, serta sensasi.

Romeo dan Juliet kini bisa merasakan apapun dari perbuatan avatarnya, dan representasi diri mereka itu kini juga punya sesuatu yang bisa dipakai untuk memenuhi definisi zina.

Tapi bisakah mereka disebut sedang hohohihe? Jika bisa, faktanya tubuh fisik Romeo berada di Maladewa dan Juliet di Mojorembun, dan keduanya berpakaian serapi pegawai negeri di hari Senin.

Jika tidak, maka faktanya diri representatif mereka benar-benar melakukannya, dan diri fisik keduanya menerima sensasi dan emosi yang sama belaka dengan sejoli yang sedang bersenggama betulan di hotel.

Kalau status soal diri representatif di jagat meta sudah sedemikian pelik, maka bayangkanlah apa jadinya bila avatar nanti terlepas dari diri fisik yang ia representasikan.

Katakanlah bahwa kita hidup di era ketika kecerdasan artifisial sudah sangat canggih sehingga bisa menciptakan kesadaran.

Tahu bahwa sebentar lagi saya bakal mati gara-gara kanker, saya menyewa jasa AI tertentu yang bukan hanya mampu merekam segala perjalanan historis dan data biometrik saya, melainkan juga merekam semua memori dari otak saya, menganalisis karakteristik saya, lalu memindahkannya ke avatar saya di metaverse.

Saya sebagai organisme kemudian mati betulan seminggu kemudian, tapi avatar saya masih hidup entah hingga kapan. Dan avatar saya ini tak ada bedanya dengan saya si manusia berdaging dan berdarah; ia punya kesadaran, memori, karakteristik, dan inteligensi yang persis sama dengan saya. Bedanya, ia muda abadi dan hanya bisa mati karena kerusakan server.

Bagaimana institusi agama kemudian menganggap avatar saya itu? Ia tidak lagi merepresentasikan diri fisik saya. Ia sudah menjadi diri saya sendiri. Memang benar bahwa ia bukan makhluk organik, tapi ia memiliki kesadaran.

Ingat, hukum agama selama ini dikenakan berdasar pada kepemilikan kesadaran seseorang; oleh sebab itulah orang gila atau koma tidak bisa dimintai zakat atau disuruh salat, sekalipun mereka masih punya tubuh organik.

Artinya, bukan tidak mungkin, ini bisa menjadi bahan perdebatan ilmu fikih di bahtsul masail beberapa dekade mendatang. Bagaimana NU menghadapi dunia yang multi-dimensi, multi-representatif, dan bagaimana fikih mampu mengikutinya.

Tidak perlu sampai urusan halal-haram deh, tapi soal sah atau tidak sah urusan ibadah. Seperti, apakah sah bayar zakat pakai kripto ke avatar pengemis di dunia metaverse? Atau apakah sah thawaf melalui dunia metaverse padahal yang muterin Ka’bah itu adalah avatar kita doang? Atau, bagaimana kalau nanti ada santri mau mondok, tapi yang mondok cuma avatarnya doang?

Nah, peradaban dunia seperti inilah yang akan merombak cara kita mendefinisikan dan memaknai diri, yang tentu saja bakal ikut mengubah tatanan yang selama ini kadung mapan.

Liberalisme dan demokrasi bakal usang, dan konsep negara-bangsa tak pernah menghadapi tantangan yang lebih serius ketimbang sebelumnya.

Begitu pula dengan NU dan institusi agama mana pun. NU berhasil menjadi kompas yang akurat di era pra-kemerdekaan, dan NU mampu menjadi jangkar yang kokoh di era informasi.

Era baru yang sebentar lagi tiba ini menghadirkan ombak dan angin yang berbeda, bahkan mungkin pula ia tak cocok diarungi dengan metode pelayaran konvensional. Mampukah NU tetap relevan bagi umat Islam pada era baru anak cucu kita nanti itu? Yah, syukur-syukur mampu berkiprah aktif dan bukan sekadar jadi jangkar?

Saya sih ingin sekali berkata: Iya, bisa.

BACA JUGA Mental Silikon pada Proyek Silicon Valley Indonesia dan tulisan Mita Idhatul Khumaidah lainnya.

Penulis: Mita Idhatul Khumaidah

Editor: Ahmad Khadafi

 

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2022 oleh

Tags: avatarBahtsul Masaildunia metaversefikihmetaverseNahdlatul Ulamanu
Mita Idhatul Khumaidah

Mita Idhatul Khumaidah

Staf pengajar dan pelapak daring paruh waktu, ibu rumah tangga penuh waktu.

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.