Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Kementerian Keuangan Menghamba Asing dan Bank Dunia ketimbang Percaya Riset Anak Negeri

Kementerian Keuangan lebih menghamba dan percaya kepada pihak asing ketimbang hasil riset anak negeri.

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
15 Desember 2022
A A
Kementerian Keuangan Menghamba Asing dan Bank Dunia MOJOK.CO

Ilustrasi Kementerian Keuangan Menghamba Asing dan Bank Dunia. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Soal cuan, terkadang, memang mudah diselesaikan lewat perjanjian berdalih belas kasihan bersama Bank Dunia, ya Kementerian Keuangan?

Mendung menggelayut dan tampaknya akan awet menjelang penghujung 2022 di Indonesia. Mulai dari kenaikan cukai rokok yang semakin eksesif, gempa di Cianjur, pengesahan UU KUHP, hingga bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar. Semua peristiwa tersebut sepertinya menjadi efek kejut sebelum kita semua memasuki babak baru pada 2023: resesi ekonomi global.

Kata resesi tampaknya menghantui sebagian besar masyarakat Indonesia. Bagi yang akrab dengan istilah tersebut, resesi bukanlah istilah asing. Indonesia pernah mengalami setidaknya dua kali resesi. Pertama, rentang 1963-1965. Inflasi yang pada mulanya 165 persen melonjak hingga 600 persen pada akhir 1965. Dan pada saat itu pula, terjadi sanering atau yang akrab disebut pemotongan nilai rupiah.

Kedua, yang terjadi pada 1998. Tahun yang disebut krisis moneter. Rupiah yang masih sekitar Rp2000an pada 1997, tiba-tiba menyentuh angka Rp16.000. Kenaikan yang betul-betul ekstrem. Naik delapan kali lipat. Pertanyaannya, mengapa ini bisa terjadi? Apakah ada tangan-tangan dari “paham illuminati” yang menyebabkan resesi ekonomi global? Atau ada yang lain?

Menurut saya, ada banyak faktor, sih. Tapi, menurut saya, peran asing sangat bermain di situ. Ya, siapa lagi kalau bukan negara berbintang dengan warna merah dan biru, Amerika Serikat. Dan pada akhirnya, Kementerian Keuangan bertekuk lutut di hadapan Paman Sam.

Amerika Serikat, Bank Dunia, dan segala siasatnya

Bagi orang yang pernah belajar hubungan internasional, biasanya, kesal sekali dengan Amerika Serikat. Ini negara hobinya semacam sok melakukan perdamaian, tapi padahal mereka yang menyalurkan kerusuhan. Kemudian, mereka pula yang sok membuat penyelamatan. Ujung-ujungnya dua kali mendapatkan keuntungan. 

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada akhir 2021 mengeluarkan data penjualan senjata yang sebenarnya tidak mengejutkan. Lima besar dalam daftar tersebut dikuasai oleh perusahaan Amerika Serikat. Total 285 miliar dolar AS. Edyan. Angka yang konon hanya bisa disaingi oleh gaji Cristiano Ronaldo apabila jadi hijrah ke Arab Saudi.

Itu baru dari segi senjata. Belum dari jasanya kepada sebuah lembaga yang konon menyelamatkan dunia, Bank Dunia. Organisasi yang, boleh dibilang super power untuk soal keuangan, betul-betul membikin negara berkembang tergantung kepadanya. Negara berkembang yang dimaksud adalah sebagian besar negara di benua Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan wabil khusus Indonesia dengan Kementerian Keuangan yang akrab banget sama Amerika.

Bergantung kepada Bank Dunia

Negara yang kita cintai ini ternyata cukup bergantung kepada Bank Dunia. Dalih meminjam, bagi saya, bukan semacam dana gratis. Tentu ada kepentingan di dalamnya. Mana ada hari ini orang atau lembaga kasih dana gratis tanpa mengharapkan imbalan? Anda bukan Baim Wong, seleb TikTok, dan semacamnya. Bahkan, mereka pun masih berharap viewers-nya tinggi atau minimal FYP.

Bank Dunia, dengan segala tipu muslihatnya, memang pandai mengajak kerja sama, atau istilah yang lebih kekinian: kolaborasi. Tahun 2018 saja, pinjaman dana dari Bank Dunia kepada Indonesia terkait musibah Palu sebesar satu miliar dolar AS.

Pada 2020, pandemi Covid-19 hadir, menggeliat, dan hingga kini belum sepenuhnya usai. Bank Dunia kembali mendistribusikan dana kepada Indonesia sebanyak 250 juta dolar. Kenapa Kementerian Keuangan mau, ya?

Jika melihat rekam jejaknya, setiap tahun pasti ada saja cara Bank Dunia memberikan dana secara “cuma-cuma” kepada Indonesia. Eh, tapi bisa jadi sebaliknya. Justru Indonesia yang “meminta” kepada mereka agar negara kita ini, perekonomiannya semakin membaik.

Akhirnya, Indonesia seperti mengalami apa yang disebutkan oleh Fernando Henrique Cardoso: KETERGANTUNGAN. Negara berkembang akan ditekan, entah bagaimana caranya, untuk terus mengekor kepentingan Bank Dunia melalui strategi ekonomi politik. Mereka tampaknya berhasil menanamkan frasa tersebut ke pemerintahan Indonesia, siapa pun presidennya, atau menteri-menterinya, apalagi Kementerian Keuangan.

Baca Selanjutnya
Intervensi asing untuk Kementerian Keuangan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2022 oleh

Tags: Bank DuniaCukai Rokokresesisri mulyaniutang indonesia
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Merunut campur tangan asing di balik kampanye antirokok yang tentang kebijakan Purbaya tak naikkan cukai rokok 2026 MOJOK.CO
Ragam

Merunut Campur Tangan Asing di Balik Kampanye Antirokok Menentang Kebijakan Purbaya Tak Naikkan Cukai Rokok

2 Oktober 2025
Dukung kebijakan Purbaya tak naikkan cukai rokok. MOJOK.CO
Catatan

4 Alasan Kebijakan Purbaya Tak Naikkan Cukai Rokok Tak Perlu Ditentang

1 Oktober 2025
cukai rokok, tembakau.MOJOK.CO
Ragam

Cukai Rokok Tak Naik: Melawan Tekanan Antirokok, Menjaga Nafkah Jutaan Petani dan Buruh

1 Oktober 2025
Purbaya Hendak Selamatkan Petani, tapi Malah Dijegal (Rokok Indonesia:Ekosaint)
Pojokan

Niat Mulia Purbaya Mencegah Kematian Industri Tembakau Malah Dihalangi, Sementara Aksi Premanisme Sri Mulyani Memeras Keringat Petani Dibela

1 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.