Siapa yang menyebar undangan?
Setelah tahu “undangan” macam apa yang menghadirkan para wisatawan, maka pertanyaan selanjutnya tentu saja siapa sih yang menyebarkan undangan itu?
Yang jelas, “si pengundang wisatawan” itu, selain menghasut warga Jogja dengan para wisatawan yang datang, mereka adalah orang yang paling banyak mendapat keuntungan dari kondisi macet dan sumpek ini. Aneh, kan, ketika warganya berdiam diri di rumah dan para wisatawan mati tua di jalanan, ada segelintir orang yang mendapatkan keuntungan. Itulah “si pengundang wisatawan”.
Menurut saya, Jogja sekarang sedang dibunuh pelan-pelan oleh “si pengundang wisatawan”. Jogja diubah menjadi kota yang benar-benar nyaman, menjadi kota yang bergelar selebrasi palsu yang memakan banyak biaya.
Tidak banyak yang kritis dan galak membicarakan tentang selebrasi palsu ini melalui karya mereka entah sastra atau seni. Sebab, beberapa dari mereka mendapatkan keuntungan dari sana.
Tak apa sebenarnya merayakan selebrasi palsu itu, tapi urus dulu kota ini. “Si pengundang wisatawan” memang mengurus. Namun, kebanyakan mengurus pusat kota dengan menyingkirkan roda-roda ekonomi kecil yang berputar di sana. Apalagi wilayah pinggiran. Kamu akan lebih banyak melihat ketakutan dari pada rasa bahagia.
Mungkin itulah yang disebut facadism versi Jogja. Area yang ramai oleh wisatawan akan dipermak sebaik mungkin. Namun, bagian lainnya, yang jauh dari jangkauan wisatawan, menyembunyikan keburukan yang jangan sampai para wisatawan tahu. Simpan rapat-rapat agar tamu undangan tidak pergi ke pesta yang lain.
Siapa yang sebenarnya berdosa?
“Si pengundang wisatawan” yang berjarak dari warga dan wisatawan inilah yang pada akhirnya saling menyalahkan terjadi. Maka stigma seperti “dasar plat B arogan” atau “ah, bukan plat AB, makanya tidak sabaran” akan menggema di seluruh media sosial. Saling mem-viralkan, mencaci-maki. Namun pelaku utamanya, si biang kisruh, justru sedang tertawa sambil kipas-kipas pakai duit.
Pilihan mudah ketika menjawab siapa yang menyebabkan Jogja jadi macet? Maka kita salahkan saja wisatawan.
Masalahnya, Jogja macet itu tidak hanya ketika liburan. jogja macet itu terjadi tiap hari. Apalagi di jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari. Jika tanpa libur saja Jogja tetap macet, maka ini bukan dampak liburan, melainkan hasil kebijakan.
Penulis: Gusti Aditya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Jogja, Kota yang Keburukannya (Entah Kenapa) Selalu Dimaafkan dan ungkapan jujur lainnya di rubrik ESAI.














