Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Harapan Besar untuk Pasangan Ridwan Kamil-Fahira Idris

Arman Dhani oleh Arman Dhani
13 Juli 2015
A A
Harapan Besar untuk Pasangan Ridwan Kamil-Fahira Idris

Harapan Besar untuk Pasangan Ridwan Kamil-Fahira Idris

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika Ridwan Kamil mengatakan bahwa ada akun palsu yang mengatas namakan dirinya, diri ini bergetar. Saya takut, jangan-jangan itu adalah akun pendukung Ridwan Kamil dan Fahira Idris menuju DKI 1. Ketakutan saya benar, ternyata akun pendukung RK dan FI itu adalah palsu.

Hati saya remuk, kecewa, marah dan merasa terzalimi. Harapan untuk menegakkan syariat dan juga menjaga moral Jakarta kandas.

Iklan

Apalagi dalam akun yang dianggap palsu itu jargon-jargon agama adalah pesona utama. Makin bagus jargon agama yang dipakai, saya percaya, makin pantas orang yang menggemborkan itu jadi pemimpin. Anda sekalian pasti paham, kan? Segala masalah di Indonesia ini lahir karena orang-orang jauh dari agama.

Mana ada orang beragama yang jadi koruptor? Mana ada ustadz yang pernah melakukan pencabulan? Mana ada guru agama yang melakukan kejahatan seksual? Tidak ada. Semua kejahatan lahir dari para komunis liberal yang antituhan. Percayalah.

Saya sudah berbunga-bunga membayangkan, bagaimana Ibukota dipimpin dua orang saleh dan saleha. Setiap hari kita akan mendapatkan program-program unggulan yang bukan sekadar jargon, tapi merupakan sari dari ajaran agama. Ridwan kamil, atau yang biasa disapa Kang Emil, di Bandung telah sukses mencanangkan hari-hari dengan berbagai program, hingga Bandung jadi kota yang keren.

Bayangkan, jika di Jakarta ada program seperti Senin Tanpa Knalpot, Selasa Tanpa Rokok, Rabu Berburu, Kamis Marawis, Jumat Berdakwah. Betapa luar biasa Jakarta nantinya.

Tentu program itu bisa disinergikan dengan semangat Uni Fahira yang menggebu-gebu dalam menjaga akhlak warga. Terbukti, Uni Fahira bisa meloloskan kebijakan pelarangan penjualan bir di mini market. Cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota agamis bukanlah mimpi belaka.

Bayangkan kita bisa ke Alexis untuk berwisata religi bersama keluarga, vakansi ke Mangga Besar untuk mendapatkan tausiyah keagaman, atau sekadar menikmati syahdunya iman sambil bersalawat di Kemang. Bayangkan betapa indahnya Jakarta sebagai kota santri.

Dengan iman, kita bisa membuat kemacetan Jakarta berkurang. Karena selama ini, masalah Jakarta lahir karena orang-orang menjauh dari bimbingan agama. Bayangkan jika setiap manusia yang ada di kota ini mematuhi perintah agama, pasti seluruh masalah di Jakarta akan habis.

Uni Fahira, sebagai sosok ibu yang mengayomi, pastilah bisa mengatasi masalah-masalah cetek seperti pelarangan tempat ibadah. Bayangkan, jalan masjid aja diurusin, apalagi pelarangan pembangunan masjid?

Seperti yang kita ketahui, jamaah Ahmadiyah di Jakarta sempat mengalami diskriminasi. Masjid tempat mereka beribadah disegel oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai seorang veteran pejuang agama yang pernah memperjuangkan #GazaInJakarta, tentu Uni akan sigap membela kaum Ahmadiyah. Jangan disamakan dengan Ahok yang Cuma bisa mengirim lebai-lebai masjid untuk umrah atau naik Haji, Uni Fahira akan membuka segel larangan beribadah bagi kaum Ahmadiyah ini.

Dengan foto-foto dramatik (yang bukan rekayasa), Uni pasti akan terketuk hatinya membela umat yang dilarang beribadah.

Kang Emil, di sisi lain, sebagai deklarator Bandung Kota HAM, pasti tidak akan tinggal diam jika ada warganya yang mengalami diskriminasi hak. Tentu Kang Emil akan siap sedia membela kaum miskin kota. Coba sini mana sebutkan satu saja kapan pernah kang Emil melanggar HAM? Tak pernah, kan? Marah-marah sambil memaki saja tak pernah.

Ya jangan dibandingkan dengan Ahok, Kang Emil adalah sosok santun berbudi pekerti luhur yang pasti cocok memimpin Jakarta.

Iklan

Kang Emil dan Uni Fahira akan jadi dwitunggal dalam penyelesaian berbagai problem Jakarta. Mulai dari kemacetan, kejahatan, sampai kemiskinan. Macet? Bisa diselesaikan dengan akhlak yang baik. Misalnya gerakan berbagi mobil, daripada sombong satu orang naik satu mobil. Kan enak? Jalanan macet karena banyak orang egois, dengan agama kita bisa menganjurkan gerakan sedekah nebeng. Dengan jargon memberi tumpangan gratis adalah amal ibadah, pasti kemacetan di Jakarta bisa sirna. Misalnya naik mobil alphard rame-rame seperti yang dilakukan Kokok Dirgantoro—CEO sebuah perusahaan komunikasi.

Jakarta banyak kejahatan? Perbanyak tausiyah dan majelis pengajian di kampung-kampung. Saya yakin Uni Fahira yang berpengalaman dalam dakwah bisa melancarkan program ini. Alih-alih menangkapi preman satu per satu, ada baiknya para preman itu diajari internetan, dengan begitu mereka bisa baca satu dua artikel di blog, lantas bisa banting stir jadi ustadz dan ulama. Atau kalau perlu kita bisa mendatangkan kanda Jonru untuk memberi kursus singkat menjadi ustadz, supaya makin banyak ustadz di Jakarta dan makin kecil angka kejahatan yang ada.

Kemiskinan? Ah, ini mah sepele. Kita bilang saja bahwa kemiskinan itu dekat dengan dosa. Maka, jadi miskin itu dosa. Saya yakin akan banyak orang yang berlomba-lomba jadi kaya tanpa pemerintah perlu bekerja terlalu keras.

Untuk itu, saya sangat berharap Kang Emil mau bersanding bersama Uni Fahira agar menjadi calon pemimpin Jakarta. Ya, hitung-hitung ikhtiar. Siapa tahu, kalau Kang Emil yang jadi gubenur, Jakarta jadi kota yang lebih manusiawi.

Terakhir diperbarui pada 6 November 2018 oleh

Tags: ahokFahira Idrisjakartaridwan kamil
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Token listrik lebih awet setelah mengubah kebiasaan kecil di rumah (Unsplash)

Token listrik lebih awet setelah saya mengubah kebiasaan kecil di rumah

7 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.