Saya kagum sekali dengan Ariel Noah. Sudah ganteng, jago mencipta lagu, bisa bernyanyi tanpa menggerakan bibir, masih terlihat keren pula ketika main tamborin. Buat saya pribadi, ketika Anda bermain tamborin atau kecrekan dan masih terlihat ganteng serta tidak mengundang saweran, artinya kegantengan Anda adalah hal absolut, tidak bisa dibantah oleh mazhab apa pun.

Sekagum-kagumnya saya dengan Ariel, saya lebih kagum lagi dengan band pengiring Dorce Gamalama. Ketika manggung, biasanya Bunda Dorce hanya menyebut nada dasarnya, kemudian pemain piano memberikan nada tersebut, tiba-tiba sang bunda langsung menyanyikan lagu secara acak dan band pengiring wajib hukumnya untuk mampu mengiringi.

Untung yang biasa Bunda nyanyikan adalah lagu-lagu populer. Coba saja masukkan “Mars Perindo” ke dalam setlist, band pengiring pasti tidak mau main karena selain mereka sudah muak mendengar lagu yang diputar tiap sepuluh menit di Dunkin Donut Jalan Kaliurang, lagu ini bisa membahayakan keselamatan Bunda dan band pengiring ketika dimainkan di acara DPP Golkar.

Tapi, sekagum-kagumnya saya dengan musisi-musisi di atas, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa kagum saya kepada musisi yang ngamen di acara gathering perusahaan.

Akibat job pernikahan dan pensi hampir selalu menipis di bulan puasa, gathering perusahaan merupakan lahan harapan musisi yang sedang merintis karier untuk bisa terus mendapat penghasilan. Terlebih, di bulan suci ini banyak sekali perusahaan yang mengadakan kegiatan buka bersama/makan malam bersama karyawannya.

Untuk memeriahkan suasana, penyelenggara acara gathering kemudian menghadirkan band pengiring makan malam yang mempunyai dua tugas mahapenting. Pertama, mengiringi makan malam perusahaan dengan lagu-lagu indah supaya tidak canggung-canggung amat suasananya (terkhusus di meja yang isinya bos semua). Kedua, menjadi mesin karaoke untuk segenap karyawan perusahaan yang hadir.

Kekaguman saya terhadap band pengiring di gathering perusahaan ini dilandaskan pada tugas kedua tersebut, bahwasanya live music dalam acara gathering akan berubah menjadi wahana para karyawan untuk mencurahkan isi hati, mencuri perhatian para kolega, ataupun sekadar demonstrasi suara yang agak sedikit kurang layak dengar. Nahas bagi band, mereka harus siap dengan segala ketidakpastian yang akan hadir dalam diri setiap karyawan yang akan bernyanyi.

Berikut berbagai tipe penyanyi yang biasa muncul pada gathering perusahaan, berdasarkan pengalaman saya dan berbagai cerita kawan senasib.

1. Si Takut Kualat

Yang paling sering muncul adalah tipe penyanyi satu ini. Dari awal mulai acara doski sudah memperhatikan band yang sedang mengiringi makan malam: lirik-lirik, ikut angguk-angguk kepala, nyanyi-nyanyi sendiri, senyam-senyum ke band, kelihatan bangetlah doski pengen unjuk kebolehan bermusik. Ketika ditawarin sama band-nya (karena si band pasti notice) untuk nyanyi, si doski menolak, eh pas si bos besar perusahaan sudah nyanyi (biasanya bos besar dapet giliran nyanyi pertama), doski ngambil antrean nyanyi paling pertama. Takut kualat mungkin.

BACA JUGA:  Roadies Band: Kami Kurang Terkenal, tapi Kenal Orang Terkenal

2. Si Tanpa Tempo

Penyanyi tipe ini adalah mimpi buruk band pengiring. Mau seberapa jelas tempo kita saat memberi aba-aba “tu … wa … ga … pat …”, si doski pasti punya tempo sendiri. Kadang nyanyiannya jadi lambat. Kadang jadi cepat. Kadang masih intro sudah nyanyi. Kadang masuknya suka-suka ketukannya. Anehnya, si doski nyanyi dengan penuh penghayatan dan nggak sadar band pengiringnya kelimpungan. Apabila bertemu penyanyi tipe ini, saya biasanya tidak mendebat atau membenarkan karena akan menghabiskan waktu dan energi. Sudah diterima saja dan anggap ujian dari Tuhan.

3. Si Pemalu

Ketika satu per satu karyawan sudah bernyanyi, biasanya ada satu nama yang dari awal disebut-sebut, tapi tidak kunjung maju ke depan untuk menyumbangkan suara. Doski malu, kata sejawatnya. Apabila teman sejawatnya adalah tipe yang pantang menyerah, biasanya si doski akhirnya akan maju ke panggung juga setelah panggilan ketiga puluh enam. Namun, apabila teman sejawatnya tidak memaksa dia untuk maju, penyanyi tipe ini akan terkubur bersama mimpi besarnya menjadi Krisdayanti.

4. Si Diam-Diam American Idol

Beberapa minggu yang lalu ada seorang bapak, tubuhnya kecil, kurus, dan memakai kemeja longgar, mendekati band saya dalam sebuah acara makan malam salah satu bank nasional cabang Yogya (beliau karyawan bank tersebut). Doski tidak dipaksa siapa pun, tidak dipanggil siapa pun, dan tidak direkomendasikan siapa pun untuk bernyanyi. Doski tiba-tiba datang dan minta diiringi menyanyikan “Kasih Tak Sampai”-nya Padi.

Hasilnya? Saya gemetar karena tidak satu nada pun luput. Aduhai, indah sekali!

Ketika kami minta doski menyanyikan satu lagu lagi, si doski menolak dengan alasan “Sudah, sudah cukup” kemudian pergi begitu saja, meninggalkan band pengiring yang kecewa dan pasrah karena harus kembali berurusan dengan karyawan lain yang suaranya … alamak.

5. Si Diam-Diam Lebih Baik Diam

Si doski, tidak ada angin, tidak ada hujan, dan tidak dipanggil siapa pun juga, berinisiatif mendekati band pengiring dan meminta diiringi bernyanyi. Suaranya seperti … alamak, tak tega awak mendeskripsikannya. Lumayan sangat remuklah. Ketika lagu selesai doski berkata “Sudah, sudah cukup” kemudian pergi begitu saja, meninggalkan band pengiring yang bersyukur secara kolektif kepada Tuhan mereka masing-masing.

BACA JUGA:  Fisip Meraung: Pangsa Pasar Kami Anak Muda yang Lagi Pengin Yak-yakan

6. Si Penyulut Perang Dunia

Band saya pernah mengiringi seorang bapak, lagaknya paling alamak, minta diiringi lagu “Rumah Kita”-nya God Bless. Karena terlampau senang dapat permintaan lagu bagus, kami mengiringi doski dengan penuh penghayatan. Singkat kata, setelah selesai refrain pertama, kami memulai lagi intro lagunya untuk menyambung ke bagian verse kedua lagu. Kemudian saat giliran doski nyanyi lagi

si doski meletakkan mic-nya lalu pergi aja gitu.

PERGI AJA GITU DI TENGAH-TENGAH LAGU.

Band saya hanya bisa diam, kaget dan tidak percaya telah dikhianati seperti ini.

7. Si Lupa Daratan

Penyanyi tipe ini mempunyai hobi yang sangat alamak terhadap seni suara. Biasanya maju ke depan dalam kondisi sudah siap dengan lagu untuk dinyanyikan, sudah well-prepared lah. Setelah lagu yang dinyanyikan selesai, si doski menghadap ke arah band dan bilang, “Satu lagu lagi ya?” Band pengiring mengangguk dan lanjutlah ke lagu kedua.

Selesai lagu kedua si doski berpaling ke band dan bilang, “Satu lagu lagi ya?”

Selesai lagu ketiga bilang lagi, “Satu lagu lagi ya?”

Begitu terus sampai Adam Levine jatuh cinta dengan gadis Bontang.

8. Si Beda Dunia

Penyanyi tipe ini juga mempunyai hobi bernyanyi yang superalamak, juga sudah well-prepared lah dengan segala lagu untuk dinyanyikan. Pokoknya tidak kalah dengan tipe penyanyi nomor 7.

“Lagu ini ya?” kata doski sembari menyebut nama lagu yang terdengar asing.

Band tidak ada yang tahu.

“Kalau lagu ini?”

Band menggeleng.

“Waduh, kalau lagu ini?”

Geleng lagi.

Begitu terus sampai Para Pencari Tuhan sampai di season 300.

***

Bertemu dengan bermacam-macam tipe penyanyi merupakan ujian yang sebenarnya bagi musisi yang sedang merintis karier seperti diri saya ini. Oleh karena itu, saya selalu kagum dengan musisi yang sama sekali tidak keberatan untuk terus bertemu dengan delapan tipe penyanyi yang hanya bisa ditemui di gathering perusahaan itu. Seberapa pun kesalnya, tipe penyanyi yang saya jabarkan di atas mempunyai peranan penting dalam perkembangan karier seorang musisi. Mereka adalah cobaan yang harus dilalui untuk bisa naik ke level selanjutnya.

Kepada tipe-tipe penyanyi di atas, saya ingin berterima kasih.

Kecuali si nomor enam. Kamu pantas dihakimi massa.

Komentar
Add Friend
No more articles