• 808
    Shares

MOJOK.CO – Tidak terima dianggap sebagai penyebar hoax, Fadli Zon dan Hanum Rais akan laporkan pihak-pihak yang sudah mencemarkan nama baik keduanya. Nah lho.

Bukan Indonesia namanya kalau tidak dianugerahi para politisi yang lucu-lucu dan menggemaskan. Setelah prank skala nasional oleh Ratna Sarumpaet Production berakhir dengan dramatis, rentetan peristiwa lanjutan masih juga belum usai—tentu masih dengan gimik jenaka yang tak mengecewakan kita semua sebagai penontonnya.

Usai Ratna mengakui semua kibulannya, Farhat Abbas melaporkan beberapa politisi di pihak Prabowo Subianto sebagai terduga penyebar hoax. Salah satu yang dilaporkan dari 17 nama di antaranya ada sosok Fadli Zon.

Tentu saja sebagai sosok yang sering menerima cercaan oleh netizen yang mahajahat, Wakil Ketua Partai Gerindra ini menanggapi santai. Pengalaman sudah menempa Fadli Zon selama bertahun-tahun untuk tahan malu banting terhadap kasus model begini. Bagi sosok seperti Fadli Zon, hal ini mah receh sekali.

“Saya juga sedang susun juga semua laporan laporan balik, Farhat Abbas semua, sedang saya susun untuk saya laporkan balik. Pencemaran,” kata Abang Fadli.

Bak Jose Mourinho yang selalu lihai lakukan serangan balik meski punya materi pemain yang lebih wah daripada lawannya, Fadli Zon pun juga demikian. Bahkan politisi Gerindra ini tidak sendirian. Hanum Rais belakangan diketahui juga akan melakukan hal yang sama—bahkan dengan kategori yang lebih ekstem lagi ketimbang Fadli Zon.

Tidak hanya mau repot ngurusi orang-orang yang melaporkannya sebagai terduga penyebar hoax, Hanum Rais berencana mau melaporkan juga akun-akun media sosial yang dianggap sudah menghinanya.

Putri pensiunan-politisi-senior-yang-ogah-pensiun Amien Rais ini merasa sakit hati menerima segala macam bullying yang terjadi di linimasa media sosialnya. Apalagi setelah Tim Jokowi menyindir Hanum Rais dengan mengirimkan buku sejarah mengenai Cut Nyak Dien. Wah, semakin beringaslah itu netizen yang jahat sampai bikin Mbak Hanum sakit hati.

“Kita juga sudah konsolidasi bahwa kita sebagai korban kok malah dilaporkan sebagai penyebar hoax, dan tentu kita akan melaporkan balik mereka yang telah membuat pencemaran nama baik, dan juga melakukan penganiayaan sosial, kita sebagai korban malah dianiaya di medsos dan lain-lain sebagainya,” kata Hanum seperti diberitakan detik.com.

Bahkan Hanum sudah menyusun daftar satu per satu akun-akun yang dianggapnya telah berlaku berlebihan dengan menghinanya. “Ya nanti, nanti, nanti kan ada saya list, banyak sekali soalnya, nanti saya dengan Pak Fadli Zon dan 17 orang itu kan tentu berkonsolidasi, untuk laporkan balik mereka yang sudah melaporkan kita,” kata Mbak Hanum tegar.

Baca juga:  Warning Untuk Jokowi dan Prabowo: Menolak Lupa Lestarinya Sel Mewah Koruptor

Seperti halnya Hanum, Fadli juga merasa dirinya adalah korban dari kebohongan Ratna. Jadi tidak tepat jika masyarakat menilai dirinya dan Hanum Rais (beserta 17 nama yang dilaporkan Farhat Abbas) sebagai pelaku kejahatan hoax.

Apalagi setelah Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR akan mengusutnya karena dugaan kasus pelanggaran etik penyebaran berita bohong. Merespons hal tersebut, Fadli segera memperingatkan untuk orang-orang ini memakai otaknya.

“Saya menjalankan etika, menjalankan undang-undang, nggak ada pelanggaran etika yang mana? Pakai otak kita,” tegas Fadli. Oqe baeqla. Maavkan kami, kami yang khilav, Pak Fadli. Hikz~

Baik Fadli maupun Hanum masih bersikukuh bahwa keduanya adalah korban. Pelaporan atas keduanya dianggap sebagai tuduhan yang salah alamat. Seharusnya kesalahan ditimpakan kepada Ratna Sarumpaet seorang sebagai otak hoax, kenapa harus merembet ke Fadli dan Hanum segala sih?

Begini. Dalam kapasitas Ratna yang berbohong kepada anaknya soal urusan sedot lemak tapi diakui sebagai pemukulan, urusannya masih domain privat. Bahkan ketika diceritakan ke Prabowo Subianto, Amien Rais, dan Fadli Zon, posisinya pun masih domain privat.

Masalahnya, justru pihak Fadli Zon dan kawan-kawan sendiri yang menyebabkan domain privat ini jadi domain publik dengan menggelar konferensi pers segala. Ketika menjadi urusan publik, urusan hukum positif pun berlaku di sana. Lalu ketika meminta persoalan ini dikembalikan ke domain privat lagi, ya sudah tidak bisa. Mulut sudah kadung berucap, tuduhan sudah kadung dilemparkan.

Ibarat seorang suami berbohong kepada istrinya telat pulang kerja karena mengaku sedang ada lemburan di kantor. Nah, urusan bohong ini urusan privat. Lalu ketika si istri menjelek-jelekkan kantor si suami di media sosial, maka urusannya jadi soal urusan publik. Pihak suami salah, karena bohong, si istri lebih salah lagi karena melakukan pencemaran nama baik dari sumber kebohongan.

Baca juga:  Medan Dulu Paris van Sumatra, Sekarang Jadi Jalur Gaza

Nah, akan lucu jadinya jika pihak kantor si suami tidak boleh marah ke istri karena sudah menyebarkan berita bohong. Ingat ya “menyebarkan”, bukan semata-mata bikin berita bohong.

Bagi kubu oposisi, hal seperti ini memang sangat disayangkan tentu saja. Fadli dan Hanum sampai terpeleset kena tipu oleh akting menawan Ratna Sarumpaet, lalu buru-buru koar-koar begitu saja.

Pihak yang diutungkan jelas pihak Tim Jokowi, Ratna sudah melakukan tugas dengan tulus ikhlas untuk membantu Tim Jokowi tanpa disadari untuk menghancurkan reputasi Tim Pemenangan Prabowo. Hal yang tentu bikin banyak orang heran, Ratna ini sebenarnya dukung siapa sih buat Pilpres 2019 nanti?

Serangan balik ala Fadli Zon dan Hanum Rais ini jelas merupakan langkah putus asa semata. Tidak ada efek signifikan untuk mengembalikan citra oposisi oleh skandal yang luar biasa sembrono ini—meski hasilnya nanti justru Fadli dan Hanum yang berhasil memperkarakan orang-orang yang menuduhnya.

Akan tetapi yang harus dipahami bersama, siapa saja, di pihak mana saja, cara kerja hoax memang seperti itu efeknya. Jika sebuah informasi yang sangat telak bisa digunakan untuk menghajar lawan didapat, semangat menyebarkan akan jauh lebih dulu muncul ketimbang akal sehat.

Bagi pendukung Jokowi, keberadaan informasi yang menyerang junjungannya (sekalipun itu bukan hoax dan berlandaskan analisis yang mumpuni) tetap akan dikritisi dan dikaji ulang kebenarannya. Sama halnya dengan pendukung Prabowo, keberadaan informasi yang menyerang junjungan, meski itu berlandaskan fakta, akan tetap ditolak—kalau pun diterima pasti tetap akan dicari celah kesalahannya.

Artinya, lalu lintas fakenews atau hoax sebenarnya tidak terlalu signifikan pada konstelasi pemilih pada Pilpres 2019 nanti. Yang pilih Jokowi dari awal, ya akan tetap pilih Jokowi dan tak akan terpengaruh meski ada informasi skandal yang melibatkan junjungannya. Begitu pula dengan yang pilih Prabowo dari awal juga tidak akan terpengaruh, sekalipun ada kejadian Hari Kapusan Nasional ini. Semua akan tetap pada porsinya masing-masing.

Satu-satunya yang berbeda ya cuma satu saja: media sosial jadi semakin riuh saja. Lalu ada dua politisi yang geram dan mengancam balik rakyatnya. Ya cuma di Indonesia tempatnya hal seperti ini bisa terjadi.