Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Nggak Cuma karena Jokowi, Dapat Kerja di Indonesia itu Memang Susah

Rusmanto oleh Rusmanto
29 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Betapa susah dapat kerjaan idaman di Indonesia zaman Jokowi ini. Apalagi kerja yang sesuai harapan bangsa dan negara atau iklan kampanye salah satu capres.

Kerja di Indonesia, rasanya lebih “luar” dibandingkan kerja di luar negeri. Tapi itu kata orang, karena saya sendiri tidak pernah di luar negeri. Namun demikian, bagi saya dan orang-orang yang saya kenal, kerja di Indonesia pada zaman Jokowi ini memang membutuhkan keahlian yang istimewa.

Ya nggak cuma karena Jokowi-nya juga sih, tapi karena perubahan zamannya aja yang kebetulan Jokowi presidennya.

Baru-baru ini, di media sosial (agak) ramai dibicarakan lulusan Jerman yang berprofesi sebagai tukang ojek online. Sebetulnya hal tersebut bukan hal baru, karena banyak juga sarjana yang berprofesi jadi tukang ojek, baik ojek online maupun pangkalan.

Namun hal itu menjadi “wah” karena tukang ojek tersebut lulusan luar negeri—dari Jerman lagi. Seolah-olah lulusan luar negeri harus dapat kerja yang “wah” juga. Terus lulusan dalam negeri kalau kerja jadi tukang ojek kesannya ya biasa aja.

Orang bijak mungkin akan berkata, “Apapun pekerjaanya, selama bisa memberi dedikasi terhadap pekerjaan tersebut, tentu tidak masalah.” Dan marilah kita berharap banyak orang bijak di negeri ini sehingga tidak ada yang meremehkan jenis pekerjaan apapun.

Untuk hal urusan pekerjaan mungkin kita bisa mencontoh Bapak Hasanudin Abdurakhman, seorang ilmuwan yang meniti karier dari seorang penerjemah, yang akhirnya konon bisa punya gaji setara Presiden. Tapi ya, yang mau mencontoh jangan berharap muluk-muluk, yang penting optimis aja dulu.

Jadi penerjemah zaman ini mungkin berbeda dibanding zamannya Kang Hasan masih muda. Menurut pengalaman mantan pacar saya yang dulu pernah kuliah dan tinggal di Jogja untuk mendaftar jadi penerjemah di lembaga penyedia layanan penerjemah dan tour guide itu seleksinya bukan main, karena tidak cukup bisa berbahasa asing saja.

Setelah proses rekrutmen, kemudian dipanggil, dan masuk pada tahap wawancara, saat itu—katanya—hanya ada satu pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

“Bagaimana bila pengguna mengajak Anda ke bar, pub, atau melakukan hal lainnya?”

Begitu kira-kira pertanyaanya.

Lah, terus ini mau dijawab apa? Melakukan hal yang lainnya itu apa? Terus ini penyedia layanan penerjemah apa layanan kencan sih?

Karena telanjur patah hati dengan penyedia layanan tersebut, akhirnya mantan pacar saya tidak jadi melamar di penyedia layanan serupa lainnya (padahal, mungkin nggak semua seperti itu). Terlepas dari itu, bagi saya, dia adalah mantan terindah yang pernah ada.

Baiklah, mari berhenti membicarakan mantan dan beranjak ke hal yang lebih serius. Ternyata mencari pekerjaan di bidang lain pun cukup berat. Bukan karena kompetisinya yang ketat, tapi karena seleksinya yang konon sudah tidak fair.

Iklan

Di lembaga (yang katanya) pendidikan tinggi, untuk menjadi dosen juga sulit. Dulu waktu awal menikah (sudah nggak ngomongin mantan), istri saya bilang, kalau mau lanjutin kuliah di jurusan yang linear biar bisa ngajar atau jadi dosen.

Lalu waktu itu saya bilang, “Sayang (masih sayang-sayangan karena belum punya anak), nggak perlu linear, jadi dosen itu tergantung siapa yang merekomendasikan atau siapa yang bawa, kalau relasi dan koneksi nggak tepat, nanti akan kalah kompetisi.”

Dan yang tadinya sayang-sayangan, dilanjutkan dengan berdebat sengit. Akhirnya saya mengalah, (ingat ya, Bung, mengalah itu bukan berarti menang) daripada harus berantem, ngambek, terus tidur di kasih punggung, tentu saya lebih milih bilang; “Baiklah kalau begitu.”

Belakangan ternyata, ada temannya yang kalah seleksi dosen dengan orang yang memiliki ijasah tidak linear. Dan tentu saja memiliki relasi dan koneksi yang tepat. Kalau boleh pinjam istilah bapak SBY, “Terkadang, di sanalah saya merasa prihatin,” karena ternyata butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat istri saya percaya. Dan itu pun harus ada temannya yang mengatakan hal serupa.

Selain dosen profesi yang cukup menarik bagi saya adalah sales. Baik sales asuransi, leasing, bank, panci, maupun yang lain. Bagi orang pada umumnya, yang pernah melamar jadi sales tentu berpengalaman pada persyaratan yang (bagi saya) mengada-ada.

Jadi sales itu harus berpenampilan menarik (seperti Wonder Women), dituntut untuk kerja cepat mencapai target (seperti The Flash), terus siap lembur (seperti Batman), tidak lupa juga harus bisa bekerja sendiri ataupun dalam tim.

Oleh sebab itulah, mungkin dibandingkan jadi sales, akan lebih mudah melamar jadi anggota Liga Keadilan (Justice League) sekalian.

Baru melamar kerja udah susah, sesudah bekerja, beban berat akan menanti. Jadi sales itu berat, kamu nggak akan mampu, biar mereka aja, karena saya juga nggak mau.

Kompetisi yang berat menjadi seleksi alam untuk menentukan siapa yang bertahan. Tampaknya profesi ini bisa menjelaskan teori evolusi Darwin dengan cukup baik.

Tapi jangan khawatir, karena salah satu pekerjaan yang digemari anak muda belakakangan ini selain startup adalah kerja di NGO atau LSM, konon cukup menjanjikan.

Bayangan kerja dengan waktu yang fleksibel dengan penghasilan yang lumayan tentu sesuai dengan gelora muda. Meski pada kenyataanya nggak semudah itu, Fulgensio.

Pertama masuk (kalau di NGO dalam negeri), akan digaji dengan gaji anak magang (yang biasanya paling gede mentok di UMR). Dan tentu saja dijanjikan akan naik seiring waktu, yang waktunya entah kapan karena setelah bertahun-tahun tidak naik juga.

Saya punya kenalan yang pernah kerja di NGO (yang ngakunya) perlindungan perempuan dan anak di Jogja, saat cuti melahirkan ia hanya mendapat setengah gaji pokok saja, yang berarti seperempat gaji yang sesungguhnya.

Sebenarnya gaji di NGO cukup baik, namun karena NGO juga merangkap jadi outsoucing, maka gajinya berubah dari lumayan jadi memprihatinkan. Untuk tahun-tahun yang lalu, pekerja lapang akan mendapat gaji sekitar 3 juta, dan yang diterimakan biasanya setengahnya menjadi 1,5 juta saja. Kemudian saat pekerja cuti melahirkan hanya akan menerima 750 ribu saja.

Jadi kalau kamu sebentar lagi lulus kuliah dan belum punya gambaran mau kerja apa, sementara relasi dan koneksi kamu minim, maka kamu harus bersiap menghadapi dunia kerja Indonesia yang luar biasa.

Kalau kamu merasa kondisi demikian tidak adil, kamu bisa menyalahkan Pemerintah, Parlemen, sampai Jokowi, di sosial media. Lha ketimbang kamu harus menyalahkan diri sendiri dan depresi.

Kalau tulisan kamu bagus dan kamu punya potensi jadi terkenal, mungkin akan ada yang merekrut jadi cyber army dan bisa punya penghasilan lumayan. Atau mungkin kamu bisa seperti Mas Iqbal Aji Daryono si buzzer 200 juta tapi mobilnya Suzuki Ignis, yang penghasilan fiktifnya lebih dari sekadar lumayan.

Meskipun berat, kalau kamu tetap mau menjalaninya dan tidak sempat menyalahkan pemerintah atau Jokowi, mungkin bersabar adalah jalan terbaik.

Apapun yang terjadi di dunia kerja nanti, kamu bisa mencontoh Mak Lampir dalam serial Misteri Gunung Merapi. Meski pun kalah berkali-kali dalam pertarungan, dia selalu tertawa riang, hii.. hii.. hii.. hii.. hi.

Soalnya kalau udah nggak bisa ketawa lagi, serialnya bubar. Farida Pasha bisa-bisa ikut baca tulisan ini sambil manggut-manggut senewen.

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2018 oleh

Tags: DosenFarida PashaIqbal Aji DaryonojermanjokowiKang HasankerjaMak Lampirojol
Rusmanto

Rusmanto

Dirahasiakan biar nggak diculik.

Artikel Terkait

Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.