• 2K
    Shares

MOJOK.CO – Baru diketahui kemudian, melalui suara parau dan menahan malu yang luar biasa dari Ratna Sarumpaet, hoax nasional ini ternyata awalnya adalah hoax domestik.

Reality show sesi prank bersama Ratna Sarumpaet sebetulnya adalah acara sederhana. Yang bikin rumit cuma tafsir-tafsirnya para politisi di sekitaran Prabowo Subianto saja. Hal yang bikin Hari Kapusan Nasional ini seolah-olah dilakukan sebagai upaya pembelaan kepada keadilan dan kemanusiaan.

Yah mau gimana lagi, sudah terlanjur malu, Bung.

Fadli Zon, Dahnil Azhar, Rachel Maryam terlanjur semangat menyerukan agar Pemerintah mengusut tuntas kasus kekerasan yang menimpa Ratna Sarumpaet. Hanum Rais bahkan bikin video nangis-nangis melihat Cut-Nyak-Dhien-masa-kini diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh penguasa.

Tak ada 24 jam kemudian, fakta terungkap. Ibarat rantai makanan, Ratna Sarumpaet dalam episode sinetron Oplas yang gagal berperan sebagai produsen hoax. Belakangan, dengan suara parau, hoax nasional ini ternyata awalnya adalah hoax domestik. Cerita (baca: bohong) ke keluarga, cerita ke temen, temen sebar ke politisi, politisi sebar ke media massa, netizen baca, sebar, dan sukai. Kelar sudah.

Ratna hanya bermaksud menutup-nutupi hasil oplas yang tak sempurna dengan alasan digebukin orang yang mungkin bersifat asal nyangkem itu. Sebagai sesama perempuan, saya agak mengerti posisi Bu Ratna. Ini ibarat kita potong rambut kependekan, terus kita bilang ke orang-orang kalau tukang cukurnya oon. Atau kita nggak sengaja kentut di angkot, terus kita bilang, sambel di warteg pedesnya biadab bikin kita mencret-mencret. Meskipun situasi kali ini ternyata tak sesederhana itu.

Pemamah hoax yang semuanya terdiri dari tim inti pemenangan Prabowo-Sandi tiba-tiba merasa kecewa. Mereka semua merasa ditipu mentah-mentah. Konferensi Pers level hajatan nasional karena dihadiri hampir semua tokoh penting dari pihak Prabowo hanya berisi informasi keprihatinan dan kecaman kepada Pemerintah yang tak pernah serius menuntaskan kasus kejahatan Hak Asasi Manusia. Lho, Pak, beneran nih mau diseriusin? Boleh nih kita ngomongin tragedi ‘98? Eh.

Besok hari, setelah Ratna Sarumpaet mengaku bahwa wajah bengepnya bukan hasil dijotosin makhluk astral melainkan makhluk berbentuk dokter bedah plastik, Dahnil Azhar bermanuver dengan kicauan: “Kebaikan dan kemurahan hati adalah kelemahan kami.”

Sedangkan Hanum Rais berkhotbah: “Sebuah pelajaran bagi kami, kita semua, di era yang penuh intrik dan tipu muslihat, ternyata tabayyun tak cukup. Namun taqarrub padaNya yang terus dipelihara, agar kita selalu mengetahui siapa sahabat yang tulus dan mereka yang menikam dari belakang.”

Baca juga:  Indonesia Bubar Tahun 2030: Sebuah Imajinasi Lain

Tidak ada yang spesial, akhir-akhir ini di Indonesia, semua orang memang suka berkhotbah. Sebagai muslim dan muslimah harapan bangsa, Dahnil dan Mbak Hanum memang harus tetap tampak tabah. Daripada mengaku salah, lebih baik memberikan hikmah. Hikmah kebodohan. Begitu mungkin rumusnya.

Sebagai warganet julid, analisis pertama kita adalah kelemahan Dahnil dan kawan-kawan jelas bukan kebaikan dan kemurahan hati, melainkan kelemahan verifikasi fakta. Tuduhan kasus seserius penganiayaan yang mereka setarakan sebagai kejahatan Hak Asasi Manusia hanya didapat melalui mulut satu orang Ratna yang mengaku sedang ketakutan dan merasa terintimidasi jika lapor kepada polisi.

Mereka seakan tidak menanyakan elemen paling sederhana dari sebuah tindakan wawancara, yakni 5 W + 1 H. Apa sebetulnya musibah yang dialami Ratna? Siapa yang melakukan? Kapan dan di mana peristiwa tepatnya terjadi? Mengapa hal tersebut terjadi? Dan Bagaimana kronologis kejadiannya?

Jadi, jangan bawa-bawa “kita semua” warganet sebagai korban, deh. Warganet sih terhibur aja dengan segala keributan yang ada. Justru sebelum Ratna mengaku, kebenaran diungkap secara mandiri oleh warganet. Kan jelas-jelas kalian sendiri yang tertipu dan keburu bersemangat konferensi pers?

Analisis kedua adalah analisis khusnuzan, “Masa sih timses Prabowo se-oon itu? Masa sih nanya 5 W+ 1 H aja nggak mampu?”

Gini loh, Mas Dahnil dan Mbak Hanum, sebelum Ratna mengaku bohong, berita tanpa verifikasi yang sudah lebih dulu teman-teman kalian sebar di twitter, kalian semua pasti sadar kalau narasi seorang aktivis perempuan dianiaya itu punya efek viral yang menarik. Makanya semua timses Prabowo kompak berkicau di Twitter dalam satu waktu, bahkan konferensi pers di sore hari langsung didatangi oleh the one and only Pak Tua Amien Rais.

Padahal, sebelum berita hoax itu menggema, linimasa sedih sekali. Satu demi satu saudara kita di Palu masih mencari anggota keluarga mereka dengan ikhtiar menyebarkan foto mereka. Mereka tentu berharap, meski sekecil apa pun kemungkinan, ada yang melihat sosok dalam foto itu lalu mengantarkan mereka pulang kembali.

Tapi, timses Prabowo tetap berkeputusan untuk membikin ramai peristiwa yang belum jelas kebenarannya ini. Anehnya, bukan menganter Bu Ratna visum atau lapor langsung kepada polisi, tapi memanaskan linimasa dan bikin konferensi pers. Pokoknya semua salah rezim, salah Presiden. Ya, Presiden salah karena malah sibuk di Palu, bukannya ngasih sepeda.

Baca juga:  Jokowi Belum Tentu Terpilih Jadi Presiden Lagi

Di sebuah grup whatsapp, seorang ukhti menyebarkan sebuah broadcast berjudul “Ratna Disiksa, Rezim Merasa Berkuasa?”. Bijigile.

Saya baca dengan seksama karena penasaran Ratna yang mana. Ternyata, Ratna Sarumpaet. Narasinya begini: Seorang perempuan, seorang Ibu sekaligus seorang Muslimah dianiaya hanya karena bersikap kritis. Rezim yang berkuasa mulai melakukan cara-cara PKI untuk membungkam umat Islam.

Lalu, disitirnya riwayat Rasulullah yang membela perjuangan para Sahabat. Dengan demikian, penganiayaan terhadap Ratna jelas jauh dari teladan Nabi. Umat Muslim harus bertindak tegas kepada Pemerintah yang senang mengkriminalisasi ulama dan tidak bertanggung jawab kepada kekerasan yang dialami seorang ibu. Sudah pasti, lengkap dengan ayat-ayat sucinya.

Ndilalah, kemarin siang itu saya kok selo dan sempat iseng goda-godain si ukhti di grup. Apa daya, si ukhti tetap serius menegakkan panji-panji Islam dan percaya diri bahwa bentuk wajah operasi plastik yang belum jadi adalah layaknya kaum mustadhafin yang lemah dan dilemahkan oleh rezim kafir laknatullah. Ketika saya bilang, mendingan kita mikir nasib ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi-bayi di Palu, ia keukeuh menjelaskan bahwa posisi umat Islam saat ini tidak kalah rentan dengan warga Palu.

Sungguh semangat jihad yang mendebarkan.

Fakta Hari Kapusan Nasional pasti bikin jenis ukhti yang berdedikasi ini sedih. Cut-Nyak-Dhien-masa-kini ternyata operasi plastik dan merasa teraniaya karena hasilnya tetep lebih cakep pakai filter dual kamera. Saya juga mau kasih hikmah buat si ukhti, bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa politisi itu susah jaga rahasia. Maunya bikin ramai, bikin heboh saja.

Apalagi politisi macam Ferdinand Hutahaean, si Politisi Demokrat itu, malah blak-blakan sebelum Ratna mengakui kebohongannya. “Karena yang saya pahami orang operasi plastik untuk mempercantik diri. Tapi kok Ratna tidak jadi cantik? Tetap saja seperti semula? Inilah yang harus diusut,” katanya nggak punya perasaan sama sekali. Hikz.

Menyadari hal itu, ya sudah, saya pun kepikiran untuk japri si Ukhti agar tidak terlalu serius mikirin umat.

Lha gimana, ternyata yang ia bela, biaya edit dagunya aja habis 90 juta tapi dibilang sama seperti semula oleh orang lain. Bandingkan dengan kita yang krimbat 50 ribu aja kadang nyesel setengah mati.

Duh, kenapa sih jadi cantik itu nggak cukup pakai shampoo aja?

  • 2K
    Shares


Loading...



No more articles