Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Hampir Pasti Jokowi Terpilih Lagi Sebagai Presiden Republik Indonesia

Puthut EA oleh Puthut EA
5 Mei 2018
A A
KEPALA SUKU-MOJOK

KEPALA SUKU-MOJOK

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pengalaman, elektabilitas, popularitas, dan dukungan masyarakat yang besar akan membantu Jokowi menjabat sebagai presiden dua periode.

Sedikit kisruh isu politik akhir-akhir ini jika dipahami dengan baik, sesungguhnya hanya riak-riak kecil saja. Kalau mau jujur, semua orang yang melek politik tahu kalau Jokowi bakal terpilih lagi sebagai Presiden Republik Indonesia.

Semua itu jelas terlihat dalam berbagai survei. Tidak ada satu pun kandidat yang mendekati Jokowi. Semua jauh di bawahnya. Kalaupun dibangun kemungkinan-kemungkinan, itu hanyalah otak-atik statistika belaka.

Ada sekian persen kemungkinan Jokowi kalah. Ya memang benar begitu. Tapi yang mendekati potensi faktual mestinya tidak dibaca begitu. Cara membacanya: hampir pasti Jokowi menang lagi.

Kalau Prabowo sebagai salah satu kandidat dengan popularitas dan elektabilitas tertinggi di antara calon lain tetap maju, cara membacanya pun bukan melulu Prabowo sebagai rival politik. Tapi bisa dibaca bahwa itu strategi terbaik Partai Gerindra untuk mendulang perolehan suara besar dalam Pemilihan Legislatif (Pileg). Jika Prabowo tidak maju sebagai capres, maka besar kemungkinan suara Gerindra akan turun.

Dengan begitu, isu yang ada di masyarakat sipil sekarang ini mestinya lebih maju lagi. Bukan melulu rivalitas Jokowi-Prabowo yang semu saja. Gairah rivalitas itu terus diembuskan karena ada sekelompok orang yang punya potensi mendapat keuntungan politik. Setiap kompetisi yang keras selalu ada nilai ekonominya. Maka, bagi orang-orang yang ekonominya tidak bergantung dari kepulan asap gesekan sosial, tidak perlu ikut ke dalam persoalan yang tidak produktif itu.

Prinsipnya, selain elektabilitas, popularitas, dan dukungan masyarakat yang besar kepada Jokowi, dia juga sudah punya pengalaman 5 tahun memimpin negara ini. Dia sudah mengenali persoalan di negeri ini yang layak menjadi prioritas untuk dituntaskan. Jadi, dia tidak perlu lagi menanggapi soal isu-isu pencapresan yang malah bisa kontraproduktif. Konsentrasi saja bekerja, dan mempersiapkan instrumen kekuasaan yang penting untuk modal kerja 5 tahun lagi.

Ada sekian isu yang lebih produktif dari sisi agenda pemerintahan sekian tahun ke depan, yang lebih layak menyita pemikiran dan konsepsi Jokowi. Misalnya beberapa berikut ini:

Wakil Presiden bukan ban serep.

Jokowi tidak perlu tergiring pada isu bahwa calon wakil presidennya harus punya tambahan elektabilitas. Itu hanya akan membuat riak-riak politik makin terlihat dan mendominasi isu politik. Justru, yang menjadi prioritasnya adalah siapakah tokoh yang paling pas, cocok, dan bisa melengkapi dalam mengendalikan jalannya pemerintahan ke depan.

Tidak semua isu strategis harus dikawal oleh presiden, dan lebih baik didelegasikan sepenuhnya kepada wakil presiden. Dengan begitu, hal yang paling penting dilihat dari sosok wakil presiden ini adalah kemampuannya mengemban tugas menuntaskan delegasi kerja yang diberikan kepadanya.

Para menteri: satu parpol satu kursi.

Jokowi tidak perlu lagi membayar lunas bantuan politik partai-partai yang mendukungnya. Dia harus secara tegas menyatakan sejak awal bahwa 5 tahun ke depan dalam periode kedua dia memimpin adalah akhir dari kontribusi terbesarnya kepada negeri ini. Itu artinya, beban utang budi harus dilepaskan dari pundaknya.

Jokowi harus juga mencermati retorika para politikus: “Para politikus parpol juga bisa profesional.”

Ya benar, mereka memang bisa profesional. Masalahnya justru jangan-jangan parpol sendirilah yang memberi beban pada wakilnya yang duduk di pemerintahan. Maka dari awal, perlu solusi bersama dengan slogan: satu parpol satu kursi. Itu pun bukan kursi-kursi pemerintahan yang strategis.

Relawan bukan tempat cari makan.

Kebiasaan membayar utang juga harus dilepaskan dari beban Jokowi menyangkut utang pada relawan. Jokowi punya tanggung jawab untuk mengembalikan alasan moral dan definisi kerelawanan. Menjadi relawan bukan untuk mencari makan.

Iklan

Bagi-bagi jatah posisi tertentu kepada relawan mesti dihentikan. Sudah cukup. Jokowi tidak lagi harus memperhatikan mereka. Relawan adalah panggilan moral. Kalau ada relawan marah-marah karena tidak dapat jatah kekuasaan, berarti dia sejak awal tidak punya niat mengabdi pada isu masyarakat.

Apalagi terbukti, menteri-menteri yang tidak punya kualifikasi justru datang dari para politikus dan relawan.

Indonesia Timur sebagai prioritas Jokowi.

Perhatian Jokowi kepada masyarakat di Indonesia Timur sudah banyak dirasakan manfaatnya. Oleh karena itu, ada ikatan emosi antara masyarakat di Indonesia Timur dengan Jokowi. Masalahnya adalah cara pandang Jawa-sentris sudah terlalu melekat.

Secara teritori pembangunan, saya kira tidak salah dengan pandangan bahwa Jawa dan Sumatra adalah pondasi dan masa lalu Indonesia. Kalimantan dan Sulawesi adalah masa kini. Dan Maluku, NTT, serta Papua adalah masa depan. Konsepsi ini bukan untuk membuat pengotakan melainkan memeratakan fokus dan memberi kesempatan. Terlebih, dari sisi densitas, kekayaan alam, dan aneka potensi lain, memang Maluku, NTT, dan Papua adalah masa depan yang akan menopang Indonesia.

Tidak ada salahnya, begitu terpilih sebagai presiden lagi, Jokowi mulai berkantor di tiga wilayah itu secara bergantian. Berkantornya Jokowi di Maluku, NTT, dan Papua, bukan hanya simbol kepedulian. Tapi pasti mampu menggenjot pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di ketiga teritori tersebut.

Anak muda sebagai aktor penggerak.

Generasi milenial punya potensi yang sangat menjanjikan. Selain itu, di pundak merekalah akan dipanggul amanat negeri ini.

Jokowi sudah punya modal besar dalam menaruh perhatian kepada generasi ini. Potensi industri kreatif dan industri digital akan terus berkembang di dunia, dan generasi kita sanggup berkompetisi.

Pemerintah hanya perlu terus memfasilitasi dan memberikan daya dukung. Generasi terdahulu susah berkompetisi di dunia global. Kini hal itu tidak terjadi lagi. Kreasi anak-anak muda Indonesia sudah mumpuni. Penguasaan mereka atas dunia digital juga mengagumkan.

Suara pesimistis atas generasi milenial ini harus disingkirkan jauh-jauh. Generasi ini hanya perlu lebih banyak ditemani, didengar, dan didukung oleh pemerintah.

Dengan melihat poin-poin di atas, tidak perlu lagi kiranya memperhatikan perang-perangan antarpendukung. Perang-perangan yang tidak produktif dan cenderung memalukan. Perang-perangan yang hanya suka dilakukan oleh orang-orang yang tak punya visi ke depan.

Terakhir diperbarui pada 5 Mei 2018 oleh

Tags: Indonesia TimurjokowimalukunttPapuapilegPilpres 2019prabowopresidenrelawanwakil presiden
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Cerita siswa di Timor Tengah Selatan, NTT yang mencari air bersih saja susah. MOJOK.CO
Jagat

Cerita Siswa di NTT yang Sering Ditegur Guru karena Terlambat Sekolah, padahal Harus Cari Air Bersih Selama 2 Jam untuk Mandi

18 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Cerita Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju MOJOK.CO

Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality

4 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.