Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Bagi Driver Ojol, Dengar Azan Itu Sholat Jamaah Dulu atau Antar Orderan Dulu?

Kadang-kadang kewajiban bagi orang lain itu terlihat lebih jelas ketimbang kewajiban untuk diri sendiri.

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
26 November 2021
A A
Bagi Driver Ojol, Dengar Azan Itu Sholat Jamaah Dulu atau Antar Orderan Dulu?

Bagi Driver Ojol, Dengar Azan Itu Sholat Jamaah Dulu atau Antar Orderan Dulu?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang takmir masjid menegur driver ojol yang tak mau meninggalkan pekerjaannya dulu untuk sholat jamaah di masjid.

Baru selesai sholat dzuhur, Fanshuri yang sedang mampir di masjid pinggir jalan agak terganggu dengan pembicaraan seorang takmir masjid dengan salah satu driver ojol di tangga teras masjid.

“Kamu itu ya, Mas, sudah tahu dengar azan bukannya tadi berhenti dulu buat salat jamaah malah lanjut antar orderan,” kata seorang takmir masjid ke driver ojol.

Driver ojol yang ditegur kaget gelagapan, ia memang barusan sudah sholat dzuhur di masjid tersebut, tapi tidak ikut sholat jamaah di awal waktu seperti jamaah yang lain. Si driver ojol tak menyangka ia akan dilabrak seperti itu.

Fanshuri segera menyelesaikan zikirnya lalu mendekat karena sudah tidak nyaman mendengar arah pembicaraannya.

“Kenapa, Pak?” tanya Fanshuri.

“Nggak apa-apa, Mas. Si driver ojol ini, tadi waktu sini jamaah dzuhur tadi saya lihat lagi terima orderan di resto seberang masjid itu. Sekarang balik lagi ke sini, jamaahnya udah kelar. Ya aku nasehati aja mumpung ketemu,” kata si takmir masjid.

Fanshuri cuma tersenyum kecut.

“Bukannya gitu, Pak. Saya kan udah kadung pencet oke di aplikasinya, kalau saya tunda dulu harus ikut jamaah di sini, nanti performa saya turun kan bisa masalah sama pendapatan saya,” kata si driver ojol yang terlihat agak jengkel tapi masih bisa menahan emosi.

“Urusan rezeki itu urusannya Allah, Mas. Nggak usah takut, nanti diganti sama Allah kalau memang gara-gara sholat jamaah sampean jadi terkendala sama itu aplikasi,” kata si takmir masjid.

“Pak, sebentar, Pak, jangan gitu. Masih untung bapak driver ojol ini masih sholat di masjid sini. Jangan terus digituin dong,” kata Fanshuri membela.

Si takmir masjid geleng-geleng kepala.

“Mas, namanya kewajiban terhadap Allah itu kan harus diutamakan terlebih dahulu, jangan yang duniawi dulu,” kata si takmir masjid.

“Iya, iya, Pak. Itu memang betul, tapi memangnya Bapak mau tanggung jawab kalau rezeki driver ojol ini menafkahi anak istri jadi berkurang gara-gara ngejar sholat jamaah di awal waktu?” tanya Fanshuri.

Iklan

“Lah, kok malah jadi saya yang harus tanggung jawab. Itu kan nasihat aja, biar bapak driver ojol ini lebih takut sama Allah ketimbang sama aplikasi,” kata si takmir masjid lagi.

Driver ojol yang di hadapan si takmir masjid dan Fanshuri terlihat sudah tak nyaman dan ingin buru-buru pergi.

“Ya udah, Pak, saya pamit dulu,” kata si driver ojol.

“Jangan diulangi lagi ya, Pak. Lain kali kalau dengar azan, hentikan semua kegiatan,” kata si takmir masjid.

“Maaf, Pak. Bukan begitu dong caranya menegur orang,” kata Fanshuri memotong.

“Anda ini siapa ya, Mas, kok ikut-ikut urusannya orang. Kalau Anda udah selesai sholat ya sudah,” kata si takmir masjid.

Fanshuri tersenyum kecut, si driver ojol yang tadinya mau pamit akhirnya berhenti nggak jadi pergi. Ia merasa tak tega melihat Fanshuri yang awalnya membelanya malah jadi kena semprot pula.

“Ta-tapi, Pak, maaf memotong,” kata si driver ojol, “Bapak juga ikut-ikut urusannya orang lho. Lah ini urusan saya kok Bapak malah ikut-ikutan?”

Si takmir masjid hanya melirik ke arah driver ojol dengan tatapan kurang simpatik.

“Anda itu ya, Pak. Sudah dikasih nasihat bukannya terima kasih malah nyolot,” kata si takmir masjid kesal.

Fanshuri yang merasa aneh dengan percakapan ini segera mencoba menetralisir suasana.

“Maaf, Pak, maaf. Ini cuma masalah kesalahpahaman aja,” kata Fanshuri.

“Salah paham gimana, Mas? Sudah jelas-jelas ini driver nggak tahu tata krama, nggak tahu terima kasih. Dinasehati baik-baik itu mbok ya diterima dengan lapang dada,” kata si takmir masjid.

“Justru yang harus lapang dada itu, kita semua yang di sini, Pak,” kata Fanshuri ke takmir masjid, “saya yang baru datang karena ribut-ribut ini, Bapak driver ojol ini, sekaligus Bapak juga sebagai takmir masjid sini. Kalau semua lapang dada kan enak jadi nggak ngotot-ngototan.”

Si takmir masjid sedikit melirik ke Fanshuri.

“Umat Islam zaman sekarang emang begini, dikasih nasihat agar tak terlalu duniawi malah ceramahin balik,” kata si takmir masjid.

“Bukan begitu, Pak. Saya bukan mau ceramahin Bapak, tapi mbok ya bijak sedikit lah. Dalam ilmu fikih kan waktu salat dzuhur itu disediakan oleh Allah sampai azan asar, jadi sepanjang sholat dzuhur di waktu itu ya nggak masalah dong seharusnya. Itu sholat dzuhur kan tetep sah dan tidak salah sama sekali,” kata Fanshuri.

Si takmir masjid lagi-lagi geleng-geleng kepala.

“Lah ya tapi kan tidak afdol, Mas. Lebih afdol itu di awal waktu dan jamaah masjid,” kata si takmir masjid.

“Iya, itu betul sekali. Nah pertanyaannya, keafdolan sama kewajiban itu levelnya tinggi mana?” tanya Fanshuri.

“Ya kewajiban dong,” kata si driver ojol memotong.

“Iya, betul. Saya setuju itu,” kata si takmir masjid.

Fanshuri tersenyum menyaksikannya, ini kali pertama Fanshuri melihat kedua orang ini satu frekuensi.

“Persoalannya, karena pekerjaan mencari nafkah untuk anak dan istri itu juga kewajiban dan sholat awal waktu adalah keafdolan, ya berarti mana dong yang lebih didahulukan? Kan yang penting Bapak driver ojol ini sholat sesuai waktunya. Beliau juga terbukti sudah taat dan saleh banget sampai rela balik ke masjid sini lagi untuk sholat,” kata Fanshuri.

Si driver ojol merasa lega mendapat bantuan ‘pengacara’ dadakan yang lumayan menantang si takmir, tapi si takmir masjid merasa tidak begitu senang mendengar kata-kata Fanshuri.

“Ya sudah kalau tak mau denger nasihat saya, nggak apa-apa. Sudah bukan urusan saya kok, Mas. Biar Allah yang menilai, mana yang lebih benar di antara kita,” kata si takmir masjid.

“Ya sudah kalau begitu. Tapi, sebentar, kenapa Bapak tidak minta tutup aja dulu itu resto kalau Bapak terganggu ada driver ojol yang dapat order waktu ada sholat jamaah di masjid sini?” tanya si driver ojol sambil siap-siap mau pergi.

“Eh, enak saja sampean minta resto itu tutup,” kata si takmir masjid.

“Lah? Emang kenapa?” tanya Fanshuri.

“Itu usaha istri saya. Emangnya Anda mau tanggung jawab kalau usaha keluarga saya jadi seret?”

Fanshuri dan driver ojol melongo mendengar jawaban itu. Kaget.

“Lah, tadi katanya rezeki urusannya Allah, kok kalau urusan rezekinya sendiri jadi beda?” umak-umik driver ojol lirih ke diri sendiri, tidak begitu jelas.

“Hah? Gimana, Mas?” tanya si takmir masjid.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma mau pamit dulu,” kata si driver ojol ngacir begitu saja meninggalkan Fanshuri yang kesulitan menahan ketawa.

*) Diolah dari pengajian Gus Baha’.

BACA JUGA Pilihan Surat saat Salat Jamaah Jangan yang Panjang, Umat Juga Punya Urusan Lain dan kisah Fanshuri lainnya.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2021 oleh

Tags: driver ojolfikihGus Baha'Masjidsholatsholat jamaah
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO
Eksplor

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO
Esai

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO
Catatan

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.