Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mati Listrik Jakarta Masih Diinvestigasi, Kenapa PLN Malah Potong Gaji Karyawan?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
7 Agustus 2019
A A
PLN
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setelah PLN dikecam akibat mati listrik Jakarta berjam-jam, PLN lagi-lagi kena kecam karena rencana kurangi gaji karyawan.

Sial benar nasib Sripeni Inten Cahyani, belum juga tiga hari kerja menjabat sebagai Plt Direktur Utama Listrik Negara (PLN) tugas pertamanya justru menjawab komplain bertubi-tubi sekaligus kecaman masyarakat. Sebabnya jelas, mati listrik Jakarta selama berjam-jam.

Iklan

Bayangkan saja. Hari Jumat (2/8) Sripeni Inten Cahyani baru menjabat, hari Minggu (4/8) dirinya sudah dihampiri Presiden Jokowi dan langsung dimarahin. Ibarat anak Ospek di kampus, Inten Cahyani ini kayak mahasiswa baru yang alpa bawa penugasan lalu langsung kena semprot senior.

Tapi memang begitulah tekanan yang ditimpakan ke orang sekelas Plt Direktur PLN. Wajar kalau pelanggan komplain dan dirinya bertanggung jawab. Bahkan kalau perlu Intan Cahyani harus siap pasang badan.

Praktis kalau pekerjaan Inten Cahyani selama beberapa hari ini hanya berputar pada persoalan klarifikasi dan klarifikasi. Apalagi sebab mati listrik Jakarta yang banyak bikin orang ngamuk-ngamuk itu belum diketahui secara pasti.

Sebelum PLN berhasil menemukan sebab mati listrik Jakarta, Dahlan Iskan dalam web pribadinya menyebut bahwa satu pohon sengon dicurigai merupakan salah satu sebab listrik seluruh Jakarta padam.

Tentu saja kita terheran-heran menyaksikan “tudingan” Dahlan Iskan ini. Apalagi posisi pohon sengon ini berada di Gunung Pati, Semarang. Bagaimana mungkin pohon sengon yang ada di Semarang bisa bikin mati listrik Jakarta berjam-jam?

Dahlan Iskan lalu menjelaskan bahwa Pembangkit Listrik untuk memasok kebutuhan Jakarta berada di Jawa Timur, tepatnya di Paiton. Setiap detik, ada pengiriman listrik dari Jawa Timur ke Jakarta. Dan listrik dengan daya sebesar itu dikirim lewat SUTET yang melintasi Pulau Jawa.

Ada dua SUTET yang mengirimkan listrik dari Jawa Timur ke Jakarta. Pertama di jalur utara, kedua di jalur tengah. Kebetulan saat di jalur tengah sedang ada perbaikan, pengiriman listrik lalu dibebankan semuanya ke SUTET di jalur utara. Sial, di saat itulah di SUTET jalur utara ada satu pohon sengon yang tingginya menyentuh kabel SUTET. Lalu yang terjadi? Mati listrik Jakarta.

Tentu saja analisis ini sempat menyebar ke mana-mana. Apalagi yang mengemukakan pendapat adalah seorang Dahlan Iskan. Sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara BUMN—meski hanya sebagai pengganti.

Apalagi penjelasan Dahlan Iskan sangat mudah dimengerti masyarakat. Enak dibaca dan mudah dicerna oleh orang yang tidak paham masalah listrik. Ini belum dengan pertanyaan-pertanyaan kritis Dahlan soal patroli PLN terhadap SUTET yang sebenarnya sudah dilakukan secara berkala.

Mendapati “bantuan analisis” dari Dahlan Iskan ini, Intan Cahyani sebagai Plt Dirut PLN membantahnya serta merta. Menurutnya, keberadaan pohon sengon di Gunung Pati, Semarang, bukan menjadi penyebab utama.

“Jadi kalau persoalan pemadaman listrik kemarin, (pohon) itu bukan penyebab kita, jadi mohon izin berikan kami waktu untuk melakukan investigasi untuk melakukan assessment menyeluruh,” kata Intan Cahyani.

Dalam proses investigasi ini pula PLN berencana akan membayar ganti rugi ke 21,9 juta pelanggan. Total kerugian karena mati listrik Jakarta ini mencapai 839,88 miliar. Besar sekali. Kalau nilai itu diwujudkan dalam bentuk korban kambing Idul Adha, uang sebanyak itu bisa mendapat 209.870 kambing (asumsi per kambing 4 juta) atau 55.992 sapi (asumsi per sapi 15 juta).

Iklan

Masalahnya, pembayaran yang akan dipakai sebagai uang ganti rugi ini tidak bisa dianggarkan dari APBN. Bisa jadi masalah besar kalau membebankan negara pada persoalan seperti ini. Kena KPK semua nanti. Maka jalan yang diambil adalah ganti rugi diambil murni dari “kas” PLN sendiri.

Untuk itu pemotongan gaji karyawan direncanakan. Bukan semata-mata sebagai hukuman ke diri sendiri, melainkan memang untuk cari duit ganti rugi. Kayak korek-korek duit kas kumpulan karang taruna kampung mungkin. Hm, ternyata sesederhana itu ya.

Gaji yang dipotong pun bukan gaji pokok, melainkan insentif kesejahteraan. Dan kebijakan ini tidak hanya menyasar ke karyawan di lapangan, tapi juga akan berdampak pada gaji direksi. Hal ini dilakukan karena PLN memang tidak bisa menutup ongkos kompensasi yang akan mereka berikan senilai hampir 1 triliun tadi.

“Di PLN itu ada merit order. Kalau kerjanya nggak bagus, potong gaji. P2 yang diperhitungkan. P2 ini kalau prestasi dikasih kalau nggak dikasih. Kayak gini nih kemungkinan kena semua pegawai,” kata Djoko Rahardjo Abumanan, Direktur Pengadaan Strategis II PLN.

Semakin apes lagi bagi Intan Cahyani. Belum juga seminggu bekerja sebagai Plt Dirut PLN, dirinya sudah kena semprot Presiden Jokowi, kena kecam sana-sini, sampai di akhir bulan nati juga ikut kena potong gaji.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2019 oleh

Tags: Dirut PLNmati listrik JakartaPLN
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO
Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
regu khusus PLN pekerjaan paling berisiko di dunia
Geliat Warga

Mengikuti Regu Khusus PLN, Pengendali Listrik yang Jadi Salah Satu Pekerjaan Paling Berisiko di Dunia

19 Januari 2023
Kepala Banggar DPR meluruskan penghapusan daya listrik 450 VA Mojok.co
Kilas

Ketua Banggar DPR Meluruskan Penghapusan Daya Listrik 450 VA

19 September 2022
listrik mojok.co
Ekonomi

Daya Listrik 450 VA Bakal Dihapus, Dinaikkan Jadi 900 VA

13 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.