Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

10 Tanda Kamu Harus Berani Nekat Meninggalkan Jakarta dan Bye-bye for Good

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
30 Mei 2024
A A
10 Tanda Kamu Harus Berani Nekat Meninggalkan Jakarta MOJOK.CO

10 Tanda Kamu Harus Berani Nekat Meninggalkan Jakarta MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jakarta memang bukan untuk semua orang. Jenjang karier dan independensi bisa membunuhmu. Yuk, mari segera kita pindah aja.

Sebuah hal tidak terduga telah menyumbang trigger pada saya untuk menimbang kembali rencana hengkang dari kota ini. Ada reels yang secara brutal pakai pakem “orang gila mana-orang gila mana”. Lalu, si kreator menyematkan kalimat yang mengandung kebanggaan bahwa dia telah merantau dari Jakarta ke kabupaten. Bukan sebaliknya ya, ini ceritanya orang Jakarta asli yang berani merantau. Begini nih reels-nya:

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Farah Baharessa 🇵🇸 (@farahbaharessa)

Oleh karena ada kalimat yang begitu melawan arus di unggahan itu, komentar pun langsung dibayar kontan sama netizen. Tentu saja ada yang bilang unggahan ini nggak jelas, nggak masuk akal, atau bahkan menganggap yang bikin konten cuma caper. Tapi, nggak sedikit juga yang rela menulis 1 sampai 2 paragraf untuk mengisahkan betapa menyehatkannya meninggalkan Jakarta di kolom komen. Ya ampun saya jadi terinspirasi.

Baik teman-temanku yang budiman, mari kita sejenak menentukan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa perasaan kita kepada Jakarta sudah terkikis.

#1 Jakarta penuh sesak sampai kamu merasa tak ada lagi ruang bernapas

“Jakarta penuh sesak” adalah metafora sekaligus ungkapan denotatif yang artinya memang demikian gila. Kota ini sepi cuma di waktu Lebaran dan itu terasa sangat tidak Jakarta. Ya gimana, lha wong menyandang status sebagai salah satu perkotaan terpadat di dunia, kok. Bahkan, kalau mau spesifik dan menyentil statistik, per kilometer persegi di Jakarta kini ditempati 16.600 manusia. Iya, emang segitu.

Dengan kondisi yang luar biasa ramai, kamu bakal merasa “sesak”. Bukan hanya karena seolah kamu tak leluasa dalam dimensi ruang, tapi juga karena makin banyak orang makin banyak problem. Dimensi kebahagiaan menyempit. Persaingan di dunia kerja yang bikin makan ati, pertemanan era-era post truth, percintaan yang liar tak terkendali, dan problem-problem pusing lainnya. Kalau begini, kehidupan telah memberimu sesak napas yang nggak ada obatnya.

#2 Waktu di Jakarta berjalan terlalu cepat

Jakarta membuat saya dalam hati berdoa: Tuhan, berikan saya 8 jam tambahan dalam sehari. Sebab, waktu di kota ini berjalan begitu cepat. Ah. Apalah itu kereta Whoosh, pace kehidupan Jakarta dong… seng gada lawan. 

Jika kita cuma punya 24 jam sehari, 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk bekerja, 3 jam untuk commuting (ya maklum ini kota macet), sisanya tinggal 5 jam. Sisa waktu ini harus kita bagi untuk durasi yang-yangan, nonton drakor terbaru, baca buku biar otak nggak tumpul, scroll TikTok, dan domestikasi diri sendiri alias beberes rumah. Hashhh, mumet.

#3 Gagal irit karena digerogoti tuntutan pergaulan untuk merias diri

Receh, tapi orang-orang di Jakarta tampaknya sangat peduli dengan fesyen. Fesyen bukan isu yang simpel. Fesyen yang bagus menurut Jakartans ya fesyen yang sedang populer. Kebanyakan yang populer ya yang mahal. Bodo amat soal kualitasnya, yang penting lagi banyak diomongin.

Beberapa orang yang saya kenal lebih memilih kelaparan daripada nggak beli sepatu Adidas. Lebih memilih nggak pulang kampung daripada nggak beli New Balance. Bahkan nggak apa-apa nggak nabung yang penting tas Beyond The Vines kebeli.

Iklan

Ini nggak sepenuhnya tergantung mental individu. Masalahnya, peer pressure pergaulan Jaksel terlalu kuat akarnya. Kalau nggak sanggup, ya pilihannya cuma dua. Status sosial tidak diakui atau hengkang.

#4 Sekalipun ada Tapera, mustahil punya rumah dengan mudah di kawasan kota

Beli rumah di Jakarta bukan cuma soal mahal. Mahal itu pasti, tapi kawasan yang dekat dengan lokasi kerja terlalu sulit dicari. Kamu harus merelakan tinggal di kawasan luar seperti Tangerang, Depok, Bekasi, bahkan Bogor jika memang sudah mantap ingin menghabiskan seluruh hidup di Ibu kota. Eh, tapi sebentar lagi bukan Ibu kota siih.

Ya, sekalipun ada Tapera, mungkin baru ratusan tahun kamu bisa beli rumah di kawasan Tangerang-agak-masuk-dikit-yang-luas-dan-bangunannya-nggak-seberapa.

#5 Modus minta-minta yang makin kreatif

Jakarta diisi orang-orang kreatif yang salah arah. Seorang abang-abang pernah dengan perlahan bertanya pada saya apakah saya bisa memberinya uang untuk ongkos naik bajaj. Dia bilang kehabisan uang untuk kembali ke rumahnya. 

Saya menolak karena kebetulan memang tak bawa uang, hanya e-money untuk naik bus. Meski begitu, ada perasaan bersalah yang membuat saya berdoa, semoga abang-abang tadi ditolong dan berhasil pulang ke rumahnya.

Sialnya, pada hari lain, di lokasi yang sama dan orang yang sama, abang-abang itu kembali meminta uang dengan alasan yang sama. Dalam hati saya pikir, kreatif nggak ketulungan orang-orang Jakarta. Perkara minta-minta bisa bikin skenario drama. Jika kamu terlalu baik, Jakarta bukan buatmu.

Baca halaman selanjutnya: Jakarta memang not for everyone. Pindah saja kalau tak lagi betah.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2024 oleh

Tags: bekasibogordepokGIjakartasarinahTangerang
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO
Cuan

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.