Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Negara Berdagang dengan Rakyatnya Melalui Seleksi CPNS

Jihan Nadya Yahya oleh Jihan Nadya Yahya
5 September 2024
A A
Negara Berdagang dengan Rakyatnya Melalui Seleksi CPNS MOJOK.CO

Ilustrasi Negara Berdagang dengan Rakyatnya Melalui Seleksi CPNS. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Server down dan bikin boncos pelamar CPNS

Pada 3 September 2024, seluruh website untuk membeli e-Meterai mengalami eror. Sontak, jagat sosial media X heboh. 

Banyak netizen membagikan keluhan yang sama. Mereka tidak bisa mengakses dan mengonfirmasi pembelian walaupun sudah MEMBAYAR BERULANG KALI.

Iklan

Merangkum curhatan pelamar CPNS di X, collective experience yang dirasakan adalah pelamar mengalami kerugian materi. Umumnya lebih dari Rp50 ribu. Bahkan ada yang sampai merogoh kocek hingga ratusan ribu hanya untuk membeli e-Meterai. 

Padahal, harga sekeping e-Meterai menurut ketentuan Kementerian Keuangan adalah Rp10 ribu. Realitanya, e-Meterai dijual seharga 12.500 rupiah. Jadi, Rp10 ribu merupakan nilai meterai, sisanya adalah biaya admin karena nggak mungkin dong penyedia jasa tidak mendapatkan keuntungan. 

Semua keruwetan ini terjadi mendekati deadline pendaftaran CPNS yang jatuh pada 6 September 2024. Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada ganti rugi bagi pelamar yang mengalami kegagalan pembelian e-Meterai?

Jika penyedia jasa memiliki tanggung jawab terhadap konsumen, seharusnya hal tersebut dilakukan. Tapi ya kita sudah tahu bakalan bagaimana mereka menyikapi ini. 

Memaksa pakai e-Meterai untuk lamaran CPNS itu tidak relevan

Menggunakan e-Meterai atau meterai fisik di tahap awal pendaftaran CPNS ini saya rasa tidak relevan. Ya apa urgensinya menempelkan materai pada surat lamaran?

Bukannya lebih masuk akal jika pelamar baru memakai meterai ketika membubuhkan tanda tangan pada dokumen pemberkasan akhir setelah lolos seleksi? 

Meterai, sebagai alat bukti sah hukum, ketika digunakan pada saat pendaftaran akan menjadi sia-sia. Kasarnya, buang-buang duit karena dokumen yang mendapat meterai tidak akan ada gunanya bagi kedua belah pihak, baik pelamar dan instansi apalagi jika pelamar tidak lolos seleksi hingga tahap akhir. 

Belum lagi ketika membahas kekuatan meterai itu sendiri. Meterai bukan merupakan instrumen yang sepenting itu dalam kesepakatan atau perjanjian. Perjanjian tetap sah ketika ada tanda tangan pihak yang terlibat. Nah, meterai dibutuhkan untuk membawa dokumen tersebut sebagai bukti di pengadilan. 

Mau melamar pekerjaan eh kena pajak juga

Sejatinya, meterai berfungsi sebagai bukti bahwa pajak pembuatan dokumen telah dibayarkan kepada negara. Bayangkan saja, belum cukup negara “memalak” rakyatnya dengan pajak yang kita bayarkan ketika membeli barang, makan di restoran, pajak kendaraan dan bangunan, serta seluruh hal lainnya yang mengharuskan kita membayar pajak, sekarang kita juga harus membayar pajak ketika melamar pekerjaan? 

Maka dari itu, agaknya wajar bila pengadaan e-Meterai sebagai persyaratan terbaru dalam seleksi CPNS ini dicurigai sebagai cara negara berdagang dengan rakyatnya. Ini seperti memanfaatkan keputusasaan orang-orang ketika saat ini semakin susah mencari pekerjaan agar dapat mencukupi kebutuhan hidup.

Belum lagi masalah pemerataan akses Internet di daerah tertinggal. Jangankan mendaftar dan kemudian membeli e-Meterai. Mereka saja belum tentu mendapatkan akses informasi seputar seleksi CPNS. 

Pemerintah itu tuli dan tidak peduli

Sudah susah mendapatkan informasi, belum tentu ada perangkat komputer atau laptop untuk mendaftar. Seleksi CPNS, yang secara teori mengajak masyarakat untuk dapat berkontribusi sebagai pelayan sipil, tapi nyatanya tidak berasas kerakyatan. 

Iklan

Jika saja pemerintah kita menganut nilai kesejahteraan dan kesempatan untuk semua, kebijakan dan program yang mereka keluarkan selama ini tidak akan se-memaksa itu. Kalau memakai istilah zaman sekarang, pemerintah itu tone deaf. 

Ya bagaimana lagi. Mau berharap kepada pemangku kebijakan untuk mengerti penderitaan rakyat ketika mereka hidup susah saja tidak pernah. Masalahnya ini sudah tone deaf, korup pula, sehat-sehat ya warga negara Indonesia.

Penulis: Jihan Nadya Yahya

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA E-meterai Cara Halus Pemerintah “Merampok” Duit dan Waktu Pelamar CPNS 2024 dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 5 September 2024 oleh

Tags: ASNCpnse-meteraiharga e-meteraipendaftaran cpnsPNS
Jihan Nadya Yahya

Jihan Nadya Yahya

Hobi memasak. Dari makanan, dessert, sampai mengkritik kebijakan pemerintah.

Artikel Terkait

PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO
Kilas

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO
Sekolahan

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.