Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Cara Melihat Hukum Menagih Utang dalam Islam

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
27 September 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagaimana cara melihat hukum menagih utang dari persepektif orang yang diutangi? Kewajiban bayar utang itu ada, tapi anjuran buat penagih utang juga ada.

Fanshuri masih tidak mengerti kenapa Mas Is belum juga membayar utang yang belum dibayar-bayar. Sudah berkali-kali menagih utang, Fanshuri tetap tidak mendapat kepastian kapan utangnya bisa dibayar.

Untuk itulah Fanshuri mendatangi Gus Mut. Berharap ada kejelasan soal utangnya. Tentu dengan wajah mbesengut Fanshuri datang ke kediaman Gus Mut.

“Kamu kenapa pasang wajah kayak celana belum distrika gitu, Fan?” tanya Gus Mut yang masih menyirami tanaman di halaman rumahnya.

“Aduh, Gus. Pusing saya,” kata Fanshuri.

“Pusing kenapa?” tanya Gus Mut.

“Pusing utang,” kata Fanshuri cepat.

Gus Mut terkekeh.

“Pusing bayar utang maksudmu?” tanya Gus Mut.

“Bukan, bukan pusing bayar utang, pusing nagih utang, Gus,” kata Fanshuri agak keras.

“Ya jangan ngegas gitu. Aku kan cuma tanya,” kata Gus Mut tersenyum.

“Hehe, bukan ngegas, Gus. Cuma memang pusing ini,” kata Fanshuri.

“Siapa sih yang utang memangnya?” tanya Gus Mut.

“Mas Is. Katanya mau segera dibayar, tapi udah dua bulan ini belum juga dibayar-bayar,” kata Fanshuri.

Iklan

“Kamu memang segera butuh itu duitnya?”

“Iya ini, Gus. Buat tambah-tambah duit untuk renovasi rumah saya,” kata Fanshuri.

“Memang utang berapa Mas Is, Fan?”

Fanshuri agak malu-malu menyampaikannya.

“Nggak banyak sih, Gus. Cuma 500 ribu,” kata Fanshuri.

Mendengar itu, Gus Mut langsung menyelesaikan menyirami tanaman lalu masuk ke dalam rumah. Begitu keluar rumah, Gus Mut membawa duit, dan langsung memberikan ke Fanshuri. Pas 500 ribu.

“Lho, lho, apa ini, Gus?” tanya Fanshuri kaget.

“Ya ini buat tambah-tambah renovasi rumahmu itu,” kata Gus Mut.

“Lho, tapi kan aku ke sini bukan untuk minta duit sampeyan, Gus?” tanya Fanshuri.

“Siapa yang bilang aku mau kasih kamu duit, kamu pakai dulu aja duit ini. Kapan-kapan aja dibalikin,” kata Gus Mut.

Fanshuri masih bingung.

“Lho saya ini mau tanya soal hukum menagih utang kok ke sini itu, bukan mau minta diutangin,” kata Fansuri.

“Fan, hukum menagih utang itu boleh. Nabi saja pernah ditagih sama orang soal utangnya pakai kata-kata pedas, sampai sahabat lain merasa tersinggung, tapi oleh Nabi ya nggak apa-apa, itu hak penagih utang. Tapi di sisi lain, lebih baik kamu niatkan itu sebagai teguran saja. Kalau memang Mas Is belum ada duit, dan benar-benar lagi susah keadaannya, ada baiknya kamu menunggu dulu sampai Mas Is benar-benar siap mengembalikan duitmu,” kata Gus Mut.

Fanshuri berpikir sejenak.

“Sebentar, sebentar, itu kan jadi kewajiban Mas Is untuk bayar utang ke saya. Kenapa malah saya yang harus ngalah?” kata Fanshuri.

Gus Mut terkekeh.

“Fan, aku ini bukan bilang bahwa Mas Is boleh menunda bayar utang. Aku cuma bilang sebaiknya kamu juga lihat kondisi. Kemarin aku lihat anak Mas Is baru aja masuk rumah sakit, mungkin itu yang bikin dia jadi belum bisa bayar utang ke kamu,” kata Fanshuri.

“Ya, soal itu saya juga tahu, Gus. Ta, tapi kan saya sedang butuh duit itu,” kata Fanshuri.

“Kira-kira, dari skala prioritas aja. Lebih penting orang renovasi rumah atau orang berobat ke rumah sakit?” tanya Gus Mut.

“Ya lebih penting berobat ke rumah sakit sih, tapi kan Mas Is udah janji. Masak malah jadi saya yang harus direpotin gara-gara Mas Is nggak jadi bayar utang ke saya?” tanya Fanshuri lagi.

Gus Mut terkekeh.

“Fan, kita ini memang suka membebankan kewajiban pada orang lain, padahal sebenarnya kita bisa melepaskan beban kewajiban itu. Kadang-kadang bukan soal kita nggak mampu, ini perkara kita nggak mau aja,” kata Gus Mut.

“Lho, kok Gus Mut jadi belain Mas Is. Posisinya kan saya yang diutangin. Sedangkan kewajiban membayar utang itu kan harusnya dibebankan ke Mas Is, bukan malah saya dong,” kata Fanshuri.

“Begini lho, Fan. Kalau Mas Is yang datang kemari, barangkali aku akan bilang agar sebaiknya mendahulukan untuk membayar utang itu ke kamu. Hukum menagih utang dan hukum membayar utang bakalan aku sampaikan ke dia. Tapi karena kamu yang datang, ya aku bilang kalau sebaiknya kamu menagih dengan baik, dengan lembut. Lebih elok lagi kalau kamu mau mengikhlaskan piutang itu. Itu malah jauh lebih baik buatmu, Fan. Karena jadinya malah sedekah,” kata Gus Mut.

Fanshuri masih bingung.

“Intinya gini deh, Gus. Saya salah nggak kalau nagih?” tanya Fanshuri.

“Nggak,” jawab Gus Mut.

“Lalu kenapa saya harus ikhlas sama utang ini? Saya bukan menagih soal duit 500 ribunya, saya menagih janjinya, Gus,” kata Fanshuri.

“Ah, masa?” tanya Gus Mut.

“Iya, Gus,” kata Fanshuri.

“Kalau memang kamu bukan menagih duitnya tapi janjinya, ya sudah, berarti duit 500 ribu ini nggak jadi deh aku kasih ke kamu,” kata Gus Mut menagih kembali duitnya.

“Eh, eh, jangan, Gus. Iya, saya butuh duitnya, hehe,” kata Fanshuri cepat-cepat memasukkan duit dari Gus Mut.

BACA JUGA Utang Tak Dibayar Lebih Berbahaya Ketimbang Memilih Pemimpin Nonmuslim atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

 

Terakhir diperbarui pada 27 September 2019 oleh

Tags: hukum menagih utangmenagih utangutang
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO
Catatan

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO
Tajuk

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.