Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menjadi Cameo Adalah Jalan Ninja Ridwan Kamil

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
29 Januari 2018
A A
Ridwan-Kamil-dan-Dilan-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Bandung terbuat dari Braga, Peuyeum, dan Ridwan Kamil.”

Berawal dari akun twitter Partai Keadilan Sejahtera yang mengumumkan bahwa Dilan adalah nama maskotnya, Surayah Pidi Baiq sampai membuat klarifikasi. Penulis novel Dilan tersebut menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah ada kesepakatan atau kontrak apapun dengan partai yang bersangkutan. Semoga hal ini tidak membuat film Dilan 1990 bernasib sama seperti Sari Roti.

Seandainya tidak ada yang bertanya pada Surayah tentang hubungan antara Dilan maskot partai dan Dilan maskot geng motor, sebenarnya hal ini tidak perlu dijelaskan lagi. Sama seperti Ariel Peterpan yang tidak perlu menjelaskan bahwa bandnya dulu tidak ada kerja sama politik dengan PAN. Bagus Netral pun tidak harus menunjukkan bahwa dirinya benar-benar netral.

Ini murni kesamaan nama saja. PKS menamai maskotnya Dilan sebab ada nama Dilan dalam Partai Keadilan Sejahtera. Hal yang sama yang dilakukan sebuah minimarket waralaba dengan maskot bernama si Domar yang diambil dari brand Indomaret.

Jika mau dihubungkan dengan politik, kenapa film Dilan 1990 tidak dikaitkan dengan Ridwan Kamil saja?

Karena jelas, Kang Emil jadi cameo di sana. Setiap penonton film Dilan 1990 akan melihat Kang Emil berperan sebagai guru yang menempel pengumuman di mading. Tentunya manuver ini bisa menambah elektabilitas Ridwan Kamil di percaturan pilgub Jawa Barat. Bisa saja jumlah penonton film Dilan di Jawa Barat nanti berbanding lurus dengan jumlah pemilih Kang Emil.

Bahkan, ada penonton yang memutuskan nonton film Dilan karena ingin melihat akting Kang Emil semata. Hasilnya? Dia review, filmnya bikin ngantuk. Hal ini berujung dia dirisak oleh penggemar Dilan. Padahal yang terpenting, tujuan penonton tersebut telah tercapai, yaitu menyaksikan Ridwan Kamil. Sayangnya, sang wali kota Bandung tersebut hanya kebagian jatah adegan sekelebat dengan dialog singkat. Namun, dialog Kang Emil dalam Bahasa Sunda ini cukup bombastis, yang kira-kira artinya begini:

“Ngapain ke Jakarta? Mending di Bandung aja. Bandung kan adem, kalau Jakarta bikin gerah.”

Dialog tersebut bisa dipotong dari film, lalu dijadikan senjata oleh lawan politik. Potongan film itu akan digunakan apabila di masa depan Ridwan Kamil mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Namun, jika dilihat dari namanya, Ridwan Kamil tidak cocok menjadi Wali Kota Bandung atau Gubernur Jawa Barat. Beliau lebih cocok menjadi wakil presiden. Maaf nih, Cak Imin.

Siapa saja yang jadi RI 1 di periode mendatang, Ridwan Kamil pantas jadi RI 2, tapi dengan ditambah huruf ‘N’ di belakangnya. Sehingga RI 2 N dibaca ‘RI dua N’. Alias Riduan, atawa Ridwan. Gimana? Cocok, kan? Wow! Wow! Wow!

Jika pilpres kemarin ada slogan “Jokowi Adalah Kita”, maka Ridwan Kamil bisa membuat slogan tandingan, “Ridwan Adalah Kami & L”.

“Apaan tuh Kami & L?”

“Kami dan lo. Alias kita-kita juga.”

Demikian hasil dari jalan ninja yang dipilih Ridwan Kamil: konsisten menjadi cameo. Rata-rata film dengan latar tempat Kota Bandung selalu menyertakan beliau sebagai karakter numpang lewat. Di film Hijabers in Love, beliau menjadi supir bus yang disorot sepintas. Di sinetron serial Preman Pensiun, beliau tampil. Begitu juga di film The Wedding & Bebek Betutu. Sebelum Dilan 1990, beliau berperan sebagai seorang ayah galak di film Total Chaos. Sedikit lagi daftar film yang dibintanginya bisa menyaingi deretan filmnya Reza Rahadian dan Vino G. Bastian. Kalau ada istilah Babe Cabita wajib ada di film komedi, Ridwan Kamil fardhu ain jadi cameo di film bersetting Bandung.

Jadi, jika sudah letih menjadi pejabat daerah, bisalah Ridwan Kamil terjun sepenuhnya ke dunia film. Seperti Denny Sumargo, dari pebasket ke pemeran. Nah, nanti jika Ridwan Kamil menulis buku tentang kisah hidupnya seperti yang dilakukan oleh Pak Habibie, lalu diangkat menjadi film, Ridwan Kamil bisa memerankan dirinya sendiri. Memangnya hanya Raditya Dika saja yang bisa begitu?

Iklan

Menjadi cameo saja sudah bisa membuat nama Ridwan Kamil diperbincangkan. Ridwan Kamil tidak perlu seperti pesaingnya di pilkada Jabar, yakni Deddy Mizwar yang selalu muncul di televisi setiap bulan Ramadhan: dari sinetron religi sampai iklan pasta gigi. Sampai-sampai nama Deddy Mizwar kerap disandingkan dengan sirup Marjan sebagai penanda memasuki bulan puasa dimana Deddy Mizwar lebih sering muncul di TV ketimbang Deddy Corbuzier.

Yang perlu digaris-bawahi, kemunculan Ridwan Kamil di film bersetting Bandung bukanlah akrobat politik semata. Melainkan suatu bentuk dukungan beliau terhadap perfilman dan industri kreatif di Bandung. Beruntunglah Bandung punya Kang Emil.

Tentu, tokoh politik yang peduli dengan perfilman Indonesia tidak hanya Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar. Satu hal yang tidak kita sadari, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno juga mendukung pembuatan film Keluarga Cemara Reborn yang dikenal sebagai sinetron berkualitas pada zamannya. Oleh sebab itu Anies-Sandi mengizinkan becak beroperasi kembali di DKI Jakarta. Supaya nanti cerita di film tetap relevan dengan realitas. Ingat, profesi Abah di sinetron Keluarga Cemara itu bukan driver ojol apalagi taksol, melainkan penarik becak.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2018 oleh

Tags: Bandungfilm dilanjawa baratpilkadaridwan kamil
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.