Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Biarkan Kami Bikin Tagar #PrayForJakarta

Andreas Rossi oleh Andreas Rossi
16 Januari 2016
A A
Biarkan Kami Bikin Tagar #PrayForJakarta

Biarkan Kami Bikin Tagar #PrayForJakarta

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Media sosial adalah berkah. Keberadaannya mempercepat pertukaran informasi. Saking cepatnya, banyak orang menyebarkan informasi yang kadang menggelikan. Tidak usah dipikir dulu, yang penting cepat. Persis balapan liar.

Sebagai netizen yang baik, tentu sebuah peristiwa buruk macam serangan teroris perlu didoakan secara publik lewat tagar pray-pray-an itu. Terlebih lagi, ketika Mas Zuckerberg tak memberi dukungan macam yang diberikan kepada penduduk Paris ketika mereka diserang teror. Secepat kilat para netizen Indonesia membikin tagar berupa-rupa isi. #PrayForJakarta, #PrayForJKT, #KamiTidakTakut, dan sebagainya. Netizen kita memang sangat responsif sekaligus mudah berduka. Kecuali tentang pembantaian di Papua, tentu saja.

Sayangnya, ketika kita semua sedang berduka secara online, muncul seorang polisi skena sosial media yang memperingatkan kita tentang bahaya tagar #PrayForJakarta. Sang polisi cum ekonom cum pengamat media sosial ini melihat sesuatu yang tak kita lihat: tagarmu, harimaumu! Beliau dengan canggihnya mengaitkan dukungan kita terhadap kota Jakarta yang diserang teror ini dengan kemungkinan krisis ekonomi.

Kata pakar kita ini, semakin banyak tagar #PrayForJakarta berkeliaran di media sosial, semakin trending-lah tagar itu. Semakin mewabah sebuah tagar, semakin luaslah ia dibaca orang di seluruh dunia, termasuk para investor. Para investor ini kemudian cemas, lalu menarik investasinya dari Indonesia karena tidak aman. Uang keluar, suku bunga naik, rupiah turun, inflasi, kemudian kiamat sugranya adalah cicilan KPR-mu yang semakin melambung. Sedang kiamat kubranya adalah krisis ekonomi melanda Indonesia! Luar biasa!

Netizen kita yang baik juga turut meneruskan teori ini dengan sistematis, massif, terstruktur, cepat, dan tanpa dipikir. Bahkan, sampai menyebar di grup-grup Whatsapp. Saking massifnya , jika Anda mencari tagar #PrayForJakarta, yang banyak muncul adalah petuah sang segawan kita tadi. Ya, sang begawan rupanya silap dengan ikut-ikutan menulis #PrayForJakarta pada tubuh pesannya. Sebagai orang biasa yang tak berilmu ekonomi apalagi kemediasosialan, saya susah paham dengan peringatan tersebut. Namun saya tetap akan coba menjelaskannya, tentu dengan pemahaman saya yang apalah ini.

Pertama, justru dia malah semakin mempromosikan tagar yang ia larang. Dia sendiri ikutan menulis tagar #PrayForJakarta, kok. Apalagi pesannya itu disebar tanpa menghilangkan tagar yang terlarang tadi. Ini hampir sama lucunya kala pemerintah melarang anak-anak mencari tahu tentang Miyabi bertahun-tahun lalu. Anak-anak ingusan yang mulanya tak tahu siapa Miyabi jadi tahu siapa dia. Ini namanya self-fulfilling prophecy alias ramalan swawujud. Beruntung, self-fulfilling prophecy masalah tagar-tagaran ini digagalkan oleh tagar lain yang lebih populer seperti #KamiTidakTakut yang lebih trending.

Kedua, setahu saya yang bukan begawan ekonomi ini, penentuan suku bunga itu, ya, lewat aturan BI. Bikinnya berbulan-bulan. Itupun kalau instrumen kebijakan moneter lain dirasa gagal. Jadi, suku bunga yang menentukan besarnya cicilan KPR-mu itu tidak ditentukan per hari.

Ketiga, kok saya lebih yakin kalau investor itu baca berita, bukan tagar media sosial. Lah, berita-berita dalam negeri maupun internasional seperti CNN, BBC, dan Reuters sudah gerak cepat dalam memberitakan teror Sarinah. Memangnya para investor itu lebih suka mantengin trending topic daripada baca berita? Itu investor apa penggemar One Direction? Kenapa ndak sekalian menyuruh semua kanal berita agar tidak memberitakan teror Sarinah saja, supaya investor ndak tahu apa-apa tentang kondisi Indonesia?

Teror bukannya sama sekali tidak berpengaruh pada pasar saham. Rupiah memang amat mungkin turun karena teror ini. Indeks harga saham gabungan pada 14 Januari 2016 (hari terjadinya teror) pun ditutup melemah -0,53%. Tapi, kalau Pak Ekonom tadi melihat indeks Hang Seng punya Hong Kong dan Nikkei punya Jepang, sesungguhnya mereka sama-sama melemah pada tanggal 14 Januari 2016. Malah, Nikkei melemah -2,7%. Padahal tak ada teror di Jepang sana.

Bursa saham Asia memang sedang lesu-lesunya. Akan tetapi, sebagian besar penyebabnya adalah harga minyak yang sedang ambruk dan ekonomi global yang melambat. Bukan media sosial kita. Lagi pula, naik turun satu-dua persen mah memang kejadian sehari-hari di pasar saham. Duit keluar masuk ratusan miliar hingga triliunan itu juga biasa terjadi di pasar keuangan. Pasar finansial itu bukan dompetmu, yang mentok keluar-masuk isinya cuma ratusan ribu. Ngomong-ngomong, IHSG menguat +0,24% keesokan harinya (15/01/2016). Teror sepertinya ndak terlalu ngaruh. Kita, dan para investor, nampaknya memang tidak takut.

Maka, alangkah indahnya jika si polisi skena media sosial tadi mencurahkan energinya untuk meluruskan hoax (seperti isu adanya ledakan di Slipi dan Kuningan atau isu bahwa Amerika Serikat sudah memperingatkan warganya sebelum terjadi teror), memberi pencerahan tentang apakah teror Sarinah adalah pengalihan isu Freeport, atau mendidik para netizen agar tak menyebarkan foto korban. Karena hoax, teori konspirasi, dan menyebarkan gambar mayat sesungguhnya lebih ngehek (sayangnya sama-sama viral) daripada bikin tagar pray-pray-an itu. Jadi, sudahlah, Pak Ekonom, biarkan saja kami berduka secara daring, lewat tagar dan sejenisnya.

Ah, seandainya juga semua orang tak gampang cemas seperti bapak tukang sate di dekat Sarinah itu.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: #kamitidaktakut#prayforjakarta#PRAYFORJKTBom SarinahjakartaTeror Sarinah
Andreas Rossi

Andreas Rossi

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.