Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Surat buat Mas Mark Zuckerberg soal Teror Jakarta

Nosa Normanda oleh Nosa Normanda
15 Januari 2016
A A
Seratus Tahun Jalan Hijab Angelina Sondakh

Seratus Tahun Jalan Hijab Angelina Sondakh

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dear Mas Mark,

Terima kasih banyak karena sudah mengerti penduduk Indonesia, khususnya Jakarta.

Iklan

Setelah teror di Sarinah, bom-bom meledak dan orang-orang ditembak, Mas Mark dan Facebook diam saja. Meski kami (khususnya Jakarta) adalah satu dari tiga pemakai aplikasimu yang paling tinggi di dunia (63 juta orang).

Diammu emas, Mas Mark. Tidak ada fitur Safety Check buat Jakarta, walau penembakan terjadi di wilayah paling penuh eksekutif muda dan kelas menengah hehek Jakarta. Apalagi filter bendera, meh.

Tapi menurut saya, perlakuanmu kepada pengguna Facebook Indonesia sudah benar. Saya pribadi kagum dengan kemampuan analisamu yang sangat tajam, tahun lalu Mas mengunjungi Tanah Abang bersama Presiden kami. Mas Mark mudah sekali mengerti karakteristik kami.

Kamu memang hebat, Mas. Kamu pasti sudah memperhatikan dan paham betul hal-hal berikut ini pada orang Jakarta:

Pertama, Orang Jakarta Tidak Kabur dari Teror. Kami Mendekati Teror, kadang Kamilah Teror!

Kamu pasti melihat di siaran TV streaming, bahwa ketika ada ledakan dan penembakan, banyak orang malah berkerumun untuk melihat lokasi dan mengambil gambar melalui HP mereka.

Orang Jakarta sudah sangat melek internet dan benar-benar tahu bagaimana menjalankan citizen journalism. Perilakunya sudah 11-12 dengan jurnalis perang profesional tapi bodrek: tak kenal takut, tak sayang nyawa, dan tak punya etika.

Lihat saja betapa cepat foto-foto mayat menyebar melalui grup Whatsapp (yang sudah Mas Mark beli itu). Para Jurnalis Rakyat ini tak peduli apa efek foto mayat itu pada orang yang melihat. Mereka tak bisa membayangkan, bagaimana kalau yang ia sebar itu adalah foto mayat saudaranya sendiri. Lalu ada yang komen: “Kalau saya malah senang melihat foto mayat saudara sendiri, jadi tahu pasti kabar saudara saya.” Sampeyan mabuk, Bro. Pulang sana.

Mereka salut kepada tukang Sate yang tetap kerja sementara mereka sudah sibuk dalam insiden—beberapa waras dan bersembunyi, sisanya maju mencari mati. Mereka lupa bahwa jangankan teroris, kuntilanak saja tukang sate tidak takut

Kedua, Netizen Senewen kalah Cepat dengan Aplikasi Transportasi

Di serangan Paris, reaksi netizen terhadap serangan teror adalah hashtag #porteouverte, buka pintu, untuk menawarkan perlindungan kepada siapapun yang tak bisa pulang. Di Sarinah, ini tentunya tak mungkin dilakukan, karena wilayah itu agak jauh dari pemukiman—kalaupun ada, kemungkinan besar ilegal untuk siap-siap digusur koh Ahok. Apartemen terlalu mewah untuk membukakan pintu, dan orang Jakarta lebih takut orang Jakarta lain daripada orang Paris takut pada Turis.

Inisiatif Netizen setelah berita (atau rumor) menyebar sangat khas Indonesia, Mas Mark pasti tahu: membuat hashtag menjadi trending. Ada beberapa hashtag yang lewat timeline saya, Mas. Trending pertama tentu doa karena kami bangsa yang (mengaku) beragama, #prayforjakarta. Trending kedua dramatisasi, #jakartamencekam. Dan trending ketiga adalah simpulan yang agak terlambat, #kamitidaktakut.

Ya, kami memang tidak takut, tapi kami panik. Kami menyebar informasi yang prematur dan menularkan kepanikan kepada semua orang. Kami tidak kepikiran untuk menyelamatkan nyawa orang lain secara viral, misalnya dengan menawarkan kendaraan kepada yang membutuhkan. Tak ada hashtag #kuantarkaupulang. Yang ada gerakan-gerakan sporadis macam kepahlawanan tukang Gojek menyelamatkan wanita muda, damsel in distress.

Bicara soal Gojek, kita bicara soal inisiatif ‘kemanusiaan’. Ketika Netizen tidak kepikiran menawarkan kendaraan, perusahaan ini, juga Grabtaxi, menawarkan jasa gratis dalam keadaan darurat. Mas Mark pasti bertanya-tanya: dengan Gojek, gimana cara kabur dari teroris bersenjata api? Saya juga bingung, Mas. Mungkin nanti ada fitur baru pengendara dan penumpang Gojek dilengkapi jaket anti peluru.

Ketiga, dalam Kepanikan Mari Cari Kambing Hitam

Sebagai mantan hacker kelas dunia, Mas Mark harusnya sudah dengar soal gejala website abal-abal di Indonesia yang selalu lebih viral daripada berita sungguhan yang dibuat profesional. Salah satunya adalah website dengan kandungan kata ‘Piyungan’. Beritanya: ini bukan salah teroris, tapi ini pengalihan isu soal Freeport.

Iklan

Kecepatan menyebarnya isu ini mungkin adalah hal yang membuat Mas Mark dan kawan-kawan di Facebook peduli setan dan putus asa pada bangsa kami. Bayangkan, kami sangat peduli Papua, hingga saat-saat genting orang-orang mati di jalanan, kami berpikir soal Papua dan membuat teori konspirasi. Kami percaya bahwa pemerintah kami bisa sejahat itu terhadap orang Jakarta demi menjahati orang Papua lebih jauh.

Haibat!

Kalau soal Freeport dan uang dan foya-foya dan main golf dan pesawat jet, kami memang cepat naik pitam dan cari hubungan-hubungan yang jauh-jauh. Tapi kalau soal penindasan tentara terhadap rakyat Papua, soal anak-anak kecil dan para dokter yang meninggal, kami cepat lupa kok.

Uang jauh lebih penting daripada nyawa! Nyawa mah, apah!? Cuma pemberian Tuhan saja kok. Kami lebih kangen akhirat!

Jadi, Mas Mark, kami mengerti ketidakpedulian Mas Mark. Kami setuju bahwa kami tidak butuh Facebook untuk menyelamatkan nyawa—toh kami tidak peduli-peduli amat. Kami cuma butuh Facebook dan media sosial lain sebagai lapak debat kusir saja. Toh, kami sudah pernah icip-icip jadi warga dunia pertama waktu serangan di Paris, sekarang kami bahkan kesampean bisa bikin simbol monas seperti simbol Serangan Paris.

Yiay! Senangnya jadi kelas menengah kota yang kreatif dan inovatif.

Mas Mark tidak perlu khawatir kehilangan pelanggan. Kami mengerti. One hundred percent!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Bom SarinahFacebookMark ZuckerbergSafety checkTeror JakartaTeror Sarinahtop2016
Nosa Normanda

Nosa Normanda

Artikel Terkait

Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen MOJOK.CO

Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen

20 September 2023
download video facebook mojok.co

Enggak Perlu Ribet! Ini 5 Cara Download Video Facebook Tanpa Aplikasi

21 Januari 2023
Para Pembersih Video Porno dan Kekerasan yang Ditumbalkan Demi Kita MOJOK.CO

Para Pembersih Video Porno dan Kekerasan yang Ditumbalkan Demi Kita

13 Desember 2022
pse kominfo mojok.co

Facebook, Google, WhatsApp Terancam Diblokir, Pakar Singgung Kedaulatan Digital Bangsa

18 Juli 2022
Facebook ganti nama jadi meta mojok.co

Sedang Diawasi Ketat, Facebook Ganti Nama Jadi Meta

29 Oktober 2021
Data Scientist: Pekerjaan dengan Gaji Tinggi, Tanggung Jawab Moralnya Ekstra MOJOK.CO

Data Scientist: Pekerjaan dengan Gaji Tinggi, tapi Tanggung Jawab Moralnya Ekstra

26 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.