MOJOK.COAlam di Jogja memang kayak didesain untuk memudahkan orang agar bisa tahu mana utara mana selatan. Bikin kami jadi terbiasa memahami arah mata angin.

“Woy, Mas! Kalau ngasih patokan jangan pakai utara selatan gitu, bingung saya. Pakai patokan kanan atau kiri aja,” kata abang ojek online (ojol) yang jemput saya di depan Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan beberapa tahun lalu.

Saya kaget karena abang ojol ini ngegas begitu. Meski kalau dipikir-pikir lagi, ya wajar sih kalau ngegas, lha gara-gara saya juga kasih patokan arah mata angin ke si abang ojolnya. Bukannya jadi gampang, si abang ojol malah jadi bingung sendiri cari posisi saya.

Memang betul si abang ojol bisa cari saya di titik penjemputan, tapi karena ingin mempermudah pencarian, saya coba kirim chat dan memberinya arah yang spesifik.

“Sebelah selatan jembatan penyeberangan ya, Pak? Di utaranya perlintasan kereta api,” ketik saya waktu itu.

Sebagai orang Jogja yang baru beberapa bulan di Jakarta, kebiasaan menggunakan arah mata angin sudah ada di kepala saya sejak kecil. Jadi ketika saya gede dan merantau di kota lain, hal yang harus saya pahami lebih dulu adalah soal mata angin. Sudah jadi naluri aja gitu.

“Sori, Pak. Kebiasaan di kampung, hehe,” kata saya cengengesan usai diomelin si abang ojol.

Lalu saya ceritakan pengalaman ini ke teman saya yang asli Jakarta. “Masa orang Jakarta asli nggak bisa bedain utara selatan di Jakarta sih? Aneh banget,” kata saya ke teman saya.

Terang saja, saya gantian kena semprot teman saya. Katanya, upaya saya untuk mempermudah dengan sok-sok ngasih navigasi mata angin begitu, justru mempersulit bagi orang lain. Saya jadi paham, kalau ternyata nggak semua daerah di Indonesia itu terbiasa dengan patokan mata angin.

Protes semacam ini sebenarnya juga sudah saya dengar bertahun-tahun sebelumnya dari teman-teman saya yang merantau ke Jogja—entah untuk kerja, entah untuk kuliah.

Katanya, “Orang di sini kok ngasih arah pakai utara selatan gitu dah? Ribet amat. Kanan kiri aja kenapa sih? Heran deh, orang Jogja kok jago-jago amat sama navigasi beginian?”

Saya sendiri tidak paham, gimana sejarahnya orang Jogja selalu menggunakan arah mata angin. Mungkin tak semua orang Jogja juga sih, tapi kalau kamu ke Jogja, dan tanya jalan ke orang, kemungkinan besar kamu akan mendengar dialog seperti ini, “Nanti kalau ketemu Tugu Jogja, sampeyan ke selatan aja, Mas. Habis itu ke barat. Bla-bla-bla.”

Baca juga:  Wisata di Jogja Dengan Uang 50 Ribu Bisa Dapat Apa Saja?

Sekali lagi. Niat hati si orang ini tentu baik, ingin memberi arahan yang lebih spesifik, tapi kalau orang asing ini baru pertama kali ke Jogja dikasih navigasi serumit itu ya bakal puyeng juga lah. Tugu Jogja di mana juga belum tentu paham kok. Ini malah ngasih-ngasih arah selatan sama barat segala lagi.

Tapi setidaknya, saya bisa berbagi kenapa orang-orang Jogja (dan yang sudah lama tinggal di Jogja) punya kebiasaan seperti itu. Selain karena untuk tahu mana arah salat, alam di Jogja memang kayak udah didesain untuk memudahkan orang agar bisa tahu mana utara mana selatan. Paling tidak, bisa tahu mana arah utara lebih dulu.

Memang patokan arah utara di Jogja itu apa? Yaktul, Gunung Merapi.

Gunung Merapi merupakan ujung utara dari Provisinsi Yogyakarta. Jadi kalau kamu ada di daerah Jogja dan melihat ada gunung besar, nah itu patokan arah utara. Tak perlu khawatir terdistorsi sama gunung yang lain, soalnya cuma itu satu-satunya gunung di Yogyakarta (oh iya Gunung Kidul itu bukan gunung ya, itu bukit). Simpel banget kan?

Dengan hanya tahu mana utara, kami orang Jogja secara otomatis akan paham, mana barat dan mana timur. Oh, kalau badan saya menghadap Gunung Merapi, berarti tangan kanan saya adalah timur dan tangan kiri saya adalah barat, sedangkan pantat saya adalah selatan. Udah gitu doang.

Lalu gimana saya bisa paham patokan mata angin di Jakarta seperti di awal cerita tadi?

Ini juga sederhana sebenarnya. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Ketika berada di tempat asing, hal pertama yang harus saya ketahui adalah arah mata angin. Kalau sampai saya berada di lokasi yang tidak bisa tahu mana arah mata angin, rasanya saya insecure banget. Kayak hidup ini jadi terancam.

Kalaupun nyasar di jalan, paling tidak saya tidak pernah melepaskan bayangan navigasi mana utara mana selatan—kebiasaan yang tidak dilakukan saya juga, tapi teman-teman dan seluruh keluarga juga. Kebiasaan yang sudah dilakukan jauh sebelum ada Google Maps.

Itu pula yang saya lakukan ketika mendarat di Jakarta. Hal yang ada di pikiran saya sebelum mencari rute jalan ke kantor dari kos-kosan dengan melewati macet adalah, “mana nih utara dan selatannya?” Padahal tidak ada tanda alam yang gampang kelihatan di Jakarta kayak Gunung Merapi di Jogja.

Baca juga:  Vindrasu, Pamityang2an dan Senja di Matamu

Kebetulan Pemprov DKI Jakarta kayak mendesain kotanya begitu mudah untuk dihafal navigasinya bagi orang dari daerah seperti saya. Patokan saya untuk arah di Jakarta adalah lintasan rel KRL yang menghubungkan Jakarta sampai Bogor.

Jalurnya yang relatif lurus membujur dari utara ke selatang ini gampang banget nyangkut di kepala saya. Jadi, jika di Jogja saya punya Gunung Merapi, di Jakarta saya punya rel KRL jurusan Jakarta-Bogor. Jadi kalau ada di sebelah kiri KRL (dari arah Bogor) itu barat, kalau di sebelah kanan itu timur. Simpel.

Masalahnya adalah, rel KRL di Jabodetabek tidak cuma Jakarta-Bogor. Ada juga arah Bekasi, ada juga arah Tangerang, dan ada juga arah Serpong. Ini memusingkan saya kalau berjalan terlalu jauh dari jalur rel KRL Jakarta-Bogor. Soalnya jalanan di Jakarta itu jauh lebih rumit dihafal ketimbang di Jogja.

Masalah yang lain akhirnya muncul. Karena kebiasaan meletakkan arah mata angin di kepala saya sejak kecil, saya suka kesulitan kalau melihat rute KRL Jabodetabek yang dipajang di atas pintu kereta atau stasiun. Bagi saya rute itu malah bikin pusing.

Niatnya sih jelas mempermudah, tapi karena tidak ada patokan mana yang ke arah selatan, mana yang ke arah utara, melihat rute itu malah bikin saya bingung. Meski saya turun di stasiun yang tepat, tapi kan saya belum tentu tahu arah. Makanya saya tetap saja bingung.

Ini lho, bentuk gambar rute yang saya maksud:

Kalau lihat rute itu, ingin rasanya saya ngegas ke petugas KRL-nya, “Woy, Pak! Kalau ngasih patokan jangan pakai titik-titik ginian dong, bingung saya. Pakai patokan peta yang ada utara atau selatan aja gimana sih?”

Lalu petugas KRL dalam imajinasi saya cuma balas, “Sori, Pak. Kebiasaan di sini, hehe.”

Kemudian saya segera sadar, ini bukan soal siapa yang lebih jago navigasi, ini cuma soal siapa yang lebih jago adaptasi.

BACA JUGA Mencintai Jogja dengan Segenap Kemacetannya atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles