Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Surat Terbuka untuk Mbak Grace Natalie dan PSI Soal Tolak Poligami

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
16 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pelaku diskriminasi kok nggak mau didiskriminasi. Idih, manja. Kalau emang mau poligami ya nggak usah daftar jadi PNS atau kader PSI dong. Gitu aja kok repot.

Hai, Mbak Grace Natalie, perkenalkan saya cucu dari kakek yang berpoligami. Meski begitu, saya tidak pernah suka dengan praktik poligami, dan karena nggak suka—jauh di lubuk hati terdalam, saya selalu merasa tidak nyaman jika ada orang yang koar-koar mempromosikan poligami di ruang publik. Berteriak lantang kalau melakukan poligami dianggap lebih sempurna keislaman seseorang ketimbang yang tidak poligami.

Oleh karena itu, saya mendukung langkah Mbak Grace Natalie yang menyatakan PSI akan membawa aspirasi menolak praktik poligami dalam kampanyenya. PSI juga akan memperjuangkan bahwa kadernya harus bebas poligami. Tidak sampai di situ, Mbak Grace juga akan melanjutkan ide ini sampai tataran undang-undang yang bakal dipraktikkan ke PNS. Poinnya, PNS harus bebas dari poligami.

Wah, luar biasa konsisten ya Mbak Grace ini. Pembelaannya terhadap isu-isu diskriminatif perempuan selalu dikampanyekan dengan gegap gempita. Kalau kemudian ide ini malah mendiskriminasi para pelaku poligami, ya itu kan nggak urusan dong. Soalnya bagi PSI dan Mbak Grace poligami itu pasti 100% melakukan diskriminasi terhadap perempuan. Udah pasti itu. Sepasti Pagoda Pastilles.

Ya nggak peduli dong meski tafsir soal dalil poligami ini beragam di kalangan ulama Islam, bagi Mbak Grace Natalie membela yang dianggapnya benar adalah yang utama. Kalau kemudian ada pihak-pihak yang terdiskriminasi ya salah sendiri melakukan poligami. Pelaku diskriminasi kok nggak mau didiskriminasi. Idih, manja. Kalau emang mau poligami ya nggak usah jadi PNS atau kader PSI dong. Gitu aja kok repot.

Jadi mau poligami itu dilakukan untuk menyelamatkan janda-janda dan secara keimanan serta rasa keadilan sudah terpenuhi, tapi karena itu bentuknya nggak material dan cuma bisa dibaca dari luar, ya tentu nggak ada ukuran pastinya. Pokoknya semua yang poligami itu salah. Karena udah pasti nggak adil. Karena konsep keadilan itu cuma boleh pakai parameter Mbak Grace dan PSI. Nggak boleh kalau dari parameter lain—apalagi parameter keyakinan.

Meski si perempuan yang dipoligami merasa ikhlas, rela, dan nggak masalah dipoligami. Ya itu kan pasti karena sudah terdoktrin sama dalil-dalil dengan tafsir-tafsir yang nggak sesuai dengan konsep keadilan PSI dan Mbak Grace. Si perempuan pasti menderita, merasa cemburu, merasa hak-haknya sebagai istri terbagi dengan istri lain.

Persetan kalau si perempuan itu beneran ikhlas atau si suami betul-betul memenuhi kebutuhan lahir dan batin. Tapi kan karena kadar ikhlas dan adil itu tataran abstrak, maka yang begitu-begitu nggak ada ukuran logisnya. Dan karena cuma PSI dan Mbak Grace yang punya ukuran itu, jadi ukuran keadilan merekalah yang harusnya dipakai.

Pembelaan Mbak Grace Natalie ini juga keren punya. Apalagi banyak poligami yang tidak menjamin kebahagiaan keluarga. Lebih banyak bikin kehidupan keluarga jadi berantakan. Anak jadi banyak, tanggungan banyak. Dan sebagaimana banyak tafsir yang sepakat kalau konsep keadilan dalam poligami itu hampir mustahil, maka sudah haqqul yaqin konsep poligami itu nggak relevan.

Jadi kalau kakek saya poligami dan kehidupan keluarga besar saya baik-baik saja sampai sekarang, ya itu nggak masuk itungan dong. Kan itu anomali. Satu banding sejuta. Soalnya lebih banyak yang nggak merasa bahagia. Gimana Mbak Grace tahu? Ya karena ukuran kebahagiaan keluarga itu kan cuma boleh kalau dari Mbak Grace. Gimana seh?

Pandangan ini juga membuat kita nggak perlu menaruh hormat sama pelaku poligami. Mau dia seorang yang berjasa untuk orang banyak, prestasinya banyak, menolong banyak orang, kalau dia poligami ya berarti dia salah (hanya karena banyak pelaku poligami yang bermasalah). Kayak seperti rokok Bu Susi Pudjiastuti. Karena rokok dianggap sesuatu yang buruk, mau prestasi Bu Susi bejibun menjaga kedaulatan laut Indonesia, ya dia salah karena merokok. Titik.

Nggak ada urusan kalau dalam Islam, praktik ini masih diperdebatkan. Nggak urusan kalau ada golongan yang sepakat dengan ulama pendukung poligami dan ada ulama yang mensyaratkan berat untuk poligami (semi-semi melarang) itu ada. Semuanya tafsir itu hidup di bumi Indonesia. Lalu untuk umat yang percaya sama tafsir poligami dihukumi mubah (atau bahkan sunah), nah itu masalah. Karena keyakinan mereka itu bermasalah bagi kehidupan bangsa—utamanya perempuan.

Meski tidak pernah ada ulama yang secara lantang berani bilang bahwa poligami itu haram apa pun kondisinya. Uniknya, justru Mbak Grace Natalie dan PSI yang berani bilang itu dengan menciptakan gerakan anti-poligami tersebut, sampai jadi rencana kebijakan pemerintah kalau mereka jadi ke Senayan.

Dalam narasi PSI, Negara benar-benar harus turun langsung ikut overlap wilayah-wilayah tafsir agama soal poligami ini. Mereka nggak percaya sama ulama-ulama di Nusantara yang berdakwah soal tafsir poligami yang sebenarnya syaratnya sangat berat. Mereka nggak percaya kalau ulama di Indonesia itu masih banyak yang nggak pro sama poligami. Nggak mendukung, tapi bukan berarti memfatwakan haram lho ya?

Iklan

Oleh karena itu, PSI dan Mbak Grace Natalie merasa perlu turun gunung langsung. Luar biasa memang inisiatifnya ini. Membantu dan mendukung salah satu tafsir agama serta menyingkirkan yang nggak senada. Pakai tangan pemerintah lagi. Luwar biyasa moderat radikal ya?

Eh, tapi bukannya PSI sudah komitmen nggak bakal politisisasi agama ya dalam kampanyenya ya? Lha ini apa terus ya namanya?

Ah, tahu deh. Pokoknya orang poligami itu pasti salah. Maka dari itu mereka nggak layak kalau jadi PNS atau kader PSI yang oke punya. Mereka salah karena keyakinan dan kepercayaan mereka, persis seperti PKI yang selalu salah sejak mereka lahir. Oleh karena itu, dua-duanya tidak layak melayani negara yang menjunjung keadilan bagi seluruh rakyatnya seperti Indonesia ini.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2018 oleh

Tags: Grace NataliekampanyePNSpoligamipolitisasi agamapsitolak poligami
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS
Sehari-hari

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.