Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Roberto Maswiratama oleh Roberto Maswiratama
9 Januari 2026
A A
Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah MOJOK.CO

Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah. (Ilustrasi: Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Siswa dengan Down syndrome (sindrom Down) seharusnya tidak dituntut untuk menghafal alfabet atau rumus-rumus, melainkan diberi jembatan untuk menyalurkan emosi yang tertahan di leher dan tenggorokan mereka.

Setiap kali melihat kurikulum yang menuntut banyak hal, sejujurnya itu memilukan. Siswa saya di kelas adalah anak Down syndrome. Mengajari mereka untuk menyebutkan nama negara, provinsi, juga menghitung luas bangunan, membuat saya selalu mempertanyakannya, apakah saya sedang melakukan hal yang sia-sia?

Bagi anak Down syndrome, tantrum adalah bahasa 

Saat mengajar, pernah seorang siswa tiba-tiba tidak mau mendengarkan apa yang saya jelaskan, dia hanya termenung melihat keluar.  Pernah juga ada siswa yang tiba-tiba melempar buku, tas, bahkan membanting meja dan kursi ke lantai. 

Orang-orang awam tentu akan berpikir itu nakal sekali, tantrum itu, dan sebagainya. 

Namun, bagi saya yang selalu bersamanya setiap hari di sekolah dan kelas, yang selalu menatap matanya, saya tahu itu adalah teriakan frustrasi. Siswa tersebut tak mampu menjelaskan rasa kesal yang dirasakannya karena ada yang mengganggunya, atau karena penanya hilang atau pensil warnanya yang patah.

Di situlah saya sadar, yang dia butuhkan bukan hafalan alfabet, atau rumus-rumus, melainkan jembatan untuk menyalurkan emosinya yang tertahan di leher dan tenggorokannya.

Di mata orang dewasa, tantrum sering dibaca sebagai masalah kedisiplinan. Sesuatu yang harus segera dihentikan, ditekan, atau “diamankan”. 

Padahal bagi anak-anak dengan Down syndrome, tantrum sering kali adalah satu-satunya bahasa yang mereka miliki. Bahasa yang lahir ketika kata-kata tidak cukup, ketika tubuh mereka lebih dulu berbicara karena pikiran tak sanggup menyusunnya menjadi kalimat.

Karena hati yang lembut saja tidak cukup

Anak-anak surga, itu adalah label yang diberikan kepada anak-anak Down syndrome, hal ini karena sifat mereka yang penuh akan kasih sayang, suka tersenyum, dan mudah tertawa bahkan ada yang suka memeluk. Label yang manis, tetapi menjebak. Kita menjadi lupa bahwa mereka juga manusia yang bisa merasa marah, kecewa, dan cemburu.
Label ini tanpa sadar membuat kemarahan mereka dianggap tidak pantas. Ketika mereka marah, respons yang sering muncul bukan empati, melainkan keheranan: “Kok bisa marah?” 

Seolah-olah kelembutan adalah satu-satunya emosi yang boleh mereka miliki. Padahal justru dengan mengakui kemarahan mereka sebagai emosi yang sah, kita sedang memperlakukan mereka sebagai manusia utuh, bukan sebagai simbol kepolosan semata.

Masalahnya adalah hambatan mereka dalam berbicara sering membuat perasaan yang mereka rasakan menjadi “macet”. Ketika perasaan itu macet, maka mereka akan mengekspresikan perasaan itu lewat perilaku. 

Entah itu diam mematung, mogok makan, memukul, atau membanting semua hal. Maka di sinilah kecerdasan emosi menjadi krusial, kita tidak bisa hanya mengandalkan kelembutan mereka, kita juga harus mengajarkan mereka cara mengelola “badai” di dalam diri mereka.

Kurikulum untuk anak Down syndrom harusnya dibikin lebih baper

Sudah saatnya pendidikan di SLB juga mendapat perhatian lebih. Contohnya untuk siswa Down syndrome, pendidikan di SLB terlalu terobsesi pada capaian akademik formal yang sering kali hanya sebatas formalitas pada selembar kertas. 

Kita butuh kurikulum yang lebih “baper” atau bawa perasaan, tentunya dalam artian yang positif, seperti:

Iklan

1. Visualisasi akan rasa

Karena pembelajaran untuk siswa Down syndrome umumnya pembelajaran visual, tentu kita butuh lebih banyak media, apakah itu video atau kartu bergambar emosi, daripada kartu bergambar hewan atau benda. Siswa ini perlu tahu bahwa wajah merah padam itu namanya “marah” dan itu adalah hal yang manusiawi.

2. Latihan untuk berani berkata “tidak”

Anak-anak Down syndrome sering kali dimanfaatkan untuk menyenangkan orang lain. Mereka sangat rentan dijadikan objek hiburan hanya untuk membuat orang lain tertawa. Melatih dan meningkatkan kecerdasan emosi anak-anak Down syndrome berarti mengajari mereka untuk berani menolak, dan boleh merasa tidak nyaman.

3. Rutinitas dan transisi

Kecerdasan emosi juga soal kesiapan mental. Mengajari mereka untuk siap menghadapi perubahan jadwal yang tiba-tiba tanpa harus merasa cemas adalah keterampilan hidup yang jauh lebih berharga daripada bisa mengeja kata “metamorfosis”.
Masalahnya, kurikulum seperti ini sering dianggap tidak “produktif” karena sulit diukur. Tidak ada angka rapor yang bisa langsung menunjukkan hasilnya. Padahal, justru kemampuan mengelola emosi inilah yang kelak menentukan apakah mereka bisa bertahan di dunia yang jarang bersabar dan jarang mau menunggu.

Memanusiakan anak Down syndrome, bukan jadi objek rasa kasihan

Sering kita melihat siswa Down syndrome ini hanya sebagai objek rasa kasihan yang perlu disayang-sayang. Padahal, bentuk penghormatan tertinggi kita kepada mereka adalah dengan memberikan “alat” agar mereka bisa mandiri secara emosional.

Meningkatkan kecerdasan emosi bukan berarti membuat mereka berhenti menangis atau selalu tersenyum. Justru sebaliknya, memberi mereka hak untuk merasa tidak nyaman, merasa tidak baik-baik saja, dan membekali mereka untuk mengungkapkan perasaan tidak nyaman itu secara sehat.

Dunia di luar sekolah tidak selalu lembut. Ia keras, terburu-buru, dan sering kali tidak peduli pada mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Tanpa kemampuan mengungkapkan emosi, kemarahan mereka akan terus dianggap gangguan, bukan pesan.

Sekarang adalah saatnya untuk berhenti mengukur keberhasilan guru SLB dari seberapa banyak siswanya yang bisa menulis angka 1 hingga 100. Mari kita mulai menghitung keberhasilan itu dari seberapa mampu siswa-siswanya bisa menenangkan diri sendiri saat mereka merasa dunia itu sedang tidak adil.

Karena pada akhirnya, bagi mereka, anak-anak Down syndrome, kemampuan untuk berkata “aku sedih” atau “aku ingin sendiri” adalah tiket emas mereka untuk benar-benar diterima dalam masyarakat sebagai seorang manusia yang berdaulat, bukan sekadar “anak lucu” yang dipandang sebelah mata.

Penulis: Roberto Maswiratama
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 9 Januari 2026 oleh

Tags: down syndromeemosigurumarahsindrom downslb
Roberto Maswiratama

Roberto Maswiratama

Guru honorer berlatar pendidikan BK yang mengajar di SLB YPPLB Padang. Menaruh minat pada bacaan sosial-emosional dan menulis tentang pendidikan, emosi siswa, serta pelajaran hidup yang justru ia pelajari dari siswa-siswa istimewa, bukan dari buku teks.

Artikel Terkait

guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan MOJOK.CO
Esai

Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Keselamatan warga Kota Semarang jadi prioritas di tengah hujan dan angin kencang yang tumbangkan 80 lebih pohon dalam semalam MOJOK.CO

Keselamatan Warga Semarang Jadi Prioritas di Tengah Hujan Angin yang Tumbangkan 86 Pohon dalam Semalam

5 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.