MOJOK.CONggak usah terintimidasi dengan kampanye nikah muda. Definisi usia “muda” bisa berubah seiring dengan konteks lingkungannya kok.

Nikah muda memang belakangan jadi tren. Terutama kampanye gerakan anti-pacaran dan tren ta’aruf yang mulai masif di media sosial yang sering nongol di linimasa saya.

Harus diakui, rabi usia muda seolah mendobrak kebiasaan anak muda perkotaan di Indonesia. Menghabiskan masa muda saat usia awal 20-an, lalu nikah di usia jelang 30-an tahun. Pas saja rasanya.

Akan tetapi, sebelum pembahasan ini menjauh ke mana-mana, saya mohon jangan masukkan definisi nikah muda di bawah usia 18 tahun. Dalam banyak kasus, rabi di bawah usia 18 tahun bukan termasuk muda, tapi nikah dini. Bahkan secara perundang-undangan, hal itu menyalahi aturan di Indonesia.

Memang betul, pada 2019 lalu, UU Perkawinan masih menyebut bahwa pernikahan bisa dilakukan pada usia 19 tahun (untuk laki-laki) dan perempuan (16 tahun). Namun untungnya UU ini bisa dibenturkan dengan UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa usia di bawah 18 tahun masih tergolong anak-anak.

Pertanyaan besar bagi saya kemudian, memang pada usia berapa kita sebaiknya menikah?

Ada banyak aspek yang bisa kita gunakan untuk menjawab pertanyaan ini.

Kalau dari jurnal, penelitian, maupun survei yang berkembang selama ini, kita bisa mengerucut pada usia 20-an tahun ke atas.

Baca juga:  Stigma Perempuan Madura kalau Nggak Kunjung Menikah

Jika kamu mau mengacu pada aspek psikologis dan kematangan mental, studi yang dikeluarkan oleh Journal of Social and Personal Relationship menyarankan untuk menikah di atas 25 tahun. Untuk angka pasti, 27 tahun pada perempuan dan 29 tahun pada laki-laki.

Meski begitu, kita masih bisa berdebat soal batasan yang dikeluarkan lembaga ini. Sebab, yang namanya urusan psikologis dan mental itu kan sifatnya sangat cair. Seseorang bisa terlihat tua dari fisik, tapi mentalnya masih anak-anak, atau bisa jadi sebaliknya.

Tidak cocok dengan patokan mental? Kamu bisa pakai patokan kedua, yakni kematangan fisik.

UNICEF pernah merilis bahwa secara fisik, perempuan yang mengandung dan melahirkan idealnya berada pada usia 20-25 tahun. Jika seorang perempuan melahirkan di bawah usia 20 tahun, risiko kematiannya akan semakin meningkat seiring dengan semakin muda usianya.

Artinya, untuk rentang usia pada kategori ini: 20-25 tahun untuk perempuan dan 25-30 tahun untuk laki-laki. Itu patokan pada fisik.

Patokan ketiga: lingkungan.

Definisi menikah muda akan sangat cair pada patokan ini. Semua tergantung pada kacamata lingkungan seperti apa yang mau dipakai.

Sebagai contoh saja. Saya menikah pada usia 25 tahun. Di tradisi pernikahan keluarga saya, itu adalah usia ideal. Plus juga ideal menurut UNICEF dan beberapa hasil jurnal. Asek.

Meski begitu, kalau kamu tanya di lingkungan teman-teman saya di pesantren, maka usia saya agak “telat”. Tidak terlalu telat, tapi cukup telat. Sebab teman-teman saya di pesantren rata-rata menikah pada usia 23 tahun.

Baca juga:  Inilah Rasanya Jadi Orang yang Tidak Punya Hobi

Jadi merupakan pemandangan lumrah ketika saya menikah teman-teman sebaya saya datang sambil menggendong satu atau dua anak.

Dalam hal ini kamu perlu tahu kalau kebanyakan teman-teman pesantren saya memang besar dan lahir di lingkungan pedesaan. Usia 25 tahun ke atas dalam lingkungan semacam ini sering sudah dianggap sudah masuk extra time untuk usia menikah.

Kacamata ini lantas akan bergeser ketika berada di lingkungan teman-teman saya di kampus. Bergaul dengan anak-anak muda di Jogja, dengan pilihan akses pendidikan maupun karier yang lebih luas, harus diakui range usia menikah pun tiba-tiba jadi melar.

Hal ini saya sadari karena saya termasuk orang pertama yang menikah di pergaulan teman-teman kampus. Ketika saya sudah jadi suami seseorang, teman-teman saya masih suka nongkrong, main PS, main ke gunung, wisata ke mana, bikin acara aneh-aneh.

Itu hal yang sedikit menganggu memang. Terutama kalau mau izin ngopi ke kafe, saya harus minta SKCK ke istri dulu dan tentu ada masa berlaku. Kalau mau ngopi lagi ya harus legalisir lagi.

Dan dari lingkungan seperti ini, teman-teman kampus sering menyebut saya adalah “korban” dari praktik nikah muda. Meski bagi saya, itu lebih terdengar pujian ketimbang bulian.

Dari ragam patokan yang saya ceritakan barusan, setidaknya saya punya kesimpulan sederhana mengenai usia ideal menikah seseorang. Jika memang bisa, ada baiknya sesuaikan dengan tradisi keluarga dan lingkungan terdekat. Kecuali kalau kamu cukup punya kekuatan untuk melawan tradisi itu, ya monggo saja.

Baca juga:  Debat Mencuci Pembalut VS Buang Langsung Adalah Hasil Konspirasi Turun-temurun

Sebab, daripada mengkhawatirkan pada usia berapa kita menikah, lebih baik konsentrasi pada usia pernikahan saja. Percuma menikah muda tapi risiko jadi janda muda jadi terbuka, pun nggak apa-apa nikah di usia tua tapi awet sampai jadi tua bangka.

Namun sebelum itu semua, pastikan dulu… kamu mau menikah sama apa, eh, siapa?

BACA JUGA Yang Bermasalah dari Kampanye Nikah Muda ala Ukhti Mega dan tulisan POJOKAN lainnya.