Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu: Penyebab, Risiko, dan Strategi Menghadapi Potensi Krisis Ekonomi

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
8 April 2025
A A
Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO

Ilustrasi Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Penyebab nilai dolar ke rupiah tembus 17 ribu

Nah, pemicu utama kondisi ekonomi dunia saat ini nggak baik-baik saja sehingga berpengaruh pada nilai dolar ke rupiah itu ada beberapa hal. Pertama, kebijakan Amerika Serikat yang melakukan pengetatan makro ekonominya. 

Mulai dari The Fed menaikan suku bunga supaya orang-orang dari seluruh dunia menarik USD-nya untuk dimasukan ke instrumen keuangan di Amerika. Akibatnya, peningkatan tarif impor Amerika Serikat yang membuat permintaan USD di Amerika Serikat sendiri jadi makin tinggi.

Lah, orang-orang Amerika Serikat butuh USD lebih banyak karena tarif impor dari beberapa negara ke negara mereka sendiri naik karena Trump. Kondisi itu membuat USD jadi menguat nilainya. Ia dianggap aset yang aman dan menjanjikan. Efeknya, permintaan USD jadi tinggi dan nilai dolar ke rupiah menguat.

Penyebab dari internal Indonesia

Saat ini, kondisi neraca perdagangan dan transaksi berjalan terbilang mengkhawatirkan. Harga produk unggulan ekspor seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan nikel lagi turun-turunnya. 

Secara bersamaan, impor negara kita justru meningkat. Terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumsi menjelang Lebaran serta kebutuhan bahan baku dan barang modal bagi sektor industri. Kalau sudah bicara impor, tentu negara ini membutuhkan USD, kan? Makanya, nilai dolar ke rupiah naik.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi korporasi. Menjelang akhir kuartal, banyak perusahaan melakukan pembayaran utang luar negeri atau pembagian dividen kepada investor asing. Tentu, mayoritas menggunakan USD.

Nggak lupa juga adanya perkara stabilitas politik dan ketidakjelasan regulasi. Ada istilah country risk atau sovereign risk. Istilah ini menggambarkan sejauh mana sebuah negara bisa dipercaya untuk menjaga kepastian dan stabilitas dalam jangka panjang.

Investor asing, tidak hanya fokus kepada pertumbuhan ekonomi dan inflasi, tetapi juga memperhatikan sinyal lain. Mulai dari regulasi yang berubah-ubah, kebijakan ekonomi tidak terprediksi, hingga lembaga independen seperti bank sentral dan pengadilan terintervensi. 

Maka, kepercayaan investor mulai goyah. Ini juga bisa memicu naiknya nilai dolar ke rupiah.

Semakin tinggi risiko inkonsistensi dan intervensi politik, semakin besar risk premium yang diminta. Bahkan bisa mendorong arus modal keluar. Bukan karena lemahnya ekonomi, tetapi karena hilangnya kepercayaan terhadap sistem. Kombinasi semua itu mengakibatkan nilai dolar ke rupiah menguat. Sementara nilai tukar rupiah jadi makin melemah.

Inflasi?

Kalau situasinya berlanjut, tentu akan memicu inflasi. Nah, Inflasi yang makin tinggi membuat Bank Indonesia menaikan suku bunga untuk menekan uang beredar. 

Efeknya tentu bunga kredit jadi naik, konsumsi masyarakat melemah, dan investasi di sektor riil jadi lesu. Di sisi lain, utang luar negeri, baik milik pemerintah maupun swasta dalam bentuk USD harus dibayar lebih mahal dalam rupiah. Otomatis, nilai dolar ke rupiah naik.

Belum lagi kalau pasar keuangan ikut panik. Kita sudah diperlihatkan tuh, investor asing buru-buru cabut dari pasar saham, bikin IHSG turun drastis.

Sekarang, masyarakat harus ngapain nih? 

Saya coba himpun beberapa saran dari para ekonom dan perencana keuangan terkait antisipasi menghadapi krisis ekonomi. Sebuah kekhawatiran setelah nilai dolar ke rupiah setinggi ini.

Iklan

Pertama, memperkuat dana darurat, khususnya di momen naiknya nilai dolar ke rupiah kayak saat ini. Kalau belum punya, segera mulai dari sekarang.

Kedua, mengurangi keinginan dan utang konsumtif. Udah, tahan dulu beli barang mewah, apalagi yang produksi luar negeri. Nilai dolar ke rupiah lagi tinggi.

Jangan memaksa utang demi gengsi. Ketika krisis, kamu nggak bisa bergantung ke orang lain. Diri sendiri yang jadi tumpuan.

Ketiga, memperbanyak keterampilan untuk mendorong diversifikasi pendapatan. Silakan tambah skill baru supaya ada side job demi tambahan pendapatan. Nambah skill juga membuat kita jadi lebih kreatif. Kalau sumber pendapatan bertambah, uang untuk investasi atau dana darurat juga bertambah, kan?

Keempat, hindari instrumen investasi berisiko tinggi. Nggak usah coba-coba cryptocurrency. Kalau uang terbatas, sebaiknya hindari juga saham dalam negeri. 

Kalau tren ekonomi dalam negeri sudah membaik, barulah kamu bisa mencoba untuk investasi saham. Saya pribadi lebih merekomendasikan emas atau reksadana (pasar uang dan pendapatan tetap) untuk melindungi harta kita.

Kelima, membangun portofolio sosial. Fokus pada membangun reputasi dan kontribusi sosial di masyarakat. Pasalnya, orang yang punya posisi sosial kuat dan bagus, biasanya lebih dulu dapat akses bantuan atau kolaborasi saat krisis.

Selain itu, yang perlu kita perhatikan adalah bertahan hidup saat krisis bukan cuma perkara uang. Ini soal ketahanan sosial, kreativitas, dan kemampuan adaptasi. 

Mereka yang bisa “berpikir lateral” dan membangun kekuatan mikro (jaringan, keterampilan, reputasi sosial) akan lebih tahan daripada yang hanya fokus simpan uang.

Uang bisa lari, tapi ketahanan mental dan sosial kita yang jadi penentu, bertahan atau tumbang. Dan ingat, jangan lupa berdoa.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Naiknya Kurs Dolar Bikin Utang Numpuk dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 April 2025 oleh

Tags: Bank Indonesiadolar 17 ribudolar hari inidolar ke rupiahinflasikrisis ekonomikurs dolarkurs rupiahnilai tukar rupiahrupiah hari iniRupiah Melemahsuku bunga the fedthe fed
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
pahlawan pertama di uang rupiah mojok.co
Kabar

Rupiah Melemah Bikin Kelas Menengah Makin Susah: Gaji Tak Kemana-mana, tapi Biaya Hidup Terus Melonjak

11 Juni 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Krisis Ekonomi di Depan Mata? MOJOK.CO
Kabar

Rupiah Anjlok, Pakar UGM Wanti-wanti Kenaikan Harga Sembako 

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.