Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Manuver Politik Terkencang dan Tertajam Tahun 2018

Puthut EA oleh Puthut EA
30 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dari sekian manuver yang ada, saya mencoba mengumpulkan beberapa manuver yang bisa menjadi tolok ukur manuver politik ciamik di Indonesia.

Tahun 2018 adalah tahun panas politik. Selain sebagai pengantar tahun klimaks 2019 dengan pilpres dan pileg, di tahun ini pula terjadi berbagai manuver politik penting.

Tentu saja ada ratusan manuver politik di tingkat elite untuk mendapatkan perhatian dan mendulang simpati publik, selain dalam konteks eksperimen politik. Tidak semua berhasil. Ambil contoh, terpilihnya Sandiaga Uno mendampingi capres Prabowo dan Ma’ruf Amin mendampingi Jokowi adalah antiklimaks strategi dan eksperimen politik.

Merapatnya Sandi ke Prabowo hanya menjawab kebuntuan politik kaum oposisi sehingga menyatukan dua tokoh di dalam satu rumah. Dalam konteks konsolidasi para parpol oposisi, ini bukan langkah terbaik. Apalagi sejak awal aroma uang sudah terembus kencang.

Sementara itu merapatnya Ma’ruf Amin ke Jokowi juga makin mengentalkan indikasi bahwa pihak petahana tampaknya ikut mengeksploitasi isu politik identitas. Kebhinekaan yang sejak awal jadi mantra suci kubu Jokowi mendadak harus ditepikan demi langkah pragmatis politik.

Tapi apapun itu, jalan elektoral bebas sudah menjadi bagian dari wajah politik Indonesia. Suka atau tidak, begitulah adanya. Apakah hal itu akan berdampak pada peningkatan kualitas demokrasi kita? Banyak pihak pesimistis. Kalau kata anak muda kekinian: kuat dilakoni, ora kuat ditinggal ngopi.

Bagaimanapun juga, dari sekian manuver yang ada, saya mencoba mengumpulkan beberapa manuver yang menurut hemat saya bisa menjadi tolok ukur manuver politik ciamik. Manuver ini tentu tidak didasari soal suka atau tidak, setuju atau tidak, tapi semata dilihat dari konteks strategi politik dengan tolok ukur lazimnya variabel sosial-politik mutakhir.

1. PSI mendominasi wacana

PSI cukup mendominasi pergerakan isu politik di negeri ini. Partai yang baru akan ikut pemilu untuk kali pertama ini tampaknya sudah mempersiapkan penampilan mereka di depan publik. Wajah politik Indonesia yang semula tampak maskulin dan tua diembat dengan empuk oleh Grace Natalie dkk. Tampil dengan banyak perempuan muda, anak-anak muda, dandanan yang tak begitu formal, dan mengoptimalkan media sosial, PSI mendapatkan perhatian publik yang cukup baik. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Partai Berkarya, misalnya. Atau partai-partai lain yang lebih dulu ada, seperti Nasdem, Hanura, PAN, dll.

Hanya saja wajah ‘feminin’ PSI tidak diikuti dengan praktek politik yang serupa. Ikut mengadukan tokoh-tokoh dari rival politiknya adalah contoh bagaimana PSI masih membawa sisi maskulin politik Indonesia. Tapi soal isu poligami, terlepas Anda setuju atau tidak, adalah contoh PSI sebetulnya punya potensi menghimpitkan antara citra dengan isu politik yang diusungnya.

2. Sandiaga, dari ATM sampai petai

Sadar bahwa dirinya tidak cukup mendapatkan porsi perhatian publik, Sandiaga mencoba terus menerjang kebuntuan. Modal politik Sandi tentu tidak sebanyak Anies Baswedan, atau bahkan jika dibandingkan dengan AHY. Tapi momentum pilpres ini memberikan waktu yang longgar dan panjang buat Sandi, yang kebetulan punya banyak amunisi.

Terus berkeliling Indonesia dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, sudah tepat sekali. Dia sadar betul bahwa politik kehadiran atau tatap muka bagi banyak orang di Indonesia masih dianggap penting. Tak lihat maka tak yakin, tak kenal maka tak sayang.

Untuk menyempurnakan gerak cepatnya, Sandi memberikan aneka gimik politik, misalnya perihal tempe setipis ATM. Ini bukan persoalan benar secara faktual atau tidak, tapi Sandi sudah mulai terampil dalam menyebar gimik politik. Demikian juga saat dia mengalungkan rangkaian petai di kepalanya yang cukup viral di media sosial. Juga saat dia minum kopi susu tanpa diaduk dulu susunya.

Gimik memang bukan hal terpenting dalam strategi politik. Tapi politik tanpa gimik seperti makanan kurang bumbu. Saya punya keyakinan, ke depan, Sandi akan lebih lihai dalam membuat gimik politik.

3. Jokowi ngegas infrastruktur dan Freeport

Sebagai petahana, Jokowi tetap terlihat rileks dan cool. Dia sadar betul, citra kekokohan politiknya harus terus ada dalam dirinya. Seakan dia mau bilang: silakan kalian ribut mau pilpres, saya tetap akan bekerja demi Indonesia.

Iklan

Dan tampaknya itu berhasil. Apalagi Jokowi pasti sadar betul bahwa modal terbesar petahana adalah prestasinya dan tingkat kepuasan publik. Manuver terbaik petahana memang ada di sana: memenuhi janji politiknya dan menunjukkan bahwa dia bisa berkuasa.

Memang ada sedikit kerikil kekeliruan yang tak seharusnya dilakukan. Sebagai contoh, ikut tampil mengonsolidasikan relawannya dan memanggil para pendukungnya ke istana negara adalah dua hal yang tidak baik dilakukan oleh Jokowi. Namun sepertinya itu dengan cepat disadari.

Dia lebih all out dan fokus menunjukkan dirinya sedang dan terus bekerja, utamanya pada bidang yang paling identik dengan dirinya: pembangunan infrastruktur. Dan satu lagi: nasionalisme. Yakni dengan digenggamnya mayoritas saham Freeport. Publik tidak terlalu menganggap penting apakah itu benar secara ekonomi atau tidak. Tapi mereka akan mengenal itu sebagai salah satu prestasi Jokowi yang penting. Ini persis seperti ketika harga BBM di Papua sama dengan di Jawa. Publik tidak teralu berpikir imbasnya dalam kas keuangan negara, tapi Jokowi memenuhi prinsip keadilan dan keberpihakan bagi orang Papua.

4. Oposisi memindahkan posko pemenangan ke Jawa Tengah

Ini sudah pernah saya bahas secara tersendiri dalam tulisan saya yang lain. Memindahkan medan juang ke kandang yang dikuasai petahana memberi pesan politik yang kuat. Pesan pertama adalah daerah lain yang strategis seperti Jabar dan DKI sudah mereka kuasai. Pesan kedua adalah menyerang di jantung lawan.

Tidak jadi soal seberapa besar hasil pemindahan kantor pemenangan itu. Tapi dalam politik pasca-kebenaran, pesan politik punya citra yang bagus dan menyita perhatian publik. Dalam soal manuver semacam ini, pihak petahana masih keteteran.

5. Nurhadi-Aldo kanal politik yang jenaka

Dalam riuhnya aneka manuver politik, tiba-tiba muncul manuver nyeleneh dengan hadirnya pasangan capres-cawapres baru: Nurhadi dan Aldo. Disingkat: Dildo.

Saya tidak tahu siapa aktor di balik akun aneh itu, tapi netizen menyambut dengan riang. Sebab bagaimanapun, tidak semua warga negara puas dengan dua pasang kandidat yang akan berlaga. Tapi di sisi lain, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa. Kehadiran pasangan Dildo memberi kanal politik virtual yang ampuh. Ini bisa menjadi kanal yang membesar, yang mewadahi orang-orang yang tidak mau terkotak dalam pilihan dua kandidat.

Dildo yang mengambil nomor urut 10 bisa saja memancing ada gerakan lain yang muncul mengisi nomor 3 sampai 9. Dengan demikian, bisa saja nanti publik tidak lagi peduli dengan pertarungan nomor 1 dan 2 sebagai fakta keras politik, melainkan sibuk dengan mengikuti kampanye Dildo dan pasangan virtual lain.

Di titik itulah, politik Indonesia bisa masuk ke fenomena baru: politik fiksi mengalahkan politik fakta. Imajinasi mengandaskan kenyataan.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: Grace Nataliejokowimanuver politikPilpres 2019prabowopsi
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar MOJOK.CO

Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar

8 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.