Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mencintai Jogja dengan Segenap Kemacetannya

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
10 Maret 2019
A A
Jalan kaliurang dan jalan macet lain di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi hidup di Jogja berhadapan dengan kemacetan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jogja memang tidak seindah FTV. Apa yang digambarkan oleh FTV SCTV tentang Jogja, yang selalu menampakkan Jogja sebagai kota yang adem, ayem, tenang, tidak macet, enak buat yang2an, dan sebagainya itu pada satu titik adalah palsu belaka. Para penonton nggak tahu, kalau aktor-aktris FTV itu lagi pada syuting, ada petugas khusus yang tugasnya memang ngosongin jalan atau mengkondisikan sekitar agar tidak semrawut.

Mau banyak orang yang bilang bahwa Jogja itu manis, Jogja itu penuh kenangan, Jogja itu angkringan, atau Jogja itu kamu, semua itu tak akan mengubah kondisi bahwa Jogja sekarang macetnya ngaudubillah setan.

Penyebabnya salah satunya tentu saja adalah orang-orang kayak saya ini. Orang-orang yang datang ke Jogja, merasa nyaman di Jogja, kemudian nggak mau balik ke tempat asalnya dan lebih memilih tinggal di Jogja.

Orang-orang yang menjalani hidup seperti itu tentu saja jumlahnya banyak. Dari 100 orang yang datang ke Jogja untuk kuliah, yang balik lagi ke asalnya begitu lulus paling cuma 60-70, sedangkan 30-40 sisanya memilih tinggal di jogja, bekerja, berproses, beranak pinak, sampai kemudian sah menjadi bagian dari Jogja.

Jumlah penduduk Jogja makin banyak. Pertumbuhannya masif. Tanah Kaliurang atas yang konon dulu sepi sekarang menjadi rebutan banyak orang. Jalanan yang dulu bahkan sampai bisa buat main sepakbola saking minimnya kendaraan yang lewat sekarang bahkan sampai harus dibikinkan lampu merah saking banyaknya kendaraan yang lewat.

Banyak orang, banyak bisnis, banyak kendaraan. Itu hukum alam.

Macet tak bisa dimungkiri memang sudah menjadi bagian dari keluarga besar Jogja. Dan selayaknya bagian dari keluarga, ia juga harus diperlakukan dengan adil dan bijak. Jangan dikucilkan.

Menikmati macet di Jogja punya sensasi yang unik ketimbang menikmati macet di kota-kota lain. Jogja yang memang dianggap sebagai salah satu pusat Jawa masih punya banyak orang-orang yang menjunjung tinggi nilai tepo-seliro. Tenggang rasa masih hidup di Jogja. Yah, walau entah akan sampai kapan matinya.

Dalam kemacetan Jogja, kau bertemu dengan pengendara-pengendara goblok yang sudah tahu macet tapi masih tetap saja ngloksan-nglakson. Yang tak tahu bahwa arti lampu hijau adalah jalan, bukan nglakson. Macet bukan saja melambatkan kendaraan mereka, tapi juga melambatkan kerja otak mereka.

Namun demikian, dalam kemacetan Jogja, kau juga bisa berjumpa dengan pengendara-pengendara yang saling meminta dan menerima maaf sembari menyunggingkan senyum saat kendaraan mereka menyenggol dan tersenggol kendaraan lain. Mereka sadar, bahwa dalam macet, bersenggolan adalah hal yang lumrah. Macet memang menyempitkan jangkauan kendaraan mereka, tapi sekaligus juga melapangkan hati mereka.

Mari mencintai Jogja dengan apa saja yang melekat pada dirinya. Jangan hanya mencintai Jogja karena angkringannya atau kenangannya. Namun cintailah Jogja juga karena macetnya.

Sebab pada akhirnya, kemacetan Jogja juga memberikan banyak hal bagi manusia-manusia di dalamnya.

Memberikan kesabaran bagi penduduknya. Memberikan alasan untuk tak perlu cepat-cepat punya mobil bagi para warganya. Memberikan rejeki bagi penjaja koran. Juga memberi ruang untuk menjual bunga bagi para mahasiswa yang sedang kekurangan atau ingin mengumpulkan dana.

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2019 oleh

Tags: Jogjakemacetan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO
Sosok

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Penjelasan Kemendiktisaintek soal pengubahan program studi (prodi) Teknik menjadi Rekayasa MOJOK.CO

Mengubah Nomenklatur Prodi Teknik Jadi Rekayasa, Apa Tujuannya?

16 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.