Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bercita-cita Jadi Jokowi, Bang Jago Paling Ultimate Sejagat Raya

Krisna Rettob oleh Krisna Rettob
19 Oktober 2020
A A
Bercita-cita Jadi Jokowi, Bang Jago Paling Ultimate Sejagat Raya

Bercita-cita Jadi Jokowi, Bang Jago Paling Ultimate Sejagat Raya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Prestasi Presiden Jokowi selama dua periode ini luar biasa. Blio ini adalah abang jago yang sesungguhnya. Ampun, Bang Jago, ampun.

Sebagai pengamat politik kelas Instagram, saya menilai bahwa Jokowi itu manusia politik paripurna. Nggak ada cacat. Perjalanannya dalam perhelatan politik beda dengan para presiden sebelumnya.

Bung Karno misalnya, nggak pernah jadi wali kota atau gubernur, eh langsung jadi presiden. Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun demikian. Mereka nggak ada satu pun yang pernah ngerasain jadi kepala daerah dulu.

Itu mah nggak seru, yang seru itu kayak Jokowi. Start-nya dari Karanganyar, finish-nya di Istana Negara.

Sebelum menetap dua periode di Istana Negara, Jokowi sempat “mampir” di Jakarta. Pada Pilkada DKI-Jakarta 2012, pemain politik lama seperti Fauzi Bowo yang memiliki modal politik sebagai calon petahana sekaligus orang Betawi asli harus takluk dari Jokowi. Ini ajaib bukan?

Belum selesai Jokowi menghabiskan masa jabatan sebagai orang nomor satu di Jakarta, blio langsung masuk bursa orang-orang yang memiliki popularitas tinggi untuk dicalonkan sebagai presiden.

Hebatnya lagi, ketika sudah menjadi sorang calon presiden, lawan Jokowi saat itu adalah Pak Prabowo Subianto yang sebelumnya sudah mendukung penuh Jokowi pada Pilkada Jakarta.

Pada fase pemilihan, Jokowi berhasil memikat hati rakyat dengan mendapatkan dukungan suara lebih dari lima puluh persen. Perolehan suara tersebut menghantarkan Jokowi membuka gerbang Istana Negara sebagai bang jago nomor satu di Indonesia.

Padahal pada sistem multi-partai seperti yang diterapkan di Indonesia, kuantitas dukungan partai kepada seorang calon ikut menentukan perolehan suara yang akan dicapai pada saat pemilihan, namun logika itu tidak berlaku bagi seorang Jokowi.

Bermodalkan dukungan partai lebih sedikit dibanding Prabowo, Jokowi telah menunjukkan bahwa tidak selamanya kuantitas partai pendukung berbanding lurus dengan dukungan suara yang diperoleh.

Bukan hanya soal partai pendukung tapi dari aspek aktornya juga. Coba bandingkan antara kedua aktor utama ini, antara Jokowi dan Prabowo.

Prabowo itu ketua umum partai politik, pengusaha kaya-raya, beliau juga mantan militer andalan dari sang maestro, Soeharto. Tapi kok bisa dikalahkan sama wong ndeso yang bukan siapa-siapa?

Ketua partai bukan, pengusaha kelas satu juga bukan, dan nggak mungkin kan potongan seorang mantan militer kayak si Pakde? Kalau potongan bang jago sih mungkin. Masih ada potensi pada waktu itu.

Setelah jadi presiden, tentu legitimasi Jokowi tidak begitu kuat secara politik karena kekuatan Jokowi di lembaga legislatif lemah.

Iklan

Partai-partai pendukung Prabowo yang menguasai suara mayoritas di parlemen. Bagi Jokowi itu bukan masalah besar. Belum genap satu tahun masa jabatan, Jokowi sudah berhasil memporak-porandakan pertahanan koalisi merah-putih.

Satu per satu partai pengusung Prabowo berhasil dicopot ke dalam barisan pemerintah. Oktober 2014, PPP dijebol oleh Jokowi, disusul PAN pada September 2015, kemudian Golkar pada Januari 2016.

Anda mau bilang kalau kalau itu mah biasa, dalam politik kan yang abadi kepentingan bukan koalisi. Sabar dulu, Bos, yang ini betul-betul beda.

Perhatikan baik-baik ya!

Dalam lingkaran koalisi merah-putih yang berhasil diporak-porandakan Pakde itu, terdapat deretan politisi-politisi senior dan sejumlah pengusaha yang maha-kaya seperti Prabowo, Sandiaga Uno, Amien Rais, Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan, Abu Rizal Bakrie, dan lain-lain.

Nah, dengan besarnya budaya politik transaksional di Indonesia, modal jejaring politik di level elite dan modal ekonomi yang besar seharusnya koalisi merah-putih mampu mengendalikan pemerintahan.

Akan tetapi kenyataan justru berbeda, Jokowi berhasil menghancurkan kekuatan dari kumpulan politisi senior sekaligus para pengusaha kaya-raya itu.

Kedudukan Jokowi sebagai manusia politik paripurna semakin kokoh setelah blio dilantik menjadi presiden pada periode kedua. Buktinya bisa Anda lihat dari dua produk UU penting yang dikeluarkan dalam tahun pertama masa jabatannya yaitu UU KPK dan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Dua produk UU ini mendapat penolakan dari masyarakat pada fase awal pembahasan. Tapi toh, DPR dan Pemerintah tetap membahas dan menetapkannya sebagai UU. Bener-bener bang jago bener Presiden Jokowi ini.

Jokowi bahkan terlihat sangat bang jago sekali ketika merespons gelombang penolakan terhadap disahkannya UU Omnibus Law. Blio tinggal melakukan jumpa pers dan mengatakan bahwa bagi yang merasa keberatan dipersilahkan mengajukan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi.

Untuk urusan mahasiswa yang masih terus-terusan demo, Jokowi tinggal perintahkan rektor untuk menjegal melalui tangan Kemendikbud.

Sedangkan untuk merespons pendapat para ahli serta pernyataan resmi dari Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang mengatakan bahwa UU Omnibus Law bisa menyengsarakan rakyat, Jokowi cukup memerintahkan Kemkominfo untuk mengatakan bahwa itu hoaks.

Kalau pemerintah sudah bilang itu hoaks ya hoaks, jangan dibantah lagi. Begitu sabda Menkominfo.

Jokowi juga telah membawa kita sebagai bangsa yang tidak takut akan virus corona. Hal itu bisa dilihat dari kebijakan pemerintah yang tetap menggelar pilkada serentak pada tahun ini.

Kalau saudara-saudara tahu, keberanian Jokowi ini seakan-akan telah mempecundangi Pemerintah Hong Kong. Di Hong Kong saja pemilunya ditunda, padahal sejak awal Maret 2020 tidak ada satu pun kasus baru virus corona.

Sementara di Indonesia, sampai dengan bulan Oktober kasus corona belum menunjukkan penurunan yang signifikan tapi pilkada akan tetap dilaksanakan. Hebat kan? Nah, kurang apalagi untuk mengatakan bahwa Jokowi itu manusia politik paripurna?

Karier politik yang bagus, berhasil menjebol lingkaran politisi senior, memporak-porandakan persatuan pengusaha kaya raya, sukses nggak dengerin demo mahasiswa, mampu cuekin organisasi selevel NU dan Muhammadiyah, bahkan sampai berani meremehkan virus mematikan seperti corona.

Sampai di sini kamu sudah percaya belum kalau Jokowi itu manusia politik paripurna?

Dalam waktu dekat status Jokowi sebagai manusia politik paripurna akan bertambah menjadi manusia politik paripurna yang sempurna kalau Gibran benaran kepilih menjadi Wali Kota Solo.

Jadi ketika sang bapak sebagai presiden, anaknya sebagai wali kota. Hebat kan?

Ini adalah sebuah prestasi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Bahkan boleh jadi, prestasi Jokowi ini akan masuk rekor muri karena pemimpin sekelas Adolf Hitler dan Soeharto yang terkenal “bertangan besi” aja belum sempet kepikiran begitu.

Dan karena saya adalah pengamat politik kelas Instagram, prestasi ini bukan hanya menjadikan Jokowi sebagai bang jago, tapi jago di atas jago. Bang Jago paling ultimate sejagat raya. Ampun, Bang Jago Jokowiii, ampuuun.

Itulah alasan yang membuat saya memutuskan dan menetapkan bahwa atas nama pengguna Instagram saya bercita-cita menjadi kayak Jokowi. Semata-mata demi menyelamatkan masa depan dinasti keluarga saya di Indonesia.

BACA JUGA Komentar Johnny G. Plate di Mata Najwa Adalah Bukti Bahwa Dirinya Bang Jago Sejati.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2025 oleh

Tags: bang jagocoronahoaksjokowiKPKomnibus lawprabowo
Krisna Rettob

Krisna Rettob

Artikel Terkait

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO
Esai

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO
Tajuk

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
SMARAI rilis album "Semai" berisi tentang perjuangan hidup, salah satunya perjuangan guru honorer MOJOK.CO

Potret Himpitan Hidup Guru Honorer dalam Lagu “Optimis” di Album “Semai”, SMARAI Ajak Belajar Menghadapi Kesulitan dan Kegagalan

7 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.