Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Empu Gandring Complex: Ketika Murid “Membunuh” Guru

Namun, hari ini, dengan gaya pendidikan seperti itu, guru tak lebih seperti baby sitter. Mereka tunduk dan takut sama murid serta orang tua yang telah membayar mahal untuk menitipkan anaknya ke sekolah.

Paksi Raras Alit oleh Paksi Raras Alit
17 Juli 2023
A A
Empu Gandring Complex: Ketika Murid “Membunuh” Guru MOJOK.CO

Ilustrasi Empu Gandring Complex: Ketika Murid “Membunuh” Guru. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hari ini, secara umum (atau sebagian besar), sekolahan jadi bersikap luwes terhadap murid. Sekolah mendorong anak untuk bebas menemukan minatnya. Murid bebas belajar sesuai yang dimau. Oleh sebab itu, guru harus peka dan mengikuti minat dan keistimewaan anak. 

Saya, terus terang saja, tidak begitu setuju dengan sistem seperti itu. Pikiran negatif saya mengatakan bahwa hari ini guru takut sama murid. Alih-alih mendorong spesialisasi kemampuan anak, ada celah bahwa anak jadi bisa semaunya sendiri. 

Kalau tidak sesuai dengan apa yang dimauinya, bebas negosiasi, bahkan dengan gurunya. Guru lama-lama jadi kehilangan power untuk mengajar dan mendikte. Saya khawatir guru kehilangan legitimasinya untuk mengatur. 

Pada gaya sekolah hari ini, mana ada guru yang berani memarahi murid? Apalagi pengawasan orang tua murid bagaikan CCTV yang menempel di jidat anak. Gadget orang tua murid ibarat golok yg siap menikam. Kalau anaknya sedikit saja dibentak, gurunya dilabrak.

Empu Gandring Complex: Rasa prihatin kepada guru 

Orde Baru menjejali kita dengan anggapan bahwa guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Kerja mereka dianggap sebatas amal jariyah saja. Ah, ini cuma akal-akalan saja supaya guru tidak rewel meski gaji mereka kecil. Sialnya, “status” itu menempel sampai sekarang. Eh, sudah begitu, sekarang ini dikit-dikit para guru kena ancaman mau diviralkan. 

Murid jadi semakin berani sama gurunya. Empu Gandring Complex kalau saya bilang. Ketika guru “tewas” di tangan murid. Beberapa versi sejarah mengatakan bahwa Ken Arok pernah menjadi murid Gandring. Dia, seorang murid sekaligus pemesan keris, membunuh gurunya sendiri karena ego dan nafsu.

Sebuah kenyataan yang kini terjadi di dunia pendidikan kita. Ketika profesi guru pada gaya pendidikan student-oriented atau “murid adalah raja” telah melemahkan posisinya. Melenceng dari arti dan makna harfiah “guru” (bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna) yang berhak mendisiplinkan murid, sosok yang harus dihormati, dan dipatuhi. 

Namun, hari ini, dengan gaya pendidikan seperti itu, guru tak lebih seperti baby sitter. Mereka tunduk dan takut sama murid serta orang tua yang telah membayar mahal untuk menitipkan anaknya ke sekolah. Kerata basa guru “digugu lan ditiru”, bisa berubah menjadi “digugu lan dirujak” netizen di medsos, kalau berani bikin masalah sama anak murid.

Daya saing murid yang semakin lemah 

Tren gaya pendidikan hari ini tentu berbeda dengan generasi saya, atau Anda dahulu. Ingat kan, dulu kapur, penggaris, dan penghapus bisa melayang ke jidat kalau murid bandel di kelas. Sekarang, mana berani guru njenggit rambut jambang di pelipis murid kayak dulu itu. 

Pokoknya murid tidak pernah salah, dan tidak pernah kalah. Bahkan rangking sekolah hari ini telah dihapuskan. Alasannya, kemampuan anak berbeda-beda, tidak bisa dinilai dari rangking. Jika begitu, lantas di mana kompetisinya? Di mana daya saing anak? 

Sifat tidak kompetitif tersebut juga ternyata merembet ke kehidupan anak secara umum. Hari ini, kita menilai kontes atau lomba tidak dari status juara. “Yang penting berani mencoba, dan sudah berusaha sebaik-baiknya”, begitu kata bunda-bunda yang hobi posting anaknya ikut berbagai macam lomba, tapi nyantai aja kalau anaknya kalah. Sudah jelas itu namanya lomba, jelas mencari juara. Anak-anak hari ini tak memikirkan prestasi, yang penting partisipasi.

Saya tidak begitu sependapat dengan cara-cara itu. Anak tidak pernah dituntut untuk memperjuangkan sesuatu karena sekarang kalah pun dapat pujian. Apa jadinya jika kelak dewasa, mereka misalnya menjadi atlet? Apa yang penting hanya foto-foto di stadion, pakai jersi, tanpa target juara, lalu pulang dibanjiri pujian sama orang tua, “Hebat, berani mencoba pengalaman baru.”?

Gaya didik mendewakan murid ini saya kira baru berkembang di Indonesia kira-kira 15 tahun belakangan ini (jika merujuk pada tahun berdirinya TK dan SD mewah di Jogja). Celakanya, hari ini, anak-anak angkatan pertama, atau generasi awal penganut gaya pendidikan seperti itu sedang beranjak remaja, lulus dari SMA. 

Runyamnya lagi, wawasan sempit saya ini mempertontonkan ABG dan remaja manja yang saya rasa hasil tren edukasi gaya baru seperti itu. Mereka anak muda yang gampang sambat karena realita dunia di luar sekolah ternyata sangat keras. Di luar sekolah, tiada lagi guru yang selalu permisif atas segala kesalahan dan bunga-bunga pujian dalam setiap tindakan anak. 

Iklan

“Guru kehidupan nyata” ternyata sangat kejam dan brutal

Jika salah bersikap, anak langsung terlindas dan terhukum keadaan. Anak-anak remaja “lulusan” parenting-education manja tersebut saya pikir tidak siap menghadapinya.

Sialnya lagi, algoritma medsos saya ikutan menggiring info dan berita remaja tidak kompetitif, mudah patah hati, suka merengek, tidak punya determinasi memperjuangkan sesuatu, tidak rela menghadapi kehidupan yang ternyata sukar ditawar.

Barangkali ini yang menyebabkan mengapa lagu-lagu cengeng pelipur lara patah hati begitu banyak digandrungi anak muda hari ini. Mereka seperti menemukan legitimasi bahwa patah hati dan kalah berjuang itu adalah wajar. 

Pokoknya orang lain yang salah karena menolak cinta kita, bukan karena kita gagal berjuang. Kalau putus cinta, alasannya pasangannya matre, terlalu menuntut, padahal memang kamunya yang kere, malas berjuang, karena memang tidak terlatih memperebutkan sesuatu dalam hidupmu. “Yang penting sudah mencoba, dapat pengalaman, kalah tidak apa-apa,” seperti kata gurumu dulu. 

Ah, barangkali memang tempurung pergaulan saya saja yang sempit, tidak lapang melihat dunia. Memang saya kurang dolan. Hingga yang terlihat hanyalah remaja-remaja yang itu-itu saja. Atau memang algoritma sialan ini yg terus menerus menggiring penglihatan saya pada remaja lembek hasil “pendidikan baru” model itu.

Tentu saja hipotesa ini saya buat terburu-buru tanpa bacaan lebih dalam. Tapi, ya namanya opini orang ngelamun setelah mengantar anak ke sekolah. J.K Rowling saja bisa ngelantur tentang sekolah sihir kok saking selownya di jam-jam itu.

Penulis: Paksi Raras Alit

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Noda dan Dosa Guru: Sisi Gelap Sebuah Profesi yang Dianggap Mulia dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2023 oleh

Tags: empu gandringguruken arokmuridpendidikan hari ini
Paksi Raras Alit

Paksi Raras Alit

Seniman dan pegiat aksara Jawa.

Artikel Terkait

Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO
Pendidikan

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.