Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

20 Tanda Kamu Harus Nekat Meninggalkan Jogja

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
29 Mei 2024
A A
20 Tanda Kamu Harus Nekat Meninggalkan Jogja MOJOK.CO

20 Tanda Kamu Harus Nekat Meninggalkan Jogja MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

#11 Kamu ingin punya rumah di Jogja

Punya rumah di Jogja boleh dibilang menjadi mimpinya orang Indonesia. Kamu membayangkan hidup seperti di FTV (padahal tidak juga), sembari menikmati hidup yang lambat. 

Jika kamu juga ingin punya rumah di Jogja, tandanya kamu harus segera pergi dari sini. Alasan pertama, kamu perlu menabung lebih banyak dan berat. Jadi merantaulah dan kembangkan kariermu. Alasan kedua, agar kamu lupa dengan mimpimu. Karena tidak semudah itu punya rumah di sini. Sudah mahal, bisa hilang kepemilikannya kalau salah beli.

#12 Kamu rindu kedamaian

Mungkin kamu bertanya-tanya, “Jogja kan damai, kenapa harus angkat kaki?” Pertama, Jogja tidak pernah sedamai apa yang dibayangkan orang-orang. Dari klitih, konflik antar suku, sampai persekusi rasial masih jadi makanan sehari-hari warga kota ini. Belum lagi berbagai gesekan di media sosial dalam mengomentari pemerintahan autopilot ini. Kota ini bukan kota kecil yang sederhana, namun kompleks dan rentan gesekan.

#13 Kamu merasa hidup berjalan lambat

Kamu merasa jam berputar lebih lama? Merasa lama sekali menunggu satu hari untuk selesai? Mungkin Jogja bukan tempat yang tepat bagimu karena kota ini memang berjalan lebih lambat. Ini bukan hal buruk, bahkan dipandang jadi kelebihan. Tapi jika kamu bosan hidup selambat ini, sudah saatnya untuk meninggalkan kota ini. Kota-kota besar dan pusat industri menawarkan hidup yang lebih cepat. Rasanya baru saja bangun pagi, tahu-tahu sudah mau mati.

#14 Kamu bosan melihat wisatawan

Saya teringat keluh kesah seorang kawan lama yang merantau. Alasan utama dia merantau adalah bosan melihat wisatawan. “Setiap hari selalu melihat orang asing yang sibuk selfie,” ungkapnya penuh kesal. Apakah kamu juga pernah merasakan hal sama? Bosan bertemu orang asing yang nyebrang sembarangan sembari jepret sana-sini? Jogja memang harus ditinggalkan.

#15 Kamu rindu Jogja yang dulu

Makin banyak orang yang membanding-bandingkan Jogja hari ini dan dulu. Katanya, Jogja yang dulu itu lebih nyaman. Yang dulu itu lebih ramah dan murah. Apakah kamu juga merindukan Jogja yang seperti 10 atau 20 tahun lalu? Ini waktunya kamu meninggalkan kota ini. Percayalah, kota ini tidak akan kembali seperti dulu. Tidak akan seromantis waktu kamu masih dipakaikan celana oleh ibu.

#16 Kamu butuh fasilitas umum yang memadai

Apakah kamu ingin ke mana-mana naik transportasi umum yang nyaman? Atau ingin bawa kendaraan pribadi di jalanan serba mulus? Apakah kamu ingin melintasi jalanan malam tanpa takut gelap? Apakah kamu ingin fasilitas umum yang memadai seperti itu? Sayang sekali, itu tandanya kamu harus angkat kaki dari Jogja. Karena daerah istimewa ini punya fasilitas umum yang tidak istimewa.

#17 Kamu bercita-cita jadi gubernur

Semua orang bebas bercita-cita. Mau jadi dokter, polisi, atau tentara? Silakan saja. Mau jadi menteri, presiden, atau anak presiden? Itu juga boleh. Mau jadi gubernur? Boleh-boleh saja, tapi ini tandanya kamu harus angkat kaki dari Jogja. Daripada mimpimu tidak pernah menjadi nyata, kamu harus berani meninggalkan kota yang (katanya) nyaman ini.

#18 Kamu ingin bebas menyuarakan pendapat

Apakah hatimu berderak ketika melihat ketidakadilan? Ataukah jiwamu terbakar ketika melihat penindasan? Yah, mending kamu pergi dari Jogja, sih. Daripada kamu nanti malah kecewa. 

Jogja memang kota pelajar dan pendidikan, tapi bukan untuk berdialektis dan membawa perubahan. Mending kalau hanya ditanya masalah KTP. Kalau sampai dianggap antek-antek perusak keistimewaan, makin repot hidupmu.

#19 Kamu capek untuk do-it yourself

Kadang kita ingin hidup lebih santai dan tenang. Tanpa sibuk memikirkan urusan pelayanan publik dan kinerja pemerintahan. Kadang kita ingin merasakan hidup dilayani sebagaimana relasi rakyat dan pemerintah yang ideal. Apalagi masalah hajat orang banyak, pasti ingin merasakan aksi pemerintah yang cepat tanggap. Kamu ingin hidup yang demikian? Maaf, tapi segera beli tiket untuk keluar dari Jogja.

#20 Kamu merasa Jogja tidak bisa diperbaiki

Ini adalah tanda terakhir untuk meyakinkanmu segera angkat kaki dari Jogja. Saat kamu sudah kelewat pesimis terhadap situasi daerah istimewa ini. Atau, ketika kamu merasa kota ini sudah rusak permanen. Bahkan saat kamu percaya bahwa Jogja sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Memang, kota ini sudah remuk akibat pengabaian bertahun-tahun. Tapi bolehlah kita berani berharap bahwa kota ini akan lebih baik. Tapi jika kamu pesimis, maafkan Jogja yang telah membuatmu kecewa.

Penulis: Prabu Yudianto

Editor: Yamadipati Seno

Iklan

BACA JUGA Jogja Terbuat dari Tumpukan Kebohongan yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2024 oleh

Tags: gubernur jogjaharga tanah di jogjaJogjajogja berhati nyamanJogja Istimewaklitihumr jogjawisata jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Jika artikel saya menyinggung Anda, saya tidak peduli.

Artikel Terkait

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO
Sekolahan

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.