Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jalan Malioboro: Kurang Terasa Jogja, Kurang Indonesia, Harga-harganya Kurang Terjangkau!

Christian Evan Chandra oleh Christian Evan Chandra
18 Desember 2023
A A
Jalan Malioboro Kurang Jogja dan Kurang Terjangkau! MOJOK.CO

Ilustrasi Jalan Malioboro Kurang Jogja dan Kurang Terjangkau! (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Aura Jogja yang malah tidak saya rasakan di Jalan Malioboro

Kedua, entah kenapa, saya menemukan ada pelaku UMKM di Jalan Malioboro yang tidak memasarkan produk khas Jogja, tetapi malah produk tiruan. Ya, ketika mengunjungi lantai dasar Teras Malioboro 1 yang masih dikelola oleh Pemda, tidak jauh dari pintu masuk, saya menemukan penjualan topi tiruan berlogo tim bisbol New York Yankees yang sedang tren dan harga produk aslinya cukup mahal itu. 

Sebaliknya, menemukan makanan khas Jogja di Jalan Malioboro di pagi hingga siang hari cukup sulit. Akhirnya, banyak di antara rombongan kami berpuasa. Ya, karena makanannya ternyata banyak tersedia di separuh Jalan Malioboro yang lain, di dalam gang, atau di bagian dalam yang “ngumpet” lainnya, misal Teras Kuliner Malioboro 1 di belakang Teras Malioboro 1.

Iklan

Ketiga, “aura” Jogja, sebagai daerah dengan upah rendah kurang terlihat. Malioboro diekspektasikan sebagai tempat belanja dengan harga yang relatif murah. Namun, di jalan itu ada sebuah pusat perbelanjaan bernama Plaza Malioboro yang tampak cukup mewah dan ternyata isinya cukup mahal. 

Nasi gudeg ayam suwir di Gudeg Yu Djum seharga Rp20.000, dinikmati di sebuah ruko di gang tanpa AC dan kipas angin. Luar biasanya, salah 1 jaringan rumah makan Nusantara di ibu kota bisa menjual lunch box nasi gudeg, bahkan dengan satu potong empal goreng, di bawah Rp40 ribu. UMP Jakarta mencapai 247% UMP Jogja, tetapi harga nasi gudeg di Jakarta hanya 187% di Jogja.

Mencari “makanan berat” yang langsung terlihat dari trotoar Jalan Malioboro dan bisa langsung dimasuki di lantai dasar lebih sulit dibandingkan kopi Starbucks yang gerainya dipenuhi pembeli, teh susu Chatime di Ramai Mall, atau es krim gelato. Padahal, akan sangat baik jika kita bisa menemukan makanan khas Jogja, atau paling tidak makanan nasional nan sehat dari pengusaha dalam negeri dengan brand nasional di lokasi strategis. Kenyataannya? KFC dan Burger King?

Becak motor yang terasa mengganggu

Keempat, tindakan untuk menyebarluaskan penggunaan QRIS di kalangan pelaku UMKM di sini harus senantiasa dilakukan. Menggunakan EDC memang menambah biaya operasional dan menggunakan QRIS ada sedikit potongan. Namun, mewajibkan penggunaan tunai saja dengan mata uang rupiah tentu merepotkan di tengah era digitalisasi seperti sekarang ini. Apalagi QRIS mulai bisa digunakan juga oleh turis asing dari negara yang sudah bekerja sama.

Kelima, toilet umum yang memang terasa minim. Saya sendiri terpaksa menumpang toilet di salah satu gedung toko yang cukup bagus, meskipun akhirnya tidak membeli di sana. Maaf ya.

Keenam, saya cukup terganggu dengan tawaran becak motor (bentor) di Jalan Malioboro meskipun tarif sekali jalan hanya Rp10 ribu. Di jalan ini cukup banyak zebra cross untuk menyeberang, tetapi sayangnya tidak ada lampu merah untuk penyeberangan, tenaga yang membantu menyeberangi, dan pengendara kendaraan pribadi pun tidak mau mengalah. 

Petugas keamanan Pasar Beringharjo sudah begitu ramah untuk mengizinkan saya menumpang di posnya dan menyetel fitur bantuan pengarah Google Maps dengan bantuan kamera. Akan tetapi, ketika cukup lama menyeberang, malah ditawari bentor oleh salah satu pengendaranya dan ini cukup mengganggu saya yang ingin berolahraga di jalan yang panjangnya kurang lebih hanya sekitar 1 kilometer ini.

Kesimpulan dan saran

Akhir kata, begitulah pandangan saya tentang Malioboro. Sebenarnya ketika diberitahu akan singgah di sini, saya hanya berniat membeli bakpia kukus Tugu Jogja untuk keluarga dan makan siang. Ya, selain merasa sulit mencari makan siang, saya harus cukup sabar mencari bakpia kukus langsung dari penjual resminya.

Sebagai catatan, jika kalian adalah wisatawan dengan minat yang sama seperti saya, tidak perlu datang ke Malioboro. Bakpia kukus bisa dibeli di Bandara Kulon Progo dengan selisih harga Rp5 ribu per boks saja, tentu di gerai resminya yang bisa dikunjungi setelah boarding. Jangan membeli di lokasi check in, lebih mahal hingga Rp20 ribu per boks! Lebih bagus jika penjual oleh-oleh lain mau masuk secara resmi ke bandara untuk memudahkan para wisatawan.

Penulis: Christian Evan Chandra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Wajah Baru Jalan Malioboro dan Mereka yang Merasa Kehilangan Hal Berharga dan pengalaman menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2023 oleh

Tags: bakpia kukusBakpia PathokBakpia Tugu Jogjajalan malioboroJogjamalioboropasar beringharjopilihan redaksiUMP Jogja
Christian Evan Chandra

Christian Evan Chandra

Pecinta ilmu aktuaria dengan hobi seputar menulis, kuliner, dan gadget.

Artikel Terkait

Kisah pemilik Yamaha Fazzio hitam di Jogja. MOJOK.CO
Eksplor

Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat

30 Juni 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co
Eksplor

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO
Eksplor

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Umbul Wadon Plunyon, Kalikuning. MOJOK.CO

Umbul Wadon: Jantung Air Kota Jogja di Balik Panorama Indah Plunyon Kalikuning yang Terkesan Seram

26 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.