Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

Thariq Ibrahim oleh Thariq Ibrahim
9 Maret 2026
A A
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO

Ilustrasi Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Debat pasutri Muhammadiyah vs NU: Bukan tentang hisab atau rukat

Lima tahun pernikahan membuat saya sadar bahwa perbedaan seperti ini sebenarnya lebih kecil daripada yang sering dibayangkan orang. Di luar sana, kadang perbedaan antara Muhammadiyah dan NU terlihat seperti jurang ideologis yang besar. 

Padahal ketika masuk ke dapur rumah tangga yang diperdebatkan sering kali bukan metode penentuan bulan, tapi siapa yang lupa beli santan untuk masak opor.

Pada 2021, atau tahun pertama kami menikah, kebetulan Lebaran versi Muhammadiyah dan NU jatuh pada hari yang sama. Saya sempat berpikir, “oh ternyata aman-aman saja.” Tahun kedua juga relatif sama. Saya mulai merasa isu dua Lebaran itu mungkin hanya cerita yang dibesar-besarkan. 

Ternyata saya terlalu cepat merasa aman. Memasuki tahun-tahun berikutnya, saya mulai paham bahwa perbedaan itu memang nyata, meskipun tidak selalu muncul setiap tahun. Ketika muncul, ia datang seperti pengingat kecil bahwa rumah tangga kami berdiri di atas dua tradisi yang berbeda. Yang menariknya justru dari situ saya belajar sesuatu yang tidak pernah saya pelajari di buku fikih atau kajian organisasi.

Saya belajar bahwa toleransi tidak melulu soal pidato besar atau seminar kebangsaan yang kaku. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: membiarkan pasangan menjalankan keyakinannya tanpa kita merasa perlu menjadi pemenang.

Ambil contoh soal awal Ramadan. Jika tanggalnya berbeda sehari, dapur kami mendadak punya dua zona waktu. Saya akan bangun sahur dengan sangat serius, lengkap dengan denting sendok yang beradu di piring, sementara istri saya setengah mengantuk karena merasa puasanya baru ‘resmi’ esok hari. 

Bagi kami, ini tetap terasa normal. Tidak ada yang merasa lebih benar atau lebih salah. Yang ada hanya dua orang yang mencoba saling memahami latar belakang masing-masing.

Beda hari Lebaran nggak masalah, asal makan opornya dari satu panci yang sama

Tahun ini, Ramadan 2026 datang seperti tamu lama yang mengetuk pintu. Kabar bahwa 1 Syawal berpotensi beda hari pun mulai beredar. Saya hanya bisa tertawa kecil. Rasanya seperti menonton ulang episode lama dari serial keluarga yang sudah saya hafal alurnya: 

Saya berkata pada istri, “Sepertinya tahun ini kita dapat bonus dua lebaran lagi.”

Istri saya menjawab santai, “Yang penting opornya tetap satu panci.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah mengapa terasa sangat menggambarkan rumah tangga kami. Perbedaan tanggal memang bisa terjadi, tapi meja makan tetap sama. 

Kadang saya membayangkan rumah kami seperti laboratorium kecil untuk Muhammadiyah dan NU. Bukan laboratorium sains dengan tabung reaksi dan jas putih, tapi laboratorium kehidupan sehari-hari. Di dalamnya ada dua tradisi Islam Indonesia yang sering dianggap berbeda, tapi sebenarnya bisa duduk santai di ruang keluarga yang sama.

Di satu sisi, tradisi Muhammadiyah dengan hisab yang rapi dan terencana, di sisi lain ada tradisi NU, yaitu rukyat yang menunggu langit dengan sabar. Dan di tengah-tengahnya ada kami, dua orang yang hanya ingin menjalani Ramadan dengan tenang. 

Perbedaan suami Muhammadiyah, istri NU, tak selalu harus diselesaikan

Lima tahun pernikahan mungkin belum terlalu lama. Tapi cukup untuk membuat saya sadar bahwa perbedaan antara suami yang Muhammadiyah dan istri yang NU tidak selalu harus diselesaikan, kadang ia cukup diterima sebagai bagian dari cerita.

Setiap Ramadan, rumah kami selalu punya potensi kecil untuk merayakan dua Lebaran. Tapi sejauh ini, tidak pernah ada dua hati yang benar-benar berpisah karena itu. 

Kalau dipikir-pikir, mungkin di situlah letak keindahannya. Pada akhirnya, Lebaran bukan soal angka di kalender, melainkan tentang pulang, saling memaafkan, dan makan ketupat sampai kancing baju hampir menyerah.

Setelah semua perdebatan langit itu selesai, kami tetap pulang ke pintu yang sama. Tak peduli siapa yang takbir duluan, selama piring kami masih berisi opor dari panci yang sama, perbedaan tanggal hanyalah bumbu pelengkap di atas meja makan. 

Penulis: Thariq Ibrahim
Editor: Agung Purwandono

Iklan

BACA JUGA Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: lebaran 2026MuhammadiyahNahdlatul Ulamanupilihan redaksiRamadan 2026
Thariq Ibrahim

Thariq Ibrahim

Pembina di Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon Tasikmalaya, Mahasiswa S2 IAI Tasikmalaya, pegiat Moderasi Beragama dan penulis lepas.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.