Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
18 Desember 2025
A A
Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang? MOJOK.CO

Ilustrasi - Ketimpangan di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Punya gelar bangsawan sebagai keturunan Keraton Jogja itu merepotkan. Dianggap sakti dan bisa terbang. Merepotkan saja.

“Enak kamu, punya darah biru, keturunan Keraton Jogja,” ujar seorang kawan yang sedang tergila-gila dengan sejarah dan klenik Jawa. Begitu banyak orang yang pasti akan mengucapkan kalimat itu ketika saya cerita soal latar belakang keluarga. Seolah-olah punya status “darah biru” itu sebuah karunia besar di Jogja. Sementara itu, menjadi jadi rakyat jelata, tanpa garis keturunan bangsawan, begitu buruk.

Apa benar demikian? Apakah takdir darah biru begitu indah? Mari kita intip sudut pandang lain.

“Sebenarnya, saya ini pengin jadi wong biasa aja, Mas,” ujar seorang kawan ayah saya yang kebetulan juga masih punya darah Keraton Yogyakarta. Juga ujar beberapa orang lain yang merasa status ndoro dan kanjeng mereka malah jadi beban.

Jadi, siapa yang seharusnya iri? Tidak ada! Karena untuk apa merasa iri dengan status rakyat jelata Jogja atau menjadi bangsawan keturunan Keraton Jogja. 

Sebagai orang yang hidup di “dua dunia” ini, saya bisa menegaskan bahwa tidak ada yang bikin iri. Apalagi ketika alasan iri seperti yang saya tulis di bawah ini.

Iri dengan status keturunan Keraton Jogja karena pengin sakti

Siapa yang memulai mitos ini? Bisa-bisanya jadi keturunan Keraton Jogja berarti sakti mandraguna. Kalau memang benar, bakal ada ratusan ribu sampai jutaan orang yang bisa terbang. 

Iya, jutaan. Beberapa raja punya banyak keturunan yang beranak pinak sampai sekarang. Sebut saja keturunan Sri Sultan HB II, yang tersebar di Indonesia bahkan Eropa.

Darah biru bukan berarti tanda seorang punya kemampuan spiritual mumpuni. Karena mau sebiru apapun darahmu, kalau tidak melakukan gladi spiritual, juga sama saja. Dan kalian yang rakyat jelata Jogja juga bisa sakti kalau mendalami spiritual.

Lagipula, apa kalian masih percaya tentang ilmu terbang dan menggandakan uang? Sadar!

Darah biru = Bisa masuk Keraton Jogja sesuka hati

Beberapa tahun lalu, saat pandemi mereda, saya harus menemani beberapa teman yang penasaran dengan Keraton Yogyakarta. Mereka langsung kaget ketika saya membayar tiket masuk. Bukan karena harga yang tergolong murah, tapi karena saya harus membayar seperti mereka.

“Lho, kan ini rumah leluhurmu? Ngapain bayar, Mas?” Tanya salah satu teman dari Kalimantan. Sebenarnya saya ingin balas dengan “Ngapain bayar matamu suwek!” Tapi saya memaklumi pertanyaan itu.

Gini lho. Keraton Jogja itu rumah Sri Sultan. Jadi, yang mengatur perkara izin masuk dan bayar tiket juga beliau. Bukan berarti semua keturunan sultan bisa masuk sesuka hati. 

Lha wong adiknya saja angkat kaki karena isu suksesi. Apalagi saya yang sudah keturunan ke-8. Saya tetap seperti orang Jogja pada umumnya. Mungkin bedanya saya bisa pamer ada foto eyang di Museum Keraton Yogyakarta.

Iklan

Rakyat Jogja Ingin punya privilese sebagai bangsawan

Sebenarnya privilese macam apa di fantasi kalian? Ada teman yang bilang keturunan raja itu harus disembah di mana saja. Ada yang bilang kalau trah keraton bisa kaya raya karena jadi pemilik Jogja. Bahkan ada teman yang bilang kalau saya berhak untuk tidak pakai helm karena polisi takut oleh kalangan darah biru.

Saya dan banyak keturunan sultan hidup sebagaimana rakyat jelata. Bedanya, kalau memasang gelar di depan nama, akan disembah dengan cara menyindir dan mengejek.

Hanya itu dan tidak ada privilese lainnya. 

Apalagi kalau urusannya dengan kepentingan ekonomi dan politik. Toh buktinya kami bisa jatuh miskin, tertekan oleh kemiskinan struktural, bahkan digusur. 

Sebenarnya FTV atau Drama Cina apa yang kalian tonton itu? Atau kalian pikir kami ini Tenryuubito?

Tapi, tidak hanya rakyat jelata saja yang iri pada keturunan raja. Para darah biru malah iri pada mereka yang merasa semenjana seperti rakyat Jogja pada umumnya.

Iya, karena menjadi keturunan raja dan bangsawan tidak mendapat privilese berarti selain dongeng feodal. Kami, keturunan Keraton Jogja, malah mendapat beban hidup tambahan!

Jadi rakyat jelata bisa bertingkah sesuka hati

Bayangkan, kamu mengumpat kasar atau menggeber motor dengan knalpot brong. Lalu ada yang menghardikmu, tapi bukan karena itu tidak sopan atau tidak pantas. Tapi, “Kamu itu darah biru lho!”

Inilah beban yang jadi takdir para keturunan raja. Semua yang dilakukan harus sesuai dengan idealisme yang bahkan entah dari mana. 

Kami tidak bisa bertingkah seenaknya tanpa disinggung perkara garis keturunan Keraton Yogyakarta. Padahal, kami sama saja seperti kalian semua. Saya tetaplah mas-mas gondes Jogja yang rindu menggeber knalpot sampai berasap.

Tidak dicari saat ada orang kesurupan atau untuk mengusir setan

Demi langit dan bumi, jauhkan kami dari klenik! Tidak semua keturunan Keraton Yogyakarta bisa menyembuhkan orang kesurupan! 

Entah sudah berapa ratus kali orang meminta saya untuk menolong orang kesurupan atau mengusir setan di rumah teman. Kalaupun saya berhasil, itu karena doa berdasarkan agama. Bukan karena saya keturunan Sri Sultan.

Betapa enaknya jadi rakyat Jogja biasa. Kecuali pamerkan kemampuan spiritual, tidak akan jadi jujugan korban keisengan hantu. Sedangkan darah biru, selama ketahuan, langsung dianggap sebagai ghostbuster. Paling betul jadi orang biasa saja dan jauh-jauh dari fantasi darah biru adalah orang sakti berdasar genetis.

Status keturunan Keraton Jogja bikin kami jadi juru bicara dadakan

“Menurut Mas, kenapa GKR Mangkubumi yang jadi putri mahkota?” 

“Kenapa sih sekarang tidak ada sekaten?” 

“Kira-kira kenapa Sri Sultan tidak mau pakai patwal?” 

Dan banyak lagi pertanyaan yang hanya bisa saya jawab, “Lha mbuh!”

Pembaca harus paham. Tidak semua trah Keraton Jogja punya akses ke perkara pemerintahan dan kebudayaan. Kecuali memang menjadi pejabat di kantor Tepas.  Selain itu,m kami hanyalah orang biasa tanpa info A1. Tapi, kami dianggap punya semua informasi semata-mata karena gelar “Raden”.

Memang betul kalau lebih enak jadi rakyat Jogja biasa. Toh darah biru dan darah merah juga sama-sama hidup susah. 

Sisipan gelar di depan nama tidak memberi arti tambahan selain keren-kerenan. Ketika berhadapan dengan realitas, darah biru dan darah merah sama-sama hidup sesak di kota yang istimewa ini.

Penulis: Prabu Yudianto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Meski Terancam Diusir dari Sultan Ground, Saya (Terpaksa) Tetap Narimo Ing Pandum dan isu menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2025 oleh

Tags: darah birugelar bangsawan yogyakartaJogjaKeratonkeraton Yogyakartakraton jogjasri sultansri sultan x
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Nemu Daycare Teraman di Jogja di Balik Bobroknya Little Aresha. MOJOK.CO
Urban

Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak

27 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.