Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kiat Jitu Lulus Sastra Jepang UGM Tanpa Perlu Jago Bahasa Jepang

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
4 November 2018
A A
Iqbal Aji Daryono Sastra Jepang UGM

Iqbal Aji Daryono Sastra Jepang UGM

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mahasiswa Sastra Jepang kok bisa lulus tanpa jago Bahasa Jepang? Emang gimana sih caranya? Mas Iqbal Aji Daryono punya kiat jitunya.

Kemarin, Mas Celenger Haryo Setyo Wibowo menceritakan kasus saya yang lulusan Sastra Jepang tapi tidak bisa bahasa Jepang. Kemudian beberapa kawan lain mempertanyakan sistem perkuliahan di Sastra Jepang UGM: kok bisa lulus kalau nggak bisa bahasa Jepang?

Hm begini, hal tersebut harus diluruskan sedikit.

Bukan, bukan, hal ini saya lakukan bukan semata-mata untuk membela diri, sebab yang saya butuhkan di dunia ini tak lebih dari harta dan tahta, bukan kehormatan. Ini semata membela para dosen saya yang diam-diam pasti juga pada dongkol membaca komentar-komentar ada mahasiswa mereka yang bisa lulus jurusan Sastra Jepang tanpa bisa bahasa Jepang (maaf, eh, gomennasai ya Pak, Bu, jadi merepotkan).

Jadi, sebenarnya pada waktu lulus dulu saya ya bisa lah dikit-dikit bahasa Jepang. Apalagi skripsi saya juga membahas novel Tanizaki Junichiro yang tentu wajib saya akses dari versi asli bahasa Jepang. Tapi, untuk mengaku-ngaku bisa bahasa Jepang, kok rasanya saya terlalu tak tahu diri.

Mari kembali ke pertanyaan awal tadi: gimana caranya bisa lulus Sastra Jepang tanpa bisa bahasa Jepang? Juga buat apa lulus Sastra Jepang kalau bahasa Jepangnya tidak terpakai?

Inilah ilmu tingkat tinggi yang saya paparkan waktu kemarin saya diundang para dosen untuk berbincang-bincang tentang kehidupan nyata yang indah ini bersama adik-adik junior.

“Suka atau pun tidak suka, bisa atau pun tidak bisa, kalian tetap harus lulus. Inilah manifestasi dari kuliah sebagai ajang penempaan diri. Tanpa lulus, kalian sudah membuktikan diri sebagai pribadi yang gagal mempertanggungjawabkan pilihan.”

Jeng jeeng! Wajah-wajah di hadapan saya mulai memucat. Beberapa anak tampak menelan ludah. Mungkin mereka semula ingin datang untuk mencari bekal pembenaran atas ketidaklulusan, sebab toh pekerjaan seniornya ini juga blas tidak berkaitan dengan bahasa Jepang.

Saya pun mengambil jeda untuk membetulkan letak kacamata, agar ekspresi saya kian menyeramkan. Kemudian, saya melanjutkan.

“Meski setelah lulus pun bahasa Jepang kita tidak terpakai, jangan berkecil hati. Anda harus memahami bahwa proses belajar tidak linier seperti itu. Anda baca seratus buku, misalnya, berapa persen yang Anda ingat? Mungkin tidak sampai 20%-nya.

Akan tetapi apakah proses membaca itu sia-sia? Tidak sama sekali. Ia membangun akumulasi kecerdasan kita, tanpa kita sadari. Sama juga, Anda belajar bahasa Jepang mungkin tidak secara langsung berguna. Tapi Anda tidak sadar bahwa proses keras selama belajar di kampus itu membentuk karakter Anda yang tahan banting!”

Semua terkesiap, manggut-manggut, beberapa anak tampak menahan nafas agar tidak sampai menitikkan air mata.

Tampaknya kalimat saya itu memang terlalu ke-mario-mario-an. Namun jangan salah. Di Sastra Jepang UGM, kami memang menjalani proses belajar yang kompleks, tidak sesederhana belajar alat komunikasi bernama bahasa Jepang. Saya ambil contoh sedikit di antaranya.

Iklan

Pertama, saya dan teman-teman dari level mahasiswa KW 2 belajar menjalani strategi komunikasi efektif. Ini terjadi misalnya saat kami berhubungan dengan seorang dosen dari Jepang, Ishida Noriko Sensei.

Bu Ishida ini sangat paham bahwa bahasa Jepang dan bahasa Jawa memiliki kemiripan dalam hal tingkat tutur. Ada ngoko, kromo, kromo inggil—kira-kira begitu—maka, karena sudah belasan tahun mengajar di Indonesia, Bu Is pun cukup terampil berbahasa Jawa.

Dari situ kami tanggap, bahwa untuk berkomunikasi urusan akademis dengan Bu Ishida, kami tak harus menggunakan bahasa Jepang. Kawan saya Gorgom misalnya, menyadari bahasa Jepangnya lumayan astagfirullah, dengan sangat percaya diri menjumpai Bu Is di ruang dosen dan langsung bicara kromo inggil! Bu Ishida pun menyambutnya dengan hangat.

Lho, jangan salah, itu bukan ajian ngeles, Mas! Itu seni bertahan hidup!

Itu tadi buat Gorgom dan kawan-kawan yang lain, meski sialnya kawan-kawan non-Jawa tidak bisa masuk ke dalam dinamika strategi komunikasi taktis demikian.

Nah, buat saya sendiri, di Sastra Jepang UGM saya justru menempa diri dalam mengaplikasikan ilmu… matematika terapan.

Begini ceritanya. Untuk lulus jadi sarjana itu kan gampang saja—sebenarnya. Mata kuliah apa pun asal dapat nilai C, itu sudah lulus. Biasanya, asal ujiannya nggak remuk-remuk amat, nilai C tak terlalu sulit didapat.

Jadi, pada tahap itu, ketika hampir di semua kuliah jurusan saya dapat C, secara legal-formal (meskipun bukan secara moral) saya sudah lulus.

Persoalannya, saya tidak ingin menyiksa batin orangtua saya dengan menghadiahi mereka IPK satu koma. Itu sejenis kedurhakaan. Di situlah kemampuan matematika terapan saya tertantang. Tekad saya, IPK saya harus tiga koma.

Maka, saya pun berhitung. Mulailah saya melakukan survei medan, untuk menemukan beberapa mata kuliah di jurusan lain yang kira-kira sudah pasti dapat A. Dengan beberapa nilai A yang saya tumpuk di atas daftar nilai kuliah jurusan, hitungan kumulatifnya jelas akan merambat naik.

Pilihan paling jitu yang saya ingat adalah mata kuliah… Bahasa Jawa untuk mahasiswa non-Prodi Sastra Jawa.

Benar. Saya mengambil kuliah adiluhung yang satu itu, Bahasa Jawa I, kemudian Bahasa Jawa II.

Pemuda desa dari Bantul, mantan aktivis karang taruna yang sering disuruh jadi MC lelayu di kampung, masuk ke kelas Bahasa Jawa. Lawannya adalah dua mahasiswi asing dari Jepang, satu mahasiswa tua dari Australia, dan kalau tidak salah ada juga tiga mahasiswa dari luar Jawa.

Syahdan, berjayalah saya di kelas itu sebagai mahasiswa sangat berprestasi, sebab saya tidak menemui kesulitan secuil pun untuk urusan “tali layangan arane tali goci” atau “anak cecak arane sawiyah”. Dua mata kuliah itu saya sabet sambil merem dan dapat A semua.

Selain itu, saya mengulang kuliah umum yang sering diabaikan semacam Pancasila dan Agama Islam, sampai pokoknya dapat A semua. Banyak mata kuliah dari jurusan-jurusan lain, yang tentu jauh lebih gampang dirembuk daripada kuliah Sastra Jepang, juga saya ambil.

Walhasil, syarat kelulusan yang cuma 140 SKS saya lampaui karena jumlah total SKS saya menggembung jadi 166.

Begitulah contoh pelajaran kehidupan yang saya dapatkan di Sastra Jepang UGM, sekaligus strateginya biar lulus dengan IPK tiga koma, meski IPK segitu ternyata tidak pernah saya pakai selain demi membahagiakan orangtua.

Selebihnya, saya tak merasa galau dengan tidak nyambungnya aktivitas saya selanjutnya dengan kesusasteraan Jepang, sebagaimana digambarkan Ustaz Abu Faqih:

“Lulusan Sastra Jepang, karya pertamanya buku cerita nabi dan rasul, terkenal jadi polisi bahasa Indonesia, profesi sekarang penulis isu politik dan keagamaan. Gitu kok ya payuuuu!”

Jangankan saya. Lihat saja orang-orang ngetop di Indonesia. Itu Jonru itu lulusan Akuntansi Undip, lho. Nyatanya dia malah lebih aktif di bidang… hukum. Eh.

Ada juga mbak-mbak politisi wannabe cum dokter gigi yang lebih memilih berkarir sebagai penyidik hasil jahitan operasi plastik. Bahkan bapaknya yang guru besar “Hubungan Internasional” juga lebih berkonsentrasi di bidang “Perpecahan Nasional”. Nggak nyambung, kan? Biarin.

Yang cebong jangan ketawa dulu. Jokowi itu sarjana kehutanan, malah kemudian jualan mebel. Itu justru berkontribusi bagi deforestasi, Bung! Apalagi kemudian dia jadi politisi, tambah nggak nyambung!

“Lho kan politik itu rimba belantara yang ganas, Mas. Ilmu kehutanan akan sangat bermanfaat untuk menghadapinya.”

Sakkarepmu.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2018 oleh

Tags: bahasa jawabahasa JepangcebongjawaJepangjokowijurusanlulusSastraSastra JepangUGM
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO
Kabar

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM MOJOK.CO
Sekolahan

Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

22 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.